Warga Gang Kencana Lestari 2, Jalan Tabrani Ahmad, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) membuktikan bahwa budidaya ikan lele dan nila di kawasan permukiman dapat dilakukan tanpa bau dan limbah. Melalui kegiatan gotong royong sejak 2020 ini, warga meraup untung untuk dana kas.
Warga setempat yang menamakan diri dengan sebutan Kelompok Usaha Rumahan Bioflok itu, mengembangkan budidaya ikan dengan sistem bioflok zero waste. Lahan kosong dan sebagian halaman rumah warga disulap menjadi kolam komunal yang produktif dan ramah lingkungan.
Salah satu penggagas budidaya, Alif, mengatakan sistem bioflok memungkinkan ikan dipelihara di lahan terbatas dengan penggunaan air yang minim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bakteri pembentuk flok mengolah limbah dari kotoran ikan dan sisa pakan menjadi protein mikroba yang kemudian dimakan kembali oleh ikan," kata Alif, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, metode ini membuat kualitas air kolam tetap terjaga tanpa perlu penggantian air secara rutin saat panen.
"Kami hanya menambah sedikit air, tidak mengganti semuanya. Sangat membantu menghemat air, apalagi saat musim kemarau," ujarnya.
Kelompok Usaha Rumahan Bioflok membudidayakan ikan lele dan nila di pemukiman padat Kota Pontianak. (Istimewa) |
Koordinator pembudidayaan, Wibowo, menambahkan bahwa gumpalan bakteri atau flok yang terbentuk juga berfungsi sebagai pakan alami tambahan.
"Flok ini bernutrisi tinggi dan bisa menekan biaya pakan, meski tidak terlalu signifikan," jelasnya.
Saat ini terdapat sedikitnya tujuh unit kolam bioflok yang dikelola bersama oleh warga RT 04. Limbah air yang dihasilkan pun dimanfaatkan kembali.
"Air sisa kami gunakan untuk menyiram tanaman di sekitar rumah sebagai pupuk alami," kata Wibowo.
Kelompok Usaha Rumahan Bioflok membudidayakan ikan lele dan nila di pemukiman padat Kota Pontianak. (Istimewa) |
Inovasi budidaya ikan lele dan nila berbasis kebersamaan ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial warga.
Hasil panen dimanfaatkan untuk konsumsi warga, sementara kelebihannya dijual ke pengepul dan hasilnya dimasukkan ke kas RT. Ketua RT 04, Romiyanto mengatakan, dana kas tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan pemeliharaan fasilitas umum.
"Bukan hanya soal pemasukan, tapi juga menghidupkan kembali budaya gotong royong," ujarnya.
Ia menyebut keterlibatan warga cukup luas, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga remaja.
"Tidak hanya bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja juga ikut terlibat. Bahkan yang memberi makan ikan setiap pagi kebanyakan ibu-ibu," tutup Romiyanto.
(aau/aau)

