Tepat pada 9 April 2026, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80. Delapan dekade bukanlah sekadar angka, melainkan sebuah epik perjuangan dari sebuah matra yang lahir di tengah bara revolusi kemerdekaan.
Sejarah kekuatan angkasa kita tidak lahir dari gelontoran dana raksasa dari negara yang stabil. Angkatan udara lahir dari keberanian para pemuda merebut dan mengambil alih fasilitas sisa penjajah Jepang pascakemerdekaan.
Dilansir dari situs Universitas Tarumanegara (Untar), para pejuang udara merintis embrio matra ini melalui organisasi Badan Keamanan Rakyat (BKR). Saat maklumat pemerintah turun pada 5 Oktober 1945, BKR dilebur menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 23 Januari 1946, TKR Jawatan Penerbangan kembali bertransformasi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) Jawatan Penerbangan. Hingga 9 April 1946, TRI Jawatan Penerbangan resmi ditingkatkan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia atau lazim dikenal dengan sebutan AURI.
Dari 'Cureng' hingga Pengebom Tu-16KS
Misi yang nyaris mustahil untuk membangun armada udara dari titik nol ini dipercayakan kepada sosok Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma (yang kini dikenal sebagai Bapak TNI AU) beserta wakilnya, Sukarnen Martokusumo.
Dikutip dari situs TNI, Soerjadarma harus menata komando tempur militer hanya dengan mengandalkan pesawat rongsokan yang ditinggalkan Jepang, seperti pesawat latih Yokosuka K5Y1 Willow yang lebih populer disebut pesawat 'Cureng'. Namun, berkat tangan dinginnya, serta keberanian instruktur pionir seperti Agustinus Adisoetjipto, institusi ini terus berkembang cepat.
Pada 29 Juli 1947, dengan menggunakan pesawat latih Cureng, tiga kadet muda, yakni Muljono, Suharnoko Harbani, dan Sutarjo Sigit sukses melakukan operasi pengeboman udara pertama terhadap markas militer Belanda. Dengan keterbatasan alat, bom bahkan dijatuhkan secara manual dengan tangan dari kokpit!
Memasuki dekade 1960-an, Indonesia menjelma menjadi kekuatan udara ditakuti di Belahan Bumi Selatan dengan kehadiran formasi jet tempur MiG. Puncak kejayaannya adalah beroperasinya pesawat pengebom strategis antarbenua Tupolev Tu-16KS yang mampu membawa rudal penenggelam kapal induk, yang sukses memaksa Belanda untuk mundur dari Irian Barat.
Tokoh Pendiri TNI AU
Ada sejumlah nama yang berkontribusi dalam berdirinya TNI AU. Dilansir dari situs Kementerian Pertahanan, di antara para tokohnya, ada tiga sosok berikut ini:
1. Komodor Udara Abdulrachman Saleh
Lahir di Jakarta pada 1 Juli 1909, Abdulrachman Saleh adalah sosok cerdas. Bukan sekadar pahlawan militer, tokoh asli Betawi ini juga merupakan pendiri Radio Republik Indonesia (RRI) serta diakui sebagai Bapak Ilmu Fisiologi karena rekam jejak akademisnya hingga meraih gelar profesor di bidang kesehatan.
Sejak berstatus mahasiswa di Geneeskundige Hoge School (GHS), ia sudah sangat aktif di berbagai organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan Kepanduan Bangsa Indonesia.
Ketertarikannya pada dunia penerbangan bermula dari hobi hingga ia berhasil memperoleh surat izin terbang. Saat AURI mulai dirintis, Abdulrachman langsung bergabung dan sempat menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Madiun pada tahun 1946.
Ia gugur di usia 38 tahun. Kini jasanya dikenang sebagai Pahlawan Nasional dan namanya diabadikan menjadi Pangkalan Udara/Bandara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur.
2. Komodor Udara Agustinus Adisutjipto
Agustinus Adisutjipto lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 3 Juli 1916. Setelah menyelesaikan pendidikan di GHS, ia memilih untuk fokus pada dunia kedirgantaraan dengan melanjutkan pendidikannya ke sekolah penerbang Belanda, Militaire Luchtvaart, yang berlokasi di Kalijati, Subang.
Adisutjipto menorehkan sejarah yang luar biasa sebagai bumiputera pertama yang mendirikan sekolah penerbang di Yogyakarta pada 15 November 1945. Sekolah penerbang tersebut kelak berubah nama menjadi Landasan Udara Maguwo.
Dedikasinya dalam membangun pilar-pilar awal kekuatan udara Indonesia harus terhenti ketika ia turut gugur dalam insiden Dakota VT-CLA. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Landasan Udara Maguwo kemudian diubah namanya menjadi Bandara Adisutjipto Yogyakarta.
3. Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo
Lahir pada 31 Maret 1921, Adisumarmo gugur di usia yang masih muda, yakni 26 tahun, namun perannya tak kalah penting. Ia adalah pendiri Sekolah Radio Telegrafis Udara, institusi krusial yang memainkan peran besar dalam pengembangan sistem radio udara di lingkungan AURI pada masa-masa genting revolusi kemerdekaan.
Dalam penerbangan nahas tersebut, Adisumarmo turut serta dan bertugas sebagai operator radio pesawat Dakota VT-CLA. Setelah jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara (Semaki) di Yogyakarta, gelar Pahlawan Nasional resmi disematkan kepadanya pada tanggal 9 November 1974.
Untuk mengenang sumbangsihnya pada kedirgantaraan militer RI, namanya pun diabadikan sebagai nama Bandara Internasional Adisumarmo di Solo, Jawa Tengah.
Era Modern, Generasi 4.5 Dassault Rafale
Setelah berhasil melewati badai embargo alutsista mematikan dari Blok Barat di akhir dekade 1990-an, TNI AU kini tumbuh jauh lebih mandiri melalui strategi diversifikasi pertahanan.
Ruang udara NKRI saat ini dipagari secara berlapis oleh kombinasi F-16 Fighting Falcon (AS), pesawat pencegat kelas berat Sukhoi Su-27/30 (Rusia), BAE Hawk, hingga armada antigerilya Super Tucano.
Memasuki usianya yang ke-80 tahun pada 2026, matra udara ini bersiap menyambut tatanan peperangan jaringan sentris abad ke-21. Transformasi besar ini ditandai dengan mendaratnya kloter perdana 3 unit jet tempur canggih generasi 4.5 asal Perancis, Dassault Rafale, pada Januari 2026 lalu.
Tak hanya itu, mobilitas logistik dan pengawasan di udara juga disempurnakan dengan kehadiran pesawat angkut antarbenua C-130J Super Hercules, pesawat tanker udara Airbus A400M, hingga deretan drone tempur nirawak dari Tiongkok dan Turki.
Nah, itulah tadi jejak 80 tahun TNI AU dari masa ke masa, beserta dengan tokoh pendirinya. Dirgahayu ke-80 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara!