Kasus meninggalnya siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus memunculkan fakta-fakta baru yang membuat miris. Setelah diketahui alasan korban mengakhiri hidup karena tak mampu beli buku dan pena, diketahui juga bahwa selama ini korban kerap dipungut uang sekolah sebesar Rp 1,2 juta.
Dilansir detikBali, siswa berinisial YBR itu dipungut uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun. Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMDP3A) Ngada, Veronika Milo.
Menurut Veronika, orangtua YBR mencicil pembayaran selama setahun. Untuk tahun ajaran ini, orangtua YBR sudah membayar sebesar Rp 500 ribu di semester pertama. Sisa Rp 720 ribu perlu dibayarkan di semester kedua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu hanya untuk kelas 4. Itu bukan dikatakan tunggakan karena dia masih tahun berjalan. Di sekolah itu bayarnya cicil, tahap pertama semester satu sebesar Rp 500 ribu dan itu sudah mereka lunasi. Jadi untuk semester 2 ini membayar yang sisanya ini (Rp 720 ribu)," terang Veronika, Rabu (4/2/2026) malam.
Hal ini diketahui Veronika setelah ia dan timnya menemui kepala sekolah dan guru YBR pada Selasa (3/2/2026). UPTD PPA DPMDP3A juga bertemu dengan keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal YBR untuk menggali lebih dalam tentang kasus ini.
Salah satu yang dikroscek oleh tim Veronika adalah kabar YBR diusir dari sekolah jika belum melunasi uang sekolah. Dari hasil pemeriksaan, Veronika memastikan hal itu tidak ada. Namun, pihak sekolah mengumpulkan para siswa untuk menyampaikan informasi tentang cicilan kepada orangtua masing-masing.
"Itu yang kami kroscek ke sekolah apakah ada, misalnya kita ini budaya Flores ini usir (karena) uang sekolah, itu yang kami tanyakan ke pihak sekolah apakah ada begitu. Tetapi jawaban pihak sekolah, itu bersifat informasi," katanya.
Anak-anak biasanya dikumpulkan sepulang sekolah untuk diberitahu tentang cicilan tersebut, termasuk YBR. Umumnya siswa sekolah tersebut berasal dari keluarga tidak mampu sehingga diberi opsi cicilan untuk membayar uang sekolah.
"Kumpulkan anak-anak jam pulang sekolah, setiap hari itu dilakukan. Kalau ada, disampaikan kepada orang tua kalau ada uang dicicil karena dia punya itu masih Rp 720 ribu. Dia punya total keuangan itu ada Rp 1.220.000, yang sudah dibayarkan Rp 500 ribu, sisanya Rp 720 ribu," ujar Veronika.
"Sekolah itu bersifat informatif dilakukan secara terus-menerus, disampaikan kepada anak-anak supaya disampaikan kepada orang tua kalau ada uang. Karena mereka di sana rata-rata keluarga tidak mampu, jadi harus disampaikan, ada Rp 10 ribu, Rp 20 ribu bawa, berapapun yang ada bawa supaya meringankan," sambungnya.
Baca selengkapnya di detikBali.
(des/des)
