Jika Lupa Baca Niat, Puasa Ramadan Tetap Sah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Jika Lupa Baca Niat, Puasa Ramadan Tetap Sah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 25 Feb 2026 10:37 WIB
Beautiful Asian muslim young woman sleeping - relaxing on the bed during the day. Cozy and relaxing lifestyle of modern muslim woman concept.
Ilustrasi tidur setelah makan sahur dan lupa niat puasa/Foto: Getty Images/golfcphoto
Balikpapan -

Di bulan Ramadan ada banyak hal yang harus diperhatikan umat Islam agar ibadah berjalan lancar dan diterima di sisi Allah SWT. Yang paling penting dalam menjalankan puasa Ramadan adalah niat, baik lisan maupun niat dari dalam hati.

Pertanyaan apakah puasa sah jika lupa membaca niat, seringkali muncul saat Ramadan. Pembacaan niat sendiri dilakukan saat malam hari.

Dalam Tafsir Ayat Ahkam oleh Kadar M. Yusuf dijelaskan Imam Maliki berpendapat niat puasa harus ditetapkan pada malam hari sebelum terbit fajar, baik untuk puasa Ramadan maupun puasa sunah. Pandangan serupa juga dikemukakan Imam Syafi'i yang menegaskan niat puasa Ramadan wajib dilakukan pada malam hari sebelum fajar, sedangkan untuk puasa sunah masih diperbolehkan berniat setelah fajar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dengan keduanya, Abu Hanifah menyatakan niat puasa, baik wajib maupun sunah, boleh dilakukan setelah terbit fajar. Namun, hal ini berlaku untuk puasa yang sudah memiliki waktu pelaksanaan yang jelas dan ditentukan, seperti puasa Ramadan atau puasa nazar pada hari tertentu.

Nah, masih banyak kejadian di mana seseorang tertidur sebelum sempat berniat dan terbangun setelah waktu subuh. Apakah puasanya sah jika tidak berniat di malam harinya? Berikut detikKalimantan rangkum jawabannya dari berbagai sumber.

Pentingnya Niat dalam Puasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah ibadah wajib yang memiliki rukun dan syarat sah. Salah satu rukunnya adalah niat. Para ulama sepakat bahwa waktu niat puasa dimulai sejak terbenamnya matahari hingga sebelum terbit fajar.

Dalam penjelasan yang dikutip dari Kementerian Agama, niat merupakan tekad dalam hati untuk berpuasa. Jika seseorang sama sekali tidak berniat, baik di hati maupun di lisan, maka puasanya tidak sah.

Namun yang perlu dipahami, niat pada hakikatnya diucapkan dalam hati. Jika seseorang sudah bertekad dalam hati untuk berpuasa esok hari, maka itu sudah dianggap sah, meskipun tidak melafalkannya dengan lisan. Melafalkan niat hanya berfungsi membantu menghadirkan kesadaran dan kekhusyukan.

Apakah Puasa Sah Jika Lupa Berniat di Malam Hari?

Pertanyaan kemudian muncul ketika seseorang benar-benar lupa berniat hingga terbit fajar. Apakah puasanya otomatis batal?

Menjawab hal ini, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Ustadz Alhafiz Kurniawan yang dilansir dari Antara, menjelaskan pandangan ulama Mazhab Syafi'i dan Hanafi.

"Para ulama Mazhab Syafi'i menganjurkan tiga hal: berniat setiap malam, dianjurkan melafalkan niat, dan di awal Ramadan berniat untuk melaksanakan puasa selama sebulan penuh, mengikuti pandangan Imam Malik," jelasnya.

Bagi yang benar-benar lupa berniat pada malam hari, ia menegaskan agar tidak langsung membatalkan puasa. Solusinya adalah segera mengucapkan niat di hati saat teringat pada pagi hari.

Pendapat ini sejalan dengan pandangan Imam Abu Hanifah dari Mazhab Hanafi. Menurut beliau, jika seseorang belum sempat berniat sebelum fajar, puasanya tidak otomatis batal, tetapi dinilai tidak sempurna.

Dengan demikian, menurut Mazhab Hanafi, puasa tetap sah meski niat dilakukan setelah subuh, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Pendapat Ulama Lain tentang Niat Puasa

Selain pandangan Mazhab Syafi'i dan Hanafi, sejumlah ulama juga memberikan penjelasan terkait niat puasa Ramadan. Wahbah az-Zuhailiy menerangkan bahwa yang dimaksud dengan niat adalah adanya maksud atau tekad untuk berpuasa. Artinya, ketika pada malam hari seseorang sudah berketetapan hati untuk menjalankan puasa keesokan harinya di bulan Ramadan, maka pada hakikatnya ia telah berniat, meskipun tidak melafalkannya secara lisan.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantaniy juga berpendapat yang sama. Ia menegaskan niat tidak cukup hanya diucapkan di mulut tanpa kehadiran hati. Pelafalan niat tidak menjadi syarat mutlak, melainkan hanya disunahkan karena dapat membantu menghadirkan konsentrasi dan kesungguhan hati dalam beribadah.

Sementara itu, Quraish Shihab mengutip pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan jika seseorang baru berniat puasa Ramadan setelah terbit fajar, maka puasanya tetap sah. Di sisi lain, Mazhab Maliki tidak mensyaratkan niat dilakukan setiap malam. Menurut mazhab ini, niat berpuasa untuk satu bulan penuh yang dipasang pada awal Ramadan sudah dianggap mencukupi untuk keseluruhan hari puasa.

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati oleh semua ulama. Ali Mustafa Yaqub berpendapat bahwa niat puasa sebulan penuh di awal Ramadan tidaklah cukup, sebab setiap hari dalam bulan Ramadan merupakan ibadah yang berdiri sendiri. Karena itu, menurutnya, niat tetap perlu diperbarui untuk masing-masing hari puasa.

Jadi, jawaban atas pertanyaan apakah puasa sah jika lupa membaca niat bergantung pada kondisi dan mazhab yang diikuti, jika lupa melafalkan niat tetapi sudah berniat dalam hati, maka puasanya sah. Jika niat yang dilakukan pada pagi hari saat teringat tetap membuat puasa sah, tetapi dinilai kurang sempurna.

Karena itu, umat Islam tidak perlu panik jika lupa membaca lafaz niat, selama ada tekad dalam hati untuk berpuasa. Namun, agar lebih tenang dan terhindar dari keraguan, dianjurkan untuk membiasakan berniat setiap malam sebelum tidur di bulan Ramadan.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Bersantai Mengapung di Laut Derawan, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads