Sopir di Krayan Swadaya Rp 20 Juta Bangun Jalan Agar Sembako Sampai ke Warga

Sopir di Krayan Swadaya Rp 20 Juta Bangun Jalan Agar Sembako Sampai ke Warga

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 04 Mei 2026 20:00 WIB
Driver swadaya memperbaiki jalan
Driver swadaya memperbaiki jalan/Foto: Istimewa
Nunukan -

Perjuangan sopir mobil pengangkut barang kebutuhan pokok di pedalaman Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tak main-main. Demi memastikan sembako sampai ke dapur warga, mereka rela merogoh kocek pribadi hingga puluhan juta Rupiah untuk memperbaiki jalan berlumpur secara swadaya.

Jacky, salah seorang driver di Krayan mengungkapkan akses jalan yang berada di perbatasan Krayan Timur dan Krayan Tengah rusak parah dan menjadi jebakan lumpur yang mematikan urat nadi transportasi. Untuk bisa melintas, empat orang driver berinisiatif patungan mengumpulkan dana hingga Rp 20 juta.

"Kami patungan hampir Rp 20 juta untuk buka ini jalan. Uang pribadi kami, empat driver. Kami bayar 12 orang kampung untuk menggesek kayu buat jembatan supaya mobil sementara bisa lewat. Dana yang terkumpul digunakan buat beli bahan bakar, paku, oli, logistik makanan, hingga membayar upah belasan warga setempat untuk membangun jembatan darurat. Bahkan notanya ada," ungkap Jacky.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat besarnya biaya operasional tak terduga, para driver terpaksa menaikkan ongkos angkut barang dari Krayan Induk (Long Bawan) ke Krayan Tengah, yang semula Rp 5.000 per kilogram kini menjadi Rp 8.000 per kilogram.

"Swadaya driver Krayan tengah buka ini jalan selama satu minggu baru bisa dilewati seperti sekarang ini," terangnya.

Kondisi itu dibenarkan oleh Camat Krayan Timur, Marjuni. Ia menyebut titik kerusakan terparah berada di jalan nasional yang menghubungkan Long Umung (Krayan Timur) dan Baliku (Krayan Tengah). Menurut pantauannya akhir pekan lalu, kerusakan berupa kubangan lumpur terjadi di beberapa titik dengan panjang masing-masing sekitar 4 meter.

"Dalamnya itu bisa sampai di ujung lutut. Kemarin ada mobil yang kandas sampai sore, untung ada mobil dari Baliku yang lewat menariknya," kata Marjuni.

Terkait lambatnya penanganan dari pihak kontraktor perawatan jalan, Marjuni menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh kendala teknis. "Bulan Januari dan Februari mereka kerja, tapi di bulan Maret alat berat mereka rusak. Itulah kenapa jalan di tempat. Baru di awal bulan Mei ini mereka mulai bergerak dan bekerja lagi," jelasnya.

Di sisi lain, Marjuni sangat mengapresiasi inisiatif para driver yang mau berkorban demi kelancaran pasokan sembako di tengah ketiadaan jalur alternatif. Namun, ia menegaskan bahwa status jalan nasional ini adalah kewenangan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).

"Kami di pemerintah kecamatan ini juga sudah muak, sudah bosan dengan kondisi yang seperti ini. Ini jadi permasalahan rutin tiap tahun. Kami minta ke Balai, kalau bisa diubah perencanaannya dari pemeliharaan jadi peningkatan, paling tidak sampai pemasangan agregat (batu) agar aman dilewati," tegas Marjuni.

Sembari menunggu perbaikan permanen, pihak kecamatan mengimbau para driver untuk berkolaborasi merawat jalan darurat yang ada, misalnya dengan membawa dan menimbun batu di lubang-lubang jalan saat armada dalam keadaan kosong.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads