Warga +62 Diminta Tak Makan Aren Langsung dari Pohon, Waspada Virus Nipah

Nasional

Warga +62 Diminta Tak Makan Aren Langsung dari Pohon, Waspada Virus Nipah

Suci Risanti Rahmadania - detikKalimantan
Senin, 02 Feb 2026 19:00 WIB
Blood samples tube with sample for Nipah virus test. Blood samples isolated on white background for Nipah virus test.
Nipah virus/Foto: Getty Images/Fania Witardiana
Balikpapan -

Kemenkes meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap virus nipah. Walau hingga saat ini, belum ada kasus pada manusia di Indonesia.

Dikutip detikHealth, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami menjelaskan virus nipah merupakan penyakit zoonotik yang memiliki inang pada kelelawar buah.

Virus ini dapat menular melalui perantara hewan lain (seperti babi) melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus (misalnya buah atau nira).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Murti juga memaparkan hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada inang alami kelelawar buah (Pteropus sp.) yang menandakan potensi sumber penularan di Indonesia.

"Penularan antarmanusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinis bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis (peradangan) yang dapat berakibat kematian," ujar Murti melalui keterangan resmi Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kewaspadaan Terhadap Virus Nipah pada 30 Januari 2026.

Sebagai langkah kewaspadaan terhadap penyakit yang ditimbulkan akibat virus nipah, Murti mengimbau agar tidak mengkonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengkontaminasi sadapan aren atau nira pada malam hari.

"Oleh karena itu, sebelum mengkonsumsi aren/nira, sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Kemudian, cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar," tuturnya.

"Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa," kata Murti.

Baca selengkapnya di sini.




(sun/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads