Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nunukan merespons video viral seorang siswa SMP yang berorasi menuntut perbaikan jalan berlumpur di perbatasan Indonesia-Malaysia, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kepala Dinas PUPR Nunukan, Abdi, menyebut tuntutan pelajar tersebut merupakan ungkapan kebutuhan dasar masyarakat akan aksesibilitas.
Abdi menjelaskan, ruas jalan yang dimaksud yakni segmen Long Bawan, Lembudud, hingga perbatasan Malinau berstatus Jalan Nasional yang perbaikan dan pengerjaannya berada di bawah pemerintah pusat melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).
"Hampir semua orang di Krayan tahu bahwa itu ruas jalan nasional. Kami harus bersinergi dengan pemerintah pusat, dalam hal ini ada Balai yang menangani," ujar Abdi kepada detikKalimantan, Selasa (3/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski bukan kewenangan langsung pemerintah daerah, Abdi memastikan Pemkab Nunukan tidak tinggal diam. Ia berjanji bakal segera menghubungi pihak Balai untuk mencari solusi cepat, mengingat kondisi jalan sangat memprihatinkan dan mengganggu akses pendidikan anak-anak.
"Mudah-mudahan 1-2 hari ke depan saya akan menghubungi pihak Balai supaya memberikan solusi seperti apa konektivitas masyarakat, khususnya anak-anak kita yang ada di video itu," ucap Abdi.
"Kami sarankan supaya dikondisikan dua arah. Satu arah dari Malinau menuju Utara (Binuang), dan satu anggaran juga menangani dari arah Long Bawan ke Selatan. Moga-moga itu bisa terealisasi untuk mempercepat," tambahnya.
Video aksi siswa SMP di perbatasan Indonesia-Malaysia viral di media sosial. Ia berorasi di tengah jalan berlumpur tanpa mengenakan alas kaki Sabtu (31/1/2025). Foto: Istimewa |
Selain mendorong percepatan jalan nasional, Abdi memaparkan bahwa APBD Kabupaten Nunukan Tahun 2026 telah mengalokasikan anggaran signifikan untuk infrastruktur di Krayan. Total alokasi untuk Bina Marga, jembatan, dan pengairan di wilayah tersebut mencapai sekitar Rp 50 miliar.
"Untuk Krayan Raya, porsi APBD kita (Bina Marga) itu kurang lebih Rp 32,9 miliar. Ditambah jembatan dan pengairan, total jatuhnya sekitar Rp 50 miliar, termasuk program Pak Bupati untuk ekskavator," rincinya.
Sebelumnya diberitakan, sebuah video memperlihatkan siswa SMP bernama Gilbert Christian, melakukan orasi di tengah jalan berlumpur pada Sabtu (31/1). Ia berdiri di ruas jalan antara Pa' Kebuan dan Long Umung. Kondisi jalan tampak sangat memprihatinkan, hanya berupa tanah liat yang becek dan berlubang dalam.
Kondisi itu memaksa Gilbert melepas sepatunya agar bisa berdiri stabil saat berorasi. Aksi itu didampingi belasan warga Krayan Timur yang mengenakan atribut adat Dayak Lundayeh.
Dalam aksinya, siswa kelas 2 SMP Negeri 1 Krayan Timur itu lantang menyuarakan isi hati masyarakat Krayan, Kalimantan Utara. Ia menegaskan bagi para pelajar di wilayah perbatasan, perbaikan infrastruktur jauh lebih mendesak ketimbang program makan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah.
"Kami tidak membutuhkan makanan bergizi gratis, melainkan membutuhkan perbaikan jalan!" seru Gilbert.
(aau/aau)
