Rangka Baja Jembatan Malinau Mangkrak Sejak 2020, Warga Sebut Rangka Bahaya

Rangka Baja Jembatan Malinau Mangkrak Sejak 2020, Warga Sebut Rangka Bahaya

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 05 Mar 2026 20:00 WIB
Tumpukan rangka baja di area Sungai Kihan
Tumpukan rangka baja di area Sungai Kihan/Foto: Istimewa
Malinau -

Material besi penyangga jembatan di kawasan Sungai Kihan, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, berserakan sejak tahun 2020. Kondisi itu menuai sorotan warga.

Warga Desa Data Dian, Thatha Cahyo menyebut tumpukan besi gelagar lantai jembatan itu rawan memicu tindak kriminal karena bernilai jual tinggi. Namun, ia memuji integritas masyarakat yang tak sudi menjarah barang tersebut meski ditinggal begitu saja.

Warga lainnya, Maik, menyebut material itu didatangkan pada 2020 untuk membangun jembatan vital penghubung Desa Long Nawang menuju Data Dian. Nahas, setelah tumpukan besi itu diturunkan di Pelabuhan Long Bagun, tak ada satupun pekerja yang datang. Papan informasi proyek pun lenyap entah ke mana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini bukan lagi rangka baja, tapi masyarakat sebutnya rangka bahaya. Kalau sungai banjir, kita sama sekali tidak bisa lewat. Kendaraan pasti terbenam lumpur," keluh Maik.

Mangkraknya proyek jembatan membuat urat nadi ekonomi dan kesehatan di tiga desa (Sungai Anai, Metun, Data Dian) kerap putus. Jika terdesak, warga harus menyewa perahu menyusuri jalur sungai dengan biaya gila-gilaan, mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 4 juta.

"Bahkan kalau ada warga sakit darurat dan harus dirujuk ke Rumah Sakit di Long Ampung, ongkos perahunya bisa sampai Rp 7 juta," ungkapnya miris.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Kayan Hulu, Setim Alla, membenarkan mangkraknya proyek jembatan tersebut. Ia menyebut proyek itu adalah kewenangan pemerintah pusat (nasional).

"Itu kegiatan dari pusat tahun 2020. Informasinya kontraktornya PT Nafiri. Tapi memang sejak awal hanya materialnya saja yang didrop ke lokasi, tidak ada pengerjaan fisiknya sama sekali," beber Setim melalui panggilan telepon.

"Dulu pernah ada sosialisasi di awal tahun 2020. Setelah itu perusahaannya entah ke mana. Kami sudah berulang kali melaporkan ini ke Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), mereka juga sudah pernah meninjau, tapi sampai sekarang kondisinya mangkrak," tegasnya.



Setim menekankan Jembatan Sungai Kihan bukan sekadar jalan desa biasa, melainkan akses trans-nasional yang sangat krusial bagi warga perbatasan. "Ini satu-satunya akses penghubung dua kecamatan, Kayan Hulu dan Kayan Hilir. Bahkan jalur ini tembus ke Kayan Selatan, Long Bagun, sampai ke Malaysia. Ini benar-benar urat nadi masyarakat," urai Setim.

Setim juga tak menampik kekhawatiran soal bahan material yang hilang karena disengaja, ataupun tercecer akibat kondisi alam. Ia hanya bisa menghimbau kepada warga agar saling menjaga.

"Kekhawatiran jika ada bahan yang hilang pasti ada ya. Soal tanggung jawab tentunya dari perusahaan yang menangani, karena kita sendiri juga tidak diberikan mandat atau perintah untuk menjaga bahan itu, cuman saya tetap imbau warga agar tetap menjaga diri dan satu sama lain," terangnya.

Pemerintah kecamatan dan warga meminta agar pemerintah pusat segera mengambil alih dan menuntaskan pembangunan jembatan tersebut. "Warga yang kadung kecewa bahkan menyindir tumpukan material itu bukan lagi rangka baja melainkan rangka bahaya," tutupnya.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads