Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga, Sekaligus Tegaskan Takkan Menyerah

Internasional

Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga, Sekaligus Tegaskan Takkan Menyerah

Rita Uli Hutapea - detikKalimantan
Sabtu, 07 Mar 2026 16:40 WIB
Iranian President Masoud Pezeshkian speaks during a plenary session in the outreach/BRICS Plus format at the BRICS summit in Kazan, Russia October 24, 2024. (File photo: Reuters)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Foto: dok. Reuters
Teheran -

Eskalasi konflik antara koalisi Amerika Serikat (AS) & Israel dengan Iran berdampak ke negara-negara tetangga Iran di Timur Tengah. Presiden Masoud Pezeshkian pun menyampaikan permintaan maaf.

Dilansir detikNews, serangan Iran diketahui mengarah ke berbagai negara seperti Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait, Azerbaijan, hingga Turki. Iran mengklaim bahwa target utama serangan mereka adalah pangkalan militer AS dan Israel.

"Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran," katanya dalam pidatonya di televisi pemerintah Iran, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (7/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pezeshkian juga mengatakan bahwa negara-negara Teluk tidak akan menjadi sasaran Iran kecuali serangan yang mencapai Iran berasal dari mereka.

"Dewan kepemimpinan sementara kemarin sepakat bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan kecuali serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut," sambungnya.

Dewan kepemimpinan menjalankan roda kepemimpinan sejak Ayatollah Ali Khamenei tewas pekan lalu. Khamenei tewas dalam serangan AS dan Israel yang memicu perang di Timur Tengah.

Selain meminta maaf kepada para negara tetangga, Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah menyerah kepada Israel dan Amerika Serikat. Perang Timur Tengah sendiri telah memasuki minggu kedua.

"Musuh-musuh Iran harus membawa keinginan mereka untuk penyerahan tanpa syarat rakyat Iran ke kuburan mereka," kata Pezeshkian.

Israel dan AS mulai melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sejak itu, Iran menanggapi dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan kepentingan AS di negara-negara regional, terutama di Teluk.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa "tidak akan ada kesepakatan dengan Iran selain penyerahan tanpa syarat" dalam konflik tersebut.

"Setelah terpilihnya seorang pemimpin yang HEBAT & DAPAT DITERIMA, kami bersama para sekutu dan mitra yang luar biasa serta sangat berani akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi dibanding sebelumnya," tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.

Baca selengkapnya di detikNews.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads