Menu Tak Layak-Markup Harga, 7 Dapur MBG di Kalbar Ditutup Selama Ramadan

Menu Tak Layak-Markup Harga, 7 Dapur MBG di Kalbar Ditutup Selama Ramadan

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Kamis, 12 Mar 2026 15:30 WIB
Empty clean white marble top island table in commercial, professional bakery kitchen with stainless steel convection, deck oven, freezer, refrigerator, shelf, cabinet, equipment for industrial restaurant cooking, food, drink product display background 3D
Ilustrasi dapur MBG. Foto: Getty Images/Suchada Tansirimas
Pontianak -

Sebanyak tujuh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Barat (Kalbar) ditutup sementara selama Ramadan 2026. Penutupan itu dipicu karena pengelola dapur tidak menjalankan petunjuk teknis (juknis) selama Ramadan sampai adanya markup.

Kepala Program MBG Region Kalbar Agus Kurniawi mengatakan penghentian operasional tersebut merupakan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan program di sejumlah daerah.

"Selama Ramadan ada tujuh dapur SPPG yang ditutup sementara karena tidak menjalankan juknis yang berlaku, termasuk adanya persoalan sengketa lahan dan markup harga," kata Agus saat dikonfirmasi detikKalimantan, Kamis (12/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuh dapur MBG yang dihentikan sementara operasionalnya tersebut berada di beberapa wilayah di Kalbar, yakni Sandai di Kabupaten Ketapang, Rasau Jaya-Sungai Kakap-Arang Limbung di Kabupaten Kubu Raya, Teluk Batang di Kabupaten Kayong Utara, Sejangkung Semanga di Kabupaten Sambas, serta Nanga Pinoh di Kabupaten Melawi.

Dapur MBG di Rasau Jaya, Sungai Kakap, Sandai, dan Teluk Batang dihentikan operasionalnya karena terbukti tidak menjalankan juknis selama Ramadan. Dapur-dapur ini mengeluarkan menu MBG yang dianggap tidak layak dan sangat minimalis.

Kemudian dapur MBG di Arang Limbung disetop operasionalnya karena adanya ketidaksesuaian bidang Infrastruktur. Sementara dapur MBG di Sejangkung Semanga ditutup sementara karena ada persoalan sengketa lahan dengan pemerintah desa setempat. Lalu dapur MBG di Nanga Pinoh ditutup sementara karena terdapat dugaan markup harga yang dilakukan pengelola dalam hal menyajikan menu.

Menurut Agus, penghentian sementara ini dilakukan sambil menunggu proses evaluasi serta perbaikan dari pengelola dapur agar operasional kembali sesuai dengan ketentuan program MBG. Ia menegaskan setiap dapur SPPG wajib menjalankan program sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan, termasuk mekanisme operasional selama Ramadan.

"Kalau juknis tidak dijalankan tentu harus dievaluasi. Penutupan ini sifatnya sementara sampai semua persyaratan dan ketentuan dipenuhi," ujarnya.

Agus memastikan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar dapur-dapur tersebut dapat kembali beroperasi setelah masalah yang ada diselesaikan.

"Hingga saat ini, belum ada yang kembali buka operasionalnya. Kami berharap setelah persoalan ini selesai, dapur bisa kembali berjalan sehingga penerima manfaat program MBG tetap mendapatkan layanan," pungkasnya.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads