Helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air Nusantara jatuh di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, pada Kamis (16/4). Helikopter tersebut membawa delapan orang yang terdiri dari dua kru dan enam penumpang.
Tim SAR gabungan kemudian menemukan seluruh korban dalam kondisi meninggal dunia. Itu seperti yang disampaikan Kasat Reskrim Polres Sekadau, Zainal Abidin.
Kronologinya, pukul 07.37 WIB, Helikopter PK-CFX terbang dengan rute Kabupaten Melawi (PT Citra Mahkota) menuju PT Graha Agro Nusantara di Desa Teluk Bakung, Kubu Raya. Sekitar pukul 09.15 WIB, helikopter hilang kontak di sekitar wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, setelah memberikan sinyal darurat di wilayah tengah hutan Kalbar pada 08.39 WIB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi hilangnya kontak diterima AirNav sekitar pukul 10.40 WIB dan tim SAR langsung bergerak melakukan pencarian. Beberapa jam kemudian, serpihan helikopter ditemukan di kawasan hutan Dusun Hulu Peniti, wilayah perbukitan dan hutan lebat di sekitar Nanga Taman.
Lokasi jatuhnya helikopter itu berada di medan curam sehingga proses pencarian dan evakuasi berlangsung cukup sulit. Hingga Jumat (17/4/2026), tim SAR berhasil mengevakuasi seluruh korban.
Jenis Helikopter PK-CFX
Helikopter yang jatuh di Sekadau diketahui merupakan Airbus Helicopters H130 T2 milik PT Matthew Air Nusantara dengan nomor registrasi PK-CFX dan nomor seri produksi MSN 8304. Helikopter ini termasuk jenis helikopter bermesin tunggal yang banyak digunakan untuk penerbangan charter, wisata, patroli, hingga kebutuhan evakuasi medis.
Sebelum menggunakan nama H130, model ini dikenal sebagai EC130 T2.
Spesifikasi Helikopter PK-CFX PT Matthew Air
Dikutip dari laman Airbus, Airbus Helicopters H130 T2 memiliki kabin yang cukup luas untuk satu pilot dan tujuh penumpang. Dalam konfigurasi lain, H130 juga bisa digunakan untuk dua pilot dan lima penumpang, atau dimodifikasi untuk membawa satu tandu dan tiga hingga empat kru medis.
Beberapa spesifikasi utama Airbus Helicopters H130 T2:
- Tipe helikopter: Airbus Helicopters H130 T2
- Nomor seri produksi (MSN): 8304
- Tipe mesin: Safran Helicopter Engines Arriel 2D
- Tenaga mesin: 710 kW atau sekitar 952 shp
- Sistem mesin: Dual-channel FADEC dengan saluran cadangan otomatis
- Kapasitas: 1 pilot + 7 penumpang atau 2 pilot + 5 penumpang
- Berat lepas landas maksimum (MTOW): 2.500 kg
- Berat maksimum dengan beban eksternal: 3.050 kg
- Useful load / daya angkut: 1.037 kg
- Kapasitas bahan bakar: 425 kg
- Diameter rotor utama: 10,69 meter
- Panjang keseluruhan (D-value): 12,64 meter
- Volume kabin: 3,70 meter kubik
- Kecepatan jelajah maksimum: 237 km/jam
- Jarak tempuh maksimum: 606 km
- Daya tahan terbang: 4 jam
- Ketinggian terbang maksimum: 7.010 meter
- Hover ceiling OGE: 2.957 meter
- Hover ceiling IGE: 3.429 meter
- Sistem kokpit: Garmin G500H TXi glass cockpit
- Fitur navigasi: GPS map display, synthetic vision system (SVS), HTAWS
- Fitur keselamatan: Crash-resistant fuel system, energy-absorbing seats, active vibration control
- Jenis baling-baling ekor: Fenestron shrouded tail rotor
Fitur Keselamatan H130 T2
Airbus Helicopters H130 T2 dikenal sebagai salah satu helikopter yang cukup canggih dengan fitur keselamatan yang cukup lengkap. Helikopter ini dilengkapi sistem active vibration control untuk mengurangi getaran saat terbang, pendingin kabin yang lebih baik dibanding versi sebelumnya, kursi penyerap benturan, dan tangki bahan bakar tahan benturan.
Kokpit H130 juga sudah menggunakan Garmin G500H TXi glass cockpit yang dipadukan dengan synthetic vision system (SVS) dan helicopter terrain avoidance and warning system (HTAWS). Sistem tersebut bisa membantu pilot mengenali kondisi medan dan mengurangi risiko kecelakaan.
Selain itu, H130 sudah memiliki sistem navigasi VFR siang dan malam yang terintegrasi dengan GPS map display serta Vehicle and Engine Multifunction Display (VEMD) untuk membantu memantau kondisi mesin dan penerbangan.
Salah satu ciri khas H130 adalah penggunaan Fenestron tail rotor, yaitu baling-baling ekor yang berada di dalam pelindung. Desain ini membuat helikopter lebih aman bagi kru, lebih tahan terhadap benturan, dan menghasilkan suara yang jauh lebih senyap dibanding helikopter lainnya.
Tingkat kebisingan H130 bahkan disebut 6 dB lebih rendah dibanding batas kebisingan ICAO untuk operasi wisata udara. Karena itu, H130 banyak digunakan di kawasan wisata.
Keluarga Airbus H130 juga termasuk salah satu helikopter sipil paling populer di dunia. Menurut catatan Airbus, hingga tahun 2024 sudah lebih dari 900 unit H130 dikirim ke berbagai operator di dunia. Total jam terbang keluarga H130 juga telah mencapai sekitar 3,5 juta jam dengan lebih dari 467 operator aktif.
Simak Video "Video: Momen Evakuasi 8 Jenazah Helikopter PK-CFX yang Jatuh di Sekadau"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
