Yayasan Kristen Tunas Kasih Tarakan menyatakan tidak menerima pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolahnya. Pihak yayasan menilai orang tua siswa masih sangat mampu menyediakan bekal bergizi secara mandiri.
Penegasan ini disampaikan dengan harapan tidak ada lagi pihak-pihak yang mendesak yayasan sekolah swasta tersebut untuk menerima MBG. Direktur Umum Yayasan Kristen Tunas Kasih Tarakan, May Grace, menjelaskan bahwa penolakan ini didasari pertimbangan logis dan pragmatis, bukan karena tendensi politik tertentu.
"Pertama, kami berpendapat orang tua murid kami masih mampu menyediakan bekal makan anak-anak mereka. Makanya tidak banyak orang tua di sini yang komplain mengapa tidak ada MBG," ujar May Grace saat ditemui di ruangannya. Kamis (12/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor utama yang membuat pihak yayasan ragu menerima program MBG adalah soal higienitas dan pengelolaan. May Grace menyoroti banyaknya rentetan kasus masalah pengelolaan makanan massal hingga keracunan yang belakangan santer diberitakan di berbagai daerah.
"Yang paling berat dan menjadi pertimbangan paling utama itu kebersihan pengelolaannya. Kita lihat di berita banyak sekali bermasalah MBG di mana-mana, ada keracunan. Itu membuat kami ragu-ragu," tegasnya.
May Grace menambahkan, yayasan yang menaungi sekitar 600 siswa dari tingkat Playgroup hingga SMA ini pernah memiliki pengalaman mengelola dapur mandiri untuk 70-80 guru dan karyawan. Tantangan terbesar yakni mengontrol kebersihan dan rotasi menu.
"Saya dan orang tua pasti mengetahui, selera makan anak yang cenderung pemilih juga menjadi kendala. Kami menilai orang tua adalah pihak yang paling tahu selera dan kebutuhan gizi spesifik anak mereka masing-masing," terangnya.
May Grace juga meluruskan bahwa sejauh ini tidak ada surat edaran resmi dari Dinas Pendidikan yang mewajibkan sekolah swasta untuk menerima program MBG.
"Penolakan ini adalah murni hak otonomi sekolah swasta dalam menentukan kebijakan yang dirasa paling aman untuk siswanya," katanya.
Langkah Yayasan Tunas Kasih Tarakan ini nyatanya mendapat dukungan dari para orang tua murid. Kebanyakan dari mereka merasa lebih aman membawakan bekal sendiri dari rumah karena kebersihan dan nilai gizinya lebih terjamin.
"Konsep kami, kantin itu menyediakan makanan sehat dan bersih karena anak-anak tidak diperbolehkan belanja di luar sekolah. Standar kebersihannya terjaga, bahkan Puskesmas secara rutin melakukan pemeriksaan ke kantin kami," tegasnya.
Agung Mandala, salah satu orang tua siswa, membenarkan bahwa tidak ada gejolak atau protes dari wali murid terkait penolakan MBG ini.
"Dari pengalaman yang sudah-sudah, bekal dari orang tua murid di Tunas Kasih itu jauh lebih bergizi dibanding MBG yang ada. Dan tidak pernah juga ada ribut-ribut atau protes soal masalah MBG di kelas anak saya," ungkap Agung.
(des/des)