Banjir Rob Rendam Tarakan Barat, Warga Resah Aspal-Motor Rusak

Banjir Rob Rendam Tarakan Barat, Warga Resah Aspal-Motor Rusak

Oktavian Balang - detikKalimantan
Selasa, 03 Feb 2026 21:34 WIB
Kondisi banjir rob di Jalan Gajah Mada, Tarakan Barat. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Foto: Kondisi banjir rob di Jalan Gajah Mada, Tarakan Barat. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Tarakan -

Banjir rob atau air pasang laut kembali menggenangi sejumlah titik di wilayah Tarakan Barat, Kalimantan Utara pada Selasa (3/2/2026) malam. Ketinggian air yang merendam badan jalan utama membuat aktivitas warga terganggu dan merusak kendaraan.

Berdasarkan pantauan detikKalimantan di lokasi, genangan air cukup parah terjadi di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Rejo, Tarakan Barat. Di pertigaan menuju Jembatan Bongkok atau di kenal dengan kawasan Mangrove, ketinggian air mencapai betis hingga lutut orang dewasa, khususnya di wilayah RT 21, RT 32, dan RT 35.

Sementara itu, di daerah rawan banjir lainnya seperti Kelurahan Selumit Pantai dan sekitarnya, air tidak naik menggenangi jalan, hanya membawa tumpukan sampah yang hanya menggenang di permukaan air.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga RT 21 Kelurahan Karang Rejo, Tajuddin, mengaku resah dengan kondisi banjir rob yang terus berulang. Menurutnya, kondisi ini bukannya membaik, namun justru semakin parah dari tahun ke tahun.

"Kami sebagai warga sangat resah. Jalan ini tenggelam sampai setengah meter. Ketinggian air ini bukan makin tahun makin turun, tapi justru bertambah tinggi," ujar Tajuddin kepada detikKalimantan di lokasi.

Tajuddin menyebut dampak banjir rob ini sangat merugikan warga. Selain air masuk ke dalam rumah, banyak kendaraan warga yang mengalami kerusakan akibat nekat menerobos genangan air asin tersebut.

Kondisi banjir rob di Jalan Gajah Mada, Tarakan Barat. (Oktavian Balang/detikKalimantan)Kondisi banjir rob di Jalan Gajah Mada, Tarakan Barat. (Oktavian Balang/detikKalimantan)

"Motor-motor warga sering macet, bahkan mengalami kerusakan karena berkarat. Ini juga membahayakan pengendara karena nekat lewat air yang sangat dalam," ungkapnya.

Tak hanya itu, aktivitas anak sekolah pun terhambat. Jika air pasang terjadi di pagi hari, anak-anak terpaksa melepas sepatu dan berjalan kaki menerobos banjir. Infrastruktur jalan pun mulai rusak parah.

"Aspalnya sudah terbongkar-bongkar sampai dalam, sudah rusak," tambahnya.

Tajuddin berharap Pemerintah Kota Tarakan, khususnya Wali Kota, segera turun tangan. Ia meminta agar jalan sepanjang kurang lebih 500 meter tersebut segera ditinggikan atau diuruk serta drainasenya diperbaiki.

"Solusinya ini memang harus dipondasi sampingnya, drainasenya diangkat, kemudian diuruk paling tidak setengah meter. Kami sudah sampaikan lewat media sosial ke pemerintah, tapi sampai saat ini belum ada realisasi," ujar dia.

Sementara itu Ketua RT 21 Kelurahan Karang Rejo, Naskar, membenarkan bahwa banjir rob di wilayahnya kini semakin tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Naskar menyebut fenomena ini bergantung pada tabel pasang surut air laut.

"Saya di sini sejak tahun 1995. Dulu waktu awal-awal, 'air 35' (kode ketinggian air pasang) itu belum begini kondisinya, tidak acap (tenggelam). Tapi lama-kelamaan, makin ke depan 'air 35' sudah seperti ini keadaannya," jelas Naskar.

Menurut Naskar, banjir kali ini diperkirakan sudah mulai surut dibanding hari sebelumnya. Meski dianggap peristiwa alam biasa, ia mengakui jika pasang air laut sedang tinggi ('air 36'), genangan bisa lebih dalam lagi.

"Kalau kondisi air ya boleh dikatakan meningkat. Kalau dulu air 35 zaman dulu enggak acap, sekarang acap. Bahkan di depan mangrove itu lebih parah, kayak sungai," pungkasnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads