Belasan Hektare Tambak di Bulungan Gagal Panen, Diduga Akibat Limbah Sawit

Belasan Hektare Tambak di Bulungan Gagal Panen, Diduga Akibat Limbah Sawit

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 23 Apr 2026 12:30 WIB
Tambak di Bulungan gagal panen diduga karena limbah dari pabrik sawit.
Tambak di Bulungan gagal panen diduga karena limbah dari pabrik sawit. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Bulungan -

Belasan hektare tambak tradisional milik warga diduga tercemar limbah beracun dari operasional pabrik kelapa sawit. Akibat dugaan pencemaran lingkungan ini, para petambak di sekitar area perusahaan mengeluhkan penurunan drastis hasil panen hingga gagal panen massal.

Salah satu petambak setempat bernama Aymar Saputra mengungkapkan bahwa penurunan produksi tambak mulai terasa sejak perusahaan kelapa sawit beroperasi dan diduga membuang limbah ke sungai yang mengaliri tambak warga. Padahal, warga sudah menggarap tambak tersebut sejak tahun 2017, jauh sebelum perusahaan beroperasi.

"Sebelum adanya perusahaan, hasil tambak kami dari segi udang, ikan, dan kepiting itu lumayan banyak. Nebar udang 200-300 ribu bisa panen berton-ton per tiga bulan. Namun sejak ada perusahaan dan membuang limbah, hasil panen jatuh merosot," ungkap Aymar kepada detikKalimantan, Kamis (23/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aymar menambahkan, ada sekitar 10 petak tambak warga (dengan luasan per petak sekitar 16 hektare) yang terdampak serempak. Awalnya, warga mengira ada kesalahan teknis budidaya dan sudah mencoba berbagai metode seperti mengatur pH air dan mengganti pupuk, namun tetap nihil hasil.

"Warga juga mendapati adanya tanggul penampungan limbah perusahaan yang diduga jebol dan dibiarkan mengendap bertahun-tahun," terangnya.

Arhan selaku perwakilan dari komunitas pecinta tambak yang mendampingi warga membenarkan adanya temuan di lapangan terkait aliran air dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) perusahaan yang bermuara langsung ke pintu-pintu tambak masyarakat.

"Dampak yang paling terasa bagi masyarakat adalah adanya pencemaran limbah B3 yang berpengaruh terhadap produktivitas. Kami sudah menelusuri arah jalur limbah dan memang terhubung langsung ke area parit pembuangan tambak," jelas Arhan.

Pihaknya menuntut transparansi perusahaan terkait dokumen lingkungan, seperti AMDAL dan sertifikasi ISO 14001:2015, guna memastikan apakah perusahaan taat pada regulasi lingkungan.

"Kami akan mencoba mediasi dengan mengundang Camat, Kepala Desa, dan Polsek setempat. Jika perusahaan tidak mau bermediasi dan mengambil langkah konkret, kami terpaksa akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Bulungan," tegasnya.

Di sisi lain, Manajer Humas PT Abdi Borneo Plantation (ABP) Ahmad Ramadhani menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan tata kelola pembuangan limbah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan regulasi pemerintah, termasuk menaruh alat kontrol pemantauan dari Kementerian Lingkungan Hidup di titik pembuangan terakhir.

"Terkait pencemaran, menurut kami sebenarnya tidak ada. Kami sudah undang instansi yang bersangkutan (Dinas Lingkungan Hidup/DLH) untuk memastikan, dan berdasarkan hasil uji lab, ternyata hasilnya nihil (tidak ada pencemaran)," jelas Ramadhani saat ditemui di ruangannya.

Ramadhani juga membantah adanya tanggul limbah yang jebol dan mengklaim limbah dikelola dengan baik sebelum dialirkan ke luar. Terkait mediasi, pihak perusahaan menolak untuk berhadapan langsung dengan warga dan meminta agar prosesnya dilakukan melalui jalur pemerintah.

"Untuk mediasi, silakan melalui pemerintah, tidak melalui kami. Karena kami sudah melakukan (pengecekan) bersama pemerintah. Kalau dari pemerintah mengatakan memang ada dampak dari sini, kami akan akui dan siap menerima sanksi administratif sesuai regulasi," pungkas Ramadhani.

Tim detikKalimantan sudah mendatangi kantor DLH Kabupaten Bulungan, namun Kepala Bidang terkait masih melakukan peninjauan lapangan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 11,43% Lahan Padi di Sumatera Berpotensi Gagal Panen Buntut Bencana"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads