Kenali Preeklamsia, Penyakit yang Diduga Penyebab Wafatnya RA Kartini

Kenali Preeklamsia, Penyakit yang Diduga Penyebab Wafatnya RA Kartini

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 15 Apr 2026 06:00 WIB
RA Kartini
RA Kartini. Foto: Arsip Nasional RI
Samarinda -

RA Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat. Wafatnya Kartini menyisakan duka dan pertanyaan apa sebenarnya penyebab kematiannya?

Sampai saat ini, penyebab pasti kematiannya memang tidak pernah dipastikan dan diumumkan secara resmi. Jika ditelusuri lebih dalam, menurut beberapa laporan seperti yang pernah disaksikan oleh dokter yang berada saat Kartini meninggal, dr. van Ravesteyn, penyebabnya adalah komplikasi persalinan yang beberapa tahun kemudian dikenal dengan preeklamsia (PE).

Apa Itu Preeklamsia?

Preeklamsia adalah komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan pada organ lain, paling sering menyerang pada ginjal dan hati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini biasanya muncul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu. Preeklamsia juga sering disebut sebagai silent killer karena banyak ibu hamil tidak menyadari gejalanya sampai kondisinya menjadi sangat serius atau berubah menjadi Eklamsia (kejang pada ibu hamil).

Penyebab Preeklamsia

Hingga saat ini, penyebab pasti preeklamsia masih terus diteliti, tetapi para ahli sepakat bahwa masalah utamanya ada pada plasenta, terutama saat proses pembentukan pembuluh darah di awal kehamilan.

Pada kondisi normal, pembuluh darah akan berkembang dengan baik untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke janin. Nah, berbeda dengan preeklamsia, pembuluh darah tersebut menjadi lebih sempit, tidak berkembang optimal, dan bereaksi tidak normal terhadap hormon, dan menyebabkan aliran darah ke plasenta terganggu.

Kondisi ini kemudian memicu respons tubuh ibu yang berusaha mengompensasi dengan meningkatkan tekanan darah agar suplai darah ke plasenta tetap terpenuhi. Sayangnya, tekanan darah yang terus meningkat justru menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan organ vital seperti ginjal dan hati.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa preeklamsia bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti gangguan sistem imun, faktor genetik, maupun kerusakan pada lapisan pembuluh darah. Beberapa kondisi seperti hipertensi, diabetes, obesitas, serta kehamilan pertama atau kehamilan kembar juga dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia.

Gejala Preeklamsia

Karena dampaknya bisa memengaruhi berbagai organ tubuh seperti ginjal dan hati, preeklamsia harus diwaspadai pada ibu hamil. Sangat penting untuk mengenali gejalanya sejak dini agar bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi yang lebih berbahaya.

Berikut adalah gejala yang biasa dirasakan oleh penderika preeklamsia:

  • Protein dalam Urine (Proteinuria): Ini adalah tanda ginjal mulai bocor akibat tekanan darah tinggi
  • Sakit Kepala Hebat: Rasa sakit yang tidak hilang walaupun sudah minum obat
  • Gangguan Penglihatan: Pandangan kabur atau melihat bintik-bintik cahaya
  • Nyeri Perut Atas: Biasanya di bawah tulang rusuk sebelah kanan dekat hati
  • Pembengkakan (Edema): Terutama di bagian wajah dan tangan

Harapan Hidup Penderita Preeklamsia

Kabar baiknya, Preeklamsia sebenarnya bisa dikelola, terutama jika berhasil dideteksi sejak dini melalui pemeriksaan kehamilan yang rutin. Dengan pemantauan yang tepat tentunya dari dokter dan tenaga ahil, risiko komplikasi bisa ditekan sehingga keselamatan ibu dan janin tetap terjaga.

Beberapa langkah penanganan yang biasanya dilakukan antara lain:

  • Deteksi dini: Dilakukan melalui pemeriksaan kehamilan rutin (antenatal care), di mana dokter akan memantau tekanan darah serta kadar protein dalam urine sebagai indikator awal preeklamsia
  • Penanganan medis: Jika gejala mulai muncul, dokter dapat memberikan obat penurun tekanan darah, suplemen kalsium, hingga aspirin dosis rendah untuk membantu mengontrol kondisi
  • Solusi akhir: Satu-satunya cara paling efektif untuk menghentikan preeklamsia adalah dengan persalinan. Jika kondisi ibu semakin memburuk, dokter biasanya akan menyarankan induksi atau operasi sesar, biarpun usia kehamilan belum cukup bulan, demi keselamatan ibu dan bayi.

Dengan penanganan yang tepat dan cepat, banyak kasus preeklamsia bisa dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya seperti eklamsia. Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Meneruskan Cita-cita RA Kartini Menurut Selvi Ananda"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads