Perkiraan Tanggal Idul Fitri 2026 Versi Muhammadiyah dan Pemerintah

Perkiraan Tanggal Idul Fitri 2026 Versi Muhammadiyah dan Pemerintah

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 15 Mar 2026 09:01 WIB
Umat Islam melaksanakan Shalat Id 1445 Hijriah di kawasan Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (10/4/2024). Shalat Id 1445 Hijriah tersebut dilaksanakan di kawasan Tugu Khatulistiwa yang merupakan salah satu cagar budaya dan ikon wisata Kota Pontianak. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/nym.
Umat Islam melaksanakan Shalat Id 1445 Hijriah di kawasan Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Antara Foto/Jessica Wuysang
Samarinda -

Umat Islam di Indonesia saat ini tengah berada di penghujung bulan Ramadan 1447 Hijriah. Memasuki pertengahan Maret 2026, masyarakat mulai menantikan kepastian kapan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 H akan dirayakan.

Sejauh ini, terdapat dua kemungkinan tanggal Lebaran di Indonesia, yaitu Jumat, 20 Maret 2026 atau Sabtu, 21 Maret 2026. Perbedaan tersebut berlandaskan pada metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan oleh organisasi Islam Muhammadiyah dan pemerintah.

Versi Muhammadiyah: Lebaran 20 Maret 2026

Organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Berdasarkan metode hisab atau perhitungan astronomi yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keputusan tersebut tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H, yakni Maklumat Nomor 1/MLM/I.0/E/2026.

Melalui metode hisab hakiki wujudul hilal, Muhammadiyah dapat menentukan kalender Hijriah jauh hari sebelumnya tanpa menunggu pengamatan hilal secara langsung, sama seperti ketika menentukan 1 Ramadhan lalu.

Versi Pemerintah: Menunggu Sidang Isbat

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia belum menetapkan secara resmi tanggal 1 Syawal 1447 H.

Penetapan awal bulan Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2026 akan diputuskan melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang tersebut akan dimulai pada pukul 16.00 WIB dan dilaksanakan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

Dalam sidang tersebut akan menggabungkan metode hisab dan rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit muda) dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.

Hasil sidang isbat nantinya menjadi dasar keputusan resmi pemerintah terkait penetapan Hari Raya Idul Fitri 2026.

Ada Potensi Perbedaan Lebaran Muhammadiyah dan Pemerintah

Di lain sisi, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) telah merilis data hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 H melalui laporan Informasi Hilal Awal Syawal 1447 H.

Berdasarkan data falakiyah pada 29 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis Kliwon, 19 Maret 2026, posisi hilal di Indonesia sudah berada di atas ufuk, tetapi belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.

Tinggi hilal terbesar tercatat di Kota Sabang, Aceh, dengan tinggi hilal mar'i 2 derajat 53 menit, elongasi 6 derajat 09 menit, dan lama hilal 14 menit 44 detik. Sementara itu, tinggi hilal terendah berada di Merauke, Papua Selatan, yakni 0 derajat 49 menit dengan elongasi 4 derajat 36 menit dan lama hilal 6 menit 36 detik.

Adapun di titik Jakarta dengan markaz Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, tinggi hilal tercatat 1 derajat 43 menit 54 detik dengan elongasi 5 derajat 44 menit 49 detik dan lama hilal 10 menit 51 detik.

Selain itu, ijtimak terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.25.58 WIB. Perhitungan ini dilakukan menggunakan metode falak hisab tahqiqi tadqiqi ashri kontemporer yang menjadi ciri khas perhitungan falak di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Data serupa juga dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laporan Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam 19 Maret 2026.

BMKG menyebutkan konjungsi terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB. Pada tanggal ini, waktu matahari terbenam paling awal terjadi di Waris, Papua pukul 17.48.13 WIT, sedangkan yang paling akhir terjadi di Banda Aceh pukul 18.49.39 WIB.

Ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Sementara elongasi geosentris berada di kisaran 4,54 derajat hingga 6,1 derajat.

Data tersebut juga menunjukkan umur bulan di Indonesia saat matahari terbenam berkisar antara 7,41 jam hingga 10,44 jam, dengan lama hilal di atas ufuk antara 5,6 menit hingga 15,66 menit.

Berdasarkan data tersebut, terdapat potensi besar bulan Ramadan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari karena kriteria imkanur rukyah belum terpenuhi.

Dengan mempertimbangkan data tersebut, ada kemungkinan Hari Raya Idul Fitri 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 jika Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

Namun demikian, kepastian awal Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang diumumkan oleh LF PBNU serta keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat pada 19 Maret 2026 malam.

Perbedaan penetapan awal bulan Hijriah antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah hal baru di Indonesia. Hal ini terjadi karena perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan dalam kalender Islam.

Dengan demikian hingga saat ini, terdapat dua kemungkinan tanggal Lebaran di Indonesia, yakni 20 Maret 2026 menurut Muhammadiyah dan 21 Maret 2026 menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads