Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, mulai menuai sorotan dari para orang tua siswa. Memasuki bulan suci Ramadhan, sejumlah wali murid mengeluhkan variasi menu yang dianggap seadanya.
Salah satu orang tua siswa di SMPN 14 Pasir Putih, Kelurahan Karang Anyar, Rubentinus mengatakan bahwa pada hari pertama puasa, anaknya menerima menu berupa roti abon, telur rebus, kacang goreng, dan minuman rasa buah melon. Ia memperkirakan biaya menu tersebut hanya sekitar Rp 8.000- 9.000.
"Saya cuma minta agar jangan asal-asalan dalam memberikan menu kepada siswa," tegas Rubentinus kepada detikKalimantan, Selasa (24/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan senada datang dari Machud, orang tua siswa di SD 034 Karang Anyar. Ia merasa miris melihat menu yang diterima anaknya yang dinilai sangat minim seperti, telur rebus, 3 biji kurma, dan keju slice dengan kue.
"Ini masih mending ada minumnya. MBG anak saya tidak ada minumannya sama sekali. Bukan maksud tidak bersyukur, tapi yang lain dapat roti, masa ini cuma dapat keju," kata Machud.
Menanggapi riuh rendah keluhan tersebut, Kepala Regional Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kaltara Aji Sanjaya mengakui bahwa menu MBG di bulan Ramadan merupakan isu sensitif. Ia menyebut adanya tantangan besar dalam pemenuhan pasokan lokal.
"Menu untuk bulan Ramadhan memang sangat terbatas dalam variasi apabila pasokan lokal belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), khususnya di wilayah yang pertumbuhannya sangat cepat," ujar Aji kepada detikKalimantan, Selasa (24/2/2026).
Aji menjelaskan pihaknya mengarahkan SPPG untuk menggunakan buah yang praktis, seperti jeruk. Ia juga menekankan adanya perbedaan persepsi antara selera masyarakat dengan standar gizi.
"Seringkali terjadi benturan antara apa yang enak dan apa yang sehat. Menu yang terlihat sederhana mungkin sudah memenuhi standar kalori dan protein yang dibutuhkan tubuh untuk berpuasa, meski mungkin kurang menggugah selera dibanding menu takjil pada umumnya," jelasnya.
Lebih lanjut, Aji menegaskan bahwa aturan MBG saat ini lebih mengutamakan kandungan gizi daripada bentuk fisik makanan. Selain itu, makanan yang diberikan harus dipastikan tahan lama hingga waktu berbuka puasa tiba.
"Laporan dari masyarakat apabila menemukan menu yang tidak sesuai atau tidak layak sangat penting untuk menjadi evaluasi bagi SPPG terkait. Untuk bentuknya tidak diatur secara rinci, yang diatur hanya kandungan gizinya saja," pungkas Aji.
Pihak SPPI berjanji akan menjadikan masukan para orang tua siswa sebagai bahan evaluasi agar distribusi MBG ke depannya lebih tepat sasaran secara kualitas maupun kuantitas.
(des/des)
