Apa Bedanya El Nino dan La Nina? Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau

Apa Bedanya El Nino dan La Nina? Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 27 Apr 2026 17:59 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem hingga berpotensi banjir di Jawa Timur.
Ilustrasi cuaca ekstrem. Foto: Gemini AI
Balikpapan -

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu belakangan ini membuat banyak orang mulai akrab dengan istilah El Nino dan La Nina. Kedua fenomena ini memang sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem di musim kemarau maupun penghujan.

Apa sebenarnya yang membedakan El Nino dan La Nina? Mengapa dampaknya bisa begitu besar, termasuk bagi Indonesia?

Dalam klimatologi, kedua fenomena ini merupakan bagian dari sistem yang disebut El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yaitu anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang memengaruhi sirkulasi atmosfer dan distribusi curah hujan di berbagai wilayah dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiga Fase ENSO yang Mempengaruhi Iklim

Dijelaskan oleh Climate Early Warning System, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam kondisi normal, iklim di Samudera Pasifik bergerak dalam tiga fase utama:

  • Fase Netral: Pada kondisi ini, angin pasat bertiup stabil dari timur ke barat. Angin ini mendorong air hangat ke arah Pasifik barat, termasuk wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia cenderung memiliki suhu laut yang lebih hangat dan curah hujan yang relatif stabil dibandingkan Pasifik timur.
  • Fase El Nino: Pada fase ini, angin pasat melemah bahkan bisa berbalik arah. Air hangat yang biasanya berkumpul di wilayah Indonesia justru bergeser ke arah tengah dan timur Pasifik. Pergeseran ini menyebabkan pusat pembentukan awan ikut berpindah, sehingga wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan.
  • Fase La Nina: Kebalikan dari El Nino, angin pasat justru menguat. Air hangat semakin terdorong ke wilayah barat, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat pembentukan awan meningkat dan curah hujan menjadi lebih tinggi dari biasanya.

Apa Itu El Nino?

Dampak El Nino di Indonesia tahun 1997. Terlihat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kekeringan fatal. (dok BMKG)Foto: Dampak El Nino di Indonesia tahun 1997. Terlihat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kekeringan fatal. (dok BMKG)

Seperti yang telah dijelaskan, El Nino adalah kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari kondisi normalnya. Istilah ini berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "anak laki-laki", merujuk pada fenomena arus laut hangat yang muncul menjelang Natal di pesisir Peru dan Ekuador.

El Nino sebenarnya adalah anomali iklim yang terjadi secara global. Ketika suhu laut di Pasifik timur menghangat, distribusi uap air dan pembentukan awan pun ikut berubah.

Awan-awan hujan yang biasanya terbentuk di wilayah Indonesia justru bergeser ke tengah Pasifik. Inilah sebabnya Indonesia sering mengalami kekeringan saat El Nino terjadi.

Dampaknya tidak hanya terasa pada berkurangnya hujan, tetapi juga merambat ke berbagai sektor. Lahan pertanian menjadi kering, cadangan air menurun, dan risiko kebakaran hutan meningkat tajam.

Peristiwa El Nino kuat tercatat pada tahun 1997 ketika sebagian besar wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang drastis.

Meski demikian, El Nino tidak berarti hujan tidak turun. Pada periode tertentu, seperti akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, hujan masih bisa turun, meskipun jumlahnya jauh di bawah normal.

Apa Itu La Nina?

Dampak La Nina di Indonesia tahun 2010. Hujan deras melanda hampir seluruh wilayah Indonesia pada Juli- Agustus. (dok BMKG)Foto: Dampak La Nina di Indonesia tahun 2010. Hujan deras melanda hampir seluruh wilayah Indonesia pada Juli- Agustus. (dok BMKG)

La Nina adalah kondisi kebalikan dari El Nino, yaitu ketika suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur justru lebih dingin dari biasanya. Pendinginan ini memperkuat sirkulasi atmosfer, termasuk Sirkulasi Walker yang berperan dalam pembentukan awan di wilayah Indonesia.

Ketika La Nina terjadi, wilayah Indonesia menerima lebih banyak uap air. Awan hujan terbentuk lebih intens, sehingga curah hujan meningkat secara signifikan. Bahkan, dalam banyak kasus, peningkatan ini bisa mencapai 20 hingga 40 persen di atas kondisi normal.

Akibatnya, berbagai wilayah di Indonesia menjadi lebih rentan terhadap banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem lainnya.

Pada tahun 2010 misalnya, La Nina kuat menyebabkan curah hujan yang sangat tinggi di berbagai daerah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan dan Sulawesi.

Namun seperti halnya El Nino, La Nina juga tidak meniadakan musim sepenuhnya. Kemarau tetap terjadi, tetapi dengan intensitas hujan yang lebih tinggi, sehingga sering disebut sebagai kemarau basah.

Perbedaan El Nino dan La Nina

Perbedaan mendasar antara El Nino dan La Nina sebenarnya terletak pada suhu permukaan laut dan kekuatan angin pasat di Samudera Pasifik.

El Nino ditandai dengan pemanasan laut di bagian timur Pasifik yang menyebabkan Indonesia kehilangan sumber hujan, sedangkan La Nina ditandai dengan pendinginan laut di wilayah yang sama sehingga justru meningkatkan pembentukan awan di Indonesia.

Perbedaan ini kemudian memengaruhi pola curah hujan musiman. Pada periode Juni hingga November, El Nino cenderung menurunkan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sementara La Nina justru meningkatkannya. Pada musim hujan, pengaruh keduanya tetap ada, meskipun dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti angin monsun.

Dengan pemahaman di atas, masyarakat sebaiknya mulai mengenali tanda-tanda awal terjadinya El Nino maupun El Nina, sehingga kesiapan dan antisipasi juga bisa dilakukan sejak dini.

Semoga informasi ini bermanfaat!

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Antisipasi El Nino, Pramono Prioritaskan Ketahanan Pangan-Pencegahan ISPA"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads