Heboh Sisa Roket Tiongkok Terlihat di Langit, 2022 Pernah Jatuh di Kalbar

Kalimantan Flashback

Heboh Sisa Roket Tiongkok Terlihat di Langit, 2022 Pernah Jatuh di Kalbar

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Senin, 06 Apr 2026 14:00 WIB
Sampah antariksa roket Tiongkok jatuh di Sanggau, Kalbar pada 2022. (Istimewa)
Foto: Sampah antariksa roket Tiongkok jatuh di Sanggau, Kalbar pada 2022. (Istimewa)
Sanggau -

Warga Lampung dibuat heboh dengan penampakan benda terang yang melintas di langit. Videonya langsung viral di media sosial dan menarik komentar dari warganet, beberapa orang bahkan mengiranya sebagai rudal Iran.

Dikutip dari detikINET, Profesor Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa objek itu adalah sampah antariksa bekas roket Tiongkok CZ-3B.

"Masyarakat sekitar Lampung dan Banten dihebohkan dengan objek terang yg meluncur di langit dan tampak terpecah menjadi beberapa bagian. Itu adalah pecahan sampah antariksa," tutur Djamal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Info terbaru dari Space-Track dan analisis orbit menunjukkan bahwa bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatera. Pd sekitar pukul 19:56 WIB ketinggiannya turun di bawah 120 km. Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga sekitar Lampung dan Banten," imbuhnya.

Objek bercahaya di langit Lampung adalah sampah antariksa, bukan rudal. Fenomena jatuhnya sampah antariksa sebenarnya bukan hal yang langka secara global, namun kejadian yang melintas dan dapat disaksikan langsung di wilayah Indonesia memang tergolong jarang.

4 Tahun Lalu, Sampah Antariksa Roket Tiongkok Jatuh di Kalbar

Peristiwa ini mengingatkan kita dengan kejadian tahun 2022 lalu, dua potongan besi besar yang merupakan serpihan roket milik China dilaporkan jatuh di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar).

Keduanya ditemukan di tempat berbeda pada Minggu (31/7/2022). Serpihan besi itu pertama kali ditemukan oleh warga sekitar.

"Dan masing-masing lokasinya berbeda, satu ada di Desa Pengadang dan satunya lagi ditemukan di Desa Kenaman," kata Wakapolres Sanggau Kompol Novrial Alberti Kombo.

Serpihan pertama ditemukan oleh warga bernama Yulius di lahan sawit miliknya di Desa Pengadang. Yulius awalnya mengira potongan besi tersebut merupakan bagian besi dari gorong-gorong jembatan yang ada di wilayahnya.

Alhasil Yulius tak menghiraukan dan meninggalkan besi itu di lahan miliknya. Namun keesokan harinya warga Desa Pengadang itu mendengar kabar bahwa ada roket yang jatuh di lahannya sehingga dia pun langsung kembali dan melaporkan temuannya itu ke pihak Kades setempat.

"Keesokan harinya saat mengantar cucu berangkat ke sekolah, Yulius mendengar cerita dari kawan-kawan bahwa ada berita tentang sebuah roket yang meledak dan jatuh di kawasan Kalimantan Barat," kata Novrial.

"Setelah mendengar cerita dari kawan, Yulius Talib langsung merespons bahwa di lahan kebunnya terdapat potongan besi besar yang ditemukan pada hari Minggu sekitar jam 17.00 WIB," imbuhnya.

Usai mendapatkan laporan itu, polisi kemudian mendatangi lokasi temuan warga tersebut. Dari hasil pemeriksaan sementara polisi menerangkan bahwasanya serpihan besi yang ditemukan warga menyerupai bentuk pesawat lantaran berbentuk melengkung dan berlubang.

Selain itu, dari pemeriksaan serpihan besi yang memiliki panjang ukuran 4,78 m, lebar 1,80 m dengan ketebalan dua sisi yaitu sisi pertama 0,9 milimeter dan sisi kedua 0,4 milimeter dengan berat diperkirakan 200 kilogram itu.

"Terdapat kode angka yang terpotong pada bagian besi yaitu angka 85 w pada bagian atas sedangkan nomor pada bagian bawah terdapat lambang segitiga sama kaki - kode angka 171, kode pada bagian sudut lainnya yaitu tulisan ILE dan di bawahnya terdapat kode angka 9-5," paparnya.

Sedangkan, serpihan kedua ditemukan Jhon warga Desa Kenaman pada hari yang sama. Pada saat itu Jhon menemukan serpihan besi itu di semak-semak saat sedang berburu tupai di hutan miliknya.

Oleh Jhon, serpihan yang memiliki diameter 124 sentimeter X 190 sentimeter dengan ketebalan besi 4 milimeter tanpa tulisan dibawa pulang dengan cara dipikul.

"Oleh karena semakin ramainya warga yang berdatangan untuk menyaksikannya, Jhon memberitahukan temuannya kepada Kades dan menyampaikan berita kepada Polsek Sekayam pada Senin (1/8), dan potongan besi ini serahkan ke Polsek Sekayam untuk diamankan," ujarnya.

Usai kedua potong serpihan tersebut diamankan, pihak kepolisian kemudian memasang garis police line di TKP penemuan guna keperluan penyelidikan. Di lain sisi, Tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Pontianak memastikan dua serpihan besi itu merupakan Long March 5 B milik China, usai dilakukan identifikasi.

"Benar, kemarin pakar roket dari tim BRIN telah datang ke lokasi serpihan itu, dan melakukan identifikasi. Kami bisa dipastikan dua serpihan tersebut merupakan Long March 5 B milik China," ujar Koordinator BRIN Pontianak, Musafar kepada BeritaKlik, Jumat (5/8/2022).

Diketahui bekas roket peluncuran RRT CZ-5B yang asalnya berbobot sekitar 20 ton dan berukuran 30 meter tersebut telah terkonfirmasi melakukan atmospheric re-entry di Samudera Hindia pada 30 Juli 2022, pukul 23.45 WIB. Saat memasuki atmosfer objek pecah dan terbakar. Serpihannya jatuh di sepanjang lintasan orbit terakhirnya, mulai dari Sumatera bagian Selatan, Bangka-Belitung, sampai Kalimantan Barat.

Apakah Sampah Antariksa Berbahaya?

Sampah antariksa adalah objek buatan manusia yang berada di luar angkasa dan sudah tidak berfungsi lagi. Merujuk laman Natural History Museum, sampah antariksa dapat berupa satelit mati, bagian roket, hingga pecahan kecil dari tabrakan objek di orbit.

Objek tersebut tetap mengorbit Bumi dengan kecepatan tinggi dan jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas peluncuran satelit dan misi luar angkasa. Kondisi ini membuat sampah antariksa menjadi perhatian para ilmuwan karena dapat mengganggu aktivitas di orbit.

Natural History Museum menjelaskan bahwa sebagian sampah antariksa pada akhirnya dapat masuk kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar sehingga terlihat sebagai cahaya terang dari permukaan Bumi.

Sampah antariksa berasal dari berbagai aktivitas manusia di ruang angkasa. Merujuk laman BRIN tentang bahaya sampah antariksa, sumber utamanya berasal dari sisa peluncuran roket, satelit yang sudah tidak aktif, serta pecahan akibat tabrakan objek di orbit.

Merujuk penjelasan BRIN, Indonesia memiliki potensi dilintasi sampah antariksa karena berada di wilayah khatulistiwa yang menjadi lintasan orbit banyak satelit dan roket. Oleh karena itu, pemantauan objek antariksa terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi jatuhnya benda luar angkasa ke wilayah Indonesia.

Djamal menegaskan bahwa fenomena ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat. Sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi.

Risiko hanya muncul jika ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman, namun hingga saat ini belum pernah terjadi di mana pun di dunia.

Ia juga menjelaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke Bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.

Terakhir, Djamal mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads