Warung Tahu Sumedang di KM 50 Bukit Soeharto Tutup demi Pemulihan Hutan

Warung Tahu Sumedang di KM 50 Bukit Soeharto Tutup demi Pemulihan Hutan

Riani Rahayu - detikKalimantan
Jumat, 03 Apr 2026 18:30 WIB
Suasana di warung Tahu Sumedang KM 50 Bukit Soeharto setelah ditutup Otorita IKN
Foto: Dok. Istimewa
Balikpapan -

Warung Tahu Sumedang di Jalan Poros Balikpapan-Samarinda Kilometer 50, Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya ditutup. Penutupan ini dilakukan setelah adanya komunikasi dari Otorita IKN kepada pemilik usaha untuk penertiban kawasan tersebut.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik/Juru Bicara Otorita IKN Troy Pantouw mengatakan, jika kawasan Kilometer 50 yang berada di Kecamatan Samboja Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) itu masuk sebagai hutan konservasi. Sehingga perlu adanya perlindungan dan pemulihan kawan hutan tersebut.

"Langkah ini merupakan wujud nyata kesadaran dan itikad baik pelaku usaha dalam mendukung upaya pemulihan fungsi kawasan Hutan Konservasi Bukit Soeharto, kawasan yang memiliki peran ekologis vital bagi keberlangsungan lingkungan dan masyarakat sekitarnya dalam jangka panjang," ujar Troy melalui keterangannya, Jumat (3/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai melakukan pertemuan dengan seluruh pihak terdampak, pihak warung Tahu Sumedang pun akhirnya menutup memasang pagar pada lokasi usahanya secara sukarela. Hal ini pun diapresiasi oleh Otorita IKN.

"Otorita IKN menyambut baik langkah yang ditempuh oleh pemilik Rumah Makan Tahu Sumedang," kata dia.

Troy menegaskan bahwa perlindungan kawasan hutan konservasi bukan semata-mata penegakan regulasi. Tetapi juga tanggung jawab bersama untuk memastikan pembangunan IKN berjalan selaras dengan kelestarian alam.

"Kami akan terus mengawal dan memastikan seluruh aktivitas di kawasan IKN sesuai dengan peruntukan dan ketentuan yang berlaku," pungkasnya.

Sebagai informasi, warung Tahu Sumedang di Kilometer 50 Jalan Soekarno-Hatta, kawasan Bukit Soeharto, diperkirakan mulai beroperasi sejak awal 2000-an dan berkembang menjadi salah satu tempat singgah favorit di jalur Samarinda-Balikpapan. Keberadaannya dikenal luas oleh pengguna jalan lintas karena lokasinya yang strategis di tengah perjalanan.

Warung ini berdiri di kawasan Hutan Bukit Soeharto yang kemudian berstatus sebagai hutan konservasi, sehingga secara fungsi kawasan tidak diperuntukkan bagi aktivitas usaha permanen. Meski begitu, dalam praktiknya warung tetap beroperasi selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi informal di sekitar kawasan tersebut.

Dalam perjalanannya, warung ini beberapa kali menjadi perhatian karena berada di dalam kawasan hutan konservasi. Namun, aktivitas usaha tetap berjalan dan kembali buka setelah sebelumnya pernah ditutup pada 2018, sehingga memunculkan dinamika terkait keberadaan usaha di dalam kawasan tersebut.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads