Menkes Soroti 4 Kasus Anak Bunuh Diri, Salah Satunya di Kaltim

Menkes Soroti 4 Kasus Anak Bunuh Diri, Salah Satunya di Kaltim

Nafilah Sri Sagita K - detikKalimantan
Senin, 09 Mar 2026 20:41 WIB
Ilustrasi Bunuh Diri
Ilustrasi Bunuh Diri. Foto: BeritaKlik/Thinkstock
Balikpapan -

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.

Di awal tahun 2026, tercatat sudah ada empat anak yang meninggal bunuh diri di Indonesia. Kasus tersebut terjadi di sejumlah daerah dengan latar belakang keluarga berbeda.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyoroti hal ini. Salah satu kasus diketahui terjadi di Kalimantan Timur belum lama ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam tahun 2026 ini sudah ada 4 orang yang meninggal. Empat anak yang meninggal itu ada di NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur," kata Menkes, dikutip dari detikHealth, Senin (9/3/2026).

Ia menyebut usia anak-anak tersebut berkisar 11 hingga 14 tahun. Menurutnya, kasus bunuh diri pada anak tidak hanya terjadi pada keluarga kurang mampu, tetapi juga ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi menengah hingga atas.

"Dan tidak hanya dari golongan miskin seperti yang di Ngada. Ada juga yang golongan menengah. Jadi bahwa ini hanya terjadi di keluarga tidak mampu, kenyataannya tidak demikian. Ini juga terjadi di keluarga yang kelas menengah ke atas," sorot Menkes.

Sementara itu mengutip data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Menkes menyinggung 115 anak dilaporkan bunuh diri pada periode 2023 hingga 2025. Mayoritas kasus terjadi pada anak usia 11 hingga 17 tahun.

Menurutnya, banyak orang mengira penyebab utama bunuh diri berasal dari kondisi psikologis anak. Namun, data menunjukkan faktor terbesar justru berasal dari lingkungan keluarga.

"Penyebab yang nomor satu, surprisingly bukan dari psikologi anaknya, tapi dari keluarganya. Jadi kalau keluarganya konflik, kemudian ada masalah di pola pengasuhan, itu menjadi salah satu penyebab yang paling tinggi," jelas Menkes.

Selain faktor keluarga, lingkungan sosial juga berperan besar dalam memicu masalah kesehatan mental pada anak.

Sementara faktor kedua terbesar berasal dari perundungan (bullying) serta tekanan akademik di lingkungan sekolah.

"Perundungan itu dari lingkungan teman-temannya, tekanan akademik dari lingkungan pembelajarannya," katanya.

Ia menilai faktor lingkungan ini sangat berpengaruh karena anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah.

"Kita lihat bahwa faktor kedua yang paling besar adalah dari lingkungan mereka, baik itu teman-temannya maupun akademiknya," ujarnya.

"Kalau kita bisa menjaga pola asuh yang bagus di keluarga, kemudian menjaga pola sosial dan pendidikan yang baik di sekolah, itu bisa menurunkan secara drastis penyebab masalah kesehatan jiwa," jelasnya.

Selain orang tua, guru juga diminta Menkes lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa, bukan hanya fokus pada nilai akademik.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads