Proses evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat dari Krayan menuju Kota Tarakan akhirnya rampung dilaksanakan pada Jumat (20/2/2026) siang. Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih berlangsung dan sejumlah bagian pesawat masih berada di lokasi.
Berdasarkan pantauan detikKalimantan di Yuvai Semaring, pergerakan Tim SAR Gabungan dimulai sejak pagi hari. Sekitar pukul 10.08 Wita, tim bertolak menuju Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan. Mobil jenazah dengan pengawalan ketat personel TNI dan Polri tiba di bandara pada pukul 10.53 Wita.
Proses serah terima jenazah dilakukan secara khidmat antara pihak pemerintah kecamatan dan unsur Muspika kepada Basarnas tepat pukul 11.15 Wita. Pukul 11.28 Wita, jenazah langsung dimasukkan ke pesawat milik Mission Aviation Fellowship (MAF) untuk diterbangkan ke Tarakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Camat Krayan Roni Efendi hadir langsung dalam proses evakuasi. Selain menyampaikan duka cita, ia memberikan informasi terkini terkait kondisi di lokasi jatuhnya pesawat.
"Hari ini atas nama pemerintah Kecamatan Krayan menyerahkan jenazah kepada pihak Basarnas. Harapan kami, persoalan ini bisa secepatnya selesai," ujar Roni kepada detikKalimantan, Jumat (20/2/2026).
Roni mengungkapkan pihaknya masih menanti proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Menurutnya, beberapa bukti kunci masih berada di titik kejadian.
"Wing pesawat masih di tempat, black box (kotak hitam) juga masih ada di sana dalam kondisi aman dan tidak terbakar. Serpihan pesawat ditemukan di lima titik berbeda dalam satu area. Semoga KNKT segera melakukan penyelidikan," tambahnya.
Roni juga kembali menyuarakan keresahan menahun warga Krayan mengenai akses transportasi. Hingga saat ini, Krayan masih menjadi wilayah yang "terisolasi" secara darat dan hanya bergantung pada moda transportasi udara.
"Sampai hari ini kita masih bergantung dengan transportasi udara karena jalur darat belum ada. Kami berharap pemerintah serius menangani pembangunan jalan nasional dari Malinau ke Krayan," tegas Roni.
Menurut Roni, ketergantungan terhadap penerbangan berdampak langsung pada tingginya biaya operasional, terutama dalam distribusi BBM bersubsidi serta mobilitas masyarakat. Ia menekankan bahwa transportasi darat akan memberi fleksibilitas mobilitas yang tidak dimiliki moda udara, yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
"Secara operasional, biaya sangat tinggi. Kalau jalan darat tersedia, pembiayaan bisa diminimalisir. Dari segi keamanan juga lebih aman dan nyaman. Kalau pesawat, kita bergantung cuaca. Banyak faktor mempengaruhi lancarnya penerbangan. Solusi utama menurut kami tetap jalan darat," tutupnya.
(des/des)
