Warga Mempawah Keluhkan Limbah Dapur MBG Cemari Air, Pemilik Yayasan Minta Maaf

Warga Mempawah Keluhkan Limbah Dapur MBG Cemari Air, Pemilik Yayasan Minta Maaf

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Sabtu, 18 Apr 2026 19:59 WIB
Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)
Foto: Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)
Mempawah -

Warga Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mengeluhkan bau menyengat yang berasal dari limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Air parit yang biasa digunakan untuk berwudhu pun ikut tercemar.

Dapur MBG yang membuang limbah ke parit itu diketahui dikelola oleh Yayasan Lentera Pangan Borneo. Aktivitas dapur ini disebut mulai berdampak pada lingkungan sekitar, terutama dalam dua bulan terakhir.

Salah satu warga, Saleh, mengaku aktivitas sehari-harinya terganggu akibat bau tak sedap yang muncul setiap hari. Bahkan, kegiatan mengajar ngaji yang ia lakukan juga ikut terdampak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak-anak yang ngaji mau ambil wudhu tidak bisa. Saya mau mandi juga susah. Baunya minta ampun," kata Saleh, Sabtu (18/4/2026).

Ia menyebut, kondisi itu juga berdampak pada ketersediaan air bersih. Parit yang berada di depan rumahnya, yang sebelumnya menjadi sumber air, kini tidak lagi bisa digunakan.

Menurutnya, air parit berubah warna menjadi kehijauan, kotor, dan berbau menyengat.

Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)

"Dulu airnya jernih, tidak bau. Sekarang sudah tidak layak pakai," ujarnya.

Saleh mengungkapkan, perubahan kondisi lingkungan mulai terasa pada bulan kedua sejak dapur MBG beroperasi. Ia menduga limbah dapur MBG langsung dialirkan ke parit warga.

"Bulan pertama belum terasa. Masuk bulan kedua mulai muncul bau busuk, terutama malam dan pagi hari. Kalau malam itu parah sekali," ungkapnya.

Akibat kondisi tersebut, ia terpaksa mencari sumber air alternatif untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari menampung air hujan hingga menggunakan air tempayan.

"Sekarang harus pintar-pintar cari air. Kadang tampung air hujan, kadang pakai air tempayan," katanya.

Ia bahkan mengaku sempat membeli air bersih karena sumber air di sekitar rumahnya sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Terpisah, Perwakilan Yayasan Lentera Pangan Borneo, Feriandi membenarkan limbah tersebut berasal dari dapur MBG yang dikelolanya. Ia pun menyampaikan permintaan maaf.

"Kami mohon maaf atas kejadian ini yang sudah meresahkan masyarakat," katanya.

Sebagai langkah sementara, pihaknya akan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak melalui kerja sama dengan mitra. Ia memastikan distribusi akan terus dilakukan jika kebutuhan warga belum terpenuhi.

"Kami sudah berkoordinasi dengan mitra untuk menyediakan air bersih bagi warga terdampak. Kalau masih kurang, akan terus kami distribusikan sampai cukup," tutupnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads