Kala Para Pencari Nafkah di Wilayah Perbatasan Terjebak Akses Transportasi

Kala Para Pencari Nafkah di Wilayah Perbatasan Terjebak Akses Transportasi

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 19 Feb 2026 06:01 WIB
Antrean panjang di Bandara Yuvai Semaring, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara)
Antrean panjang di Bandara Yuvai Semaring, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Nunukan -

Akses transportasi di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) hingga saat ini masih terbatas. Tak cuma kurangnya opsi transportasi yang murah, tapi juga jumlah kuota tiket penerbangan yang sulit didapat.

Situasi ini membuat warga Krayan pusing, mereka yang harus bekerja atau menjual dagangannya ke luar kota sering berhari-hari terjebak karena sulitnya dapat tiket penerbangan. Seperti yang terjadi pada Samson Bekalit, ia bekerja sebagai teknisi dari sebuah penyedia jaringan telekomunikasi di Kaltara.

Pada Rabu (18/2/2026) sejak pagi, ia harus antre di Bandara Yuvai Semaring, Krayan, Nunukan. Samson ditugaskan memperbaiki kualitas jaringan internet warga, namun kemudian berakhir terjebak di Krayan, tak bisa pulang ke Nunukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kendala utama kita di sini itu transportasi. Ke sini harus booking jauh hari. Itu pun kalau dapat, pulangnya itu yang susah. Sekarang kita lagi ada pemeliharaan, tapi kendalanya nggak bisa balik ke Nunukan. Belum ada kepastian tiket," cerita Samson.

Samson bercerita, bisa butuh waktu seminggu lamanya hanya untuk ia menunggu ketersediaan tiket pulang. Bagi Samson dan perusahaannya, sulitnya akses ini berdampak langsung pada membengkaknya biaya operasional dan kerugian waktu yang masif.

"Otomatis kita nunggu seminggu buat tiket balik. Biaya makan, penginapan, membengkak di situ. Seandainya kita fix 2 hari kerja bisa balik, kita langsung jalan. Tapi ini kita kerja cuma 2 hari, nunggunya bisa sampai 10 hari. Ibaratnya waktu tujuh hari itu kita nggak ngerjain apa-apa," kata Samson yang sudah jadi teknisi 13 tahun lamanya.

Keterbatasan di wilayah perbatasan pun dirasakan warga lokal yang banyak berprofesi sebagai pedagang. Ita misalnya, seorang penjual ayam Filipin, yang sering dibuat kecewa dengan kuota kargo maskapai.

Sekedar diketahui, kargo yang hanya beroperasi pada hari Selasa dan Kamis memiliki kuota batasan maksimal 1.000 kilogram. Kerap kali saat kuota penuh, hasil panen dan dagangan warga tertahan berhari-hari tanpa kepastian.

"Ayam sudah ditimbang di bandara, tiba-tiba tidak bisa naik pesawat. Tidak ada informasi sebelumnya. Kalau ayamnya mati bagaimana? Harusnya kalau memang bisa diterima, informasinya jelas, supaya kita tidak bolak-balik rugi waktu karena jaraknya jauh," keluh Ita.

Tak cuma Ita, keluhan diutarakan Marso Soleman, warga Krayan Induk. Hari ini ia kecewa karena tak dapat menjual hasil panennya ke Tarakan. Marso mengatakan carut-marut sistem kargo subsidi kerap membuatnya rugi.

Hasil bumi seperti beras dan nanas yang hendak dijual ke Tarakan sering kali tertahan berminggu-minggu hingga membusuk di bandara.

"Kadang-kadang barang mau tertahan sampai satu bulan. Kalau kayak nanas itu kan kalau sudah busuk ya sudah, tidak jadi dikirim. Sangat rugi kita," tutur Marso.

Kuotanya pun dibatasi satu orang cuma sekitar 20 kilo. Seharusnya kan dikasih informasi dulu pembagian jatah harinya agar barang kita bisa terkirim," sambungnya.

Dikonfirmasi terpisah, Hendris, Kanit AVSec Bandara Yuvai Semaring, menjelaskan bahwa berkurangnya armada maskapai sejak tahun lalu menjadi biang kerok menumpuknya penumpang dan barang kargo. Saking sulitnya mendapatkan kursi, pihak bandara terpaksa menerapkan sistem undian.

"Satu minggu sekali open ticket. Setiap hari Jumat itu lottery (undian). Ditulis nama di kertas, masuk di kotak, baru dikocok. Banyak masyarakat yang sudah datang antre tapi tetap tidak dapat tiket," kata Hendris.

Sementara itu, Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Yuvai Semaring, Long Bawan, Sumariyanto mengatakan daya tampung pesawat yang beroperasi sangat terbatas dan tidak sepadan dengan tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat Krayan. Sumariyanto membeberkan bahwa intensitas dan mobilitas masyarakat di Krayan terus bertambah setiap bulan.

"Subsidi perintis khusus untuk kargo sudah ada. Tapi untuk volumenya, daya tampungnya dengan yang diperlukan oleh masyarakat dan pesawat yang ada itu tidak seimbang. Makanya harus antre, dan ini memang menjadi PR kita," ucap Sumariyanto.

"Terkait apakah penumpang itu bisa naik atau tidak, itu bukan kewenangan bandara, melainkan kewenangan airline. Bandara hanya menyiapkan fasilitasnya. Kadang memang ada alasan operasional sehingga penerbangan digantikan atau batal," kata dia.

Untuk meminimalisir miskomunikasi, pihak bandara mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi. Adapun instagram resmi Bandara Yuvai Semaring yang bisa dipantau warga yakni @yuvaisemaring_airport.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads