Kronologi Polemik Penilaian LCC MPR RI Versi Alumni SMAN 1 Pontianak

Kronologi Polemik Penilaian LCC MPR RI Versi Alumni SMAN 1 Pontianak

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Selasa, 12 Mei 2026 15:35 WIB
Miranda dan Karisma, alumni peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) SMAN 1 Pontianak memberikan kesaksian polemik LCC Empat Pilar MPR RI. (Ocsya Ade CP)
Foto: Miranda dan Karisma, alumni peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) SMAN 1 Pontianak memberikan kesaksian polemik LCC Empat Pilar MPR RI. (Ocsya Ade CP)
Pontianak -

Alumni peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) SMAN 1 Pontianak, Miranda (17) dan Karisma (18), mengungkap kronologi polemik penilaian dalam final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang kini viral di media sosial. Mereka mengaku melihat adanya ketidak adilan dalam jalannya perlombaan.

Miranda dan Karisma mengaku menyaksikan langsung jalannya perlombaan sejak awal hingga selesai. Keduanya menilai telah terjadi kekeliruan penilaian oleh dewan juri terhadap jawaban peserta SMAN 1 Pontianak.

"Kami dari awal pertandingan itu dimulai sampai selesai sangat mengamati pertandingan tersebut," kata Miranda saat ditemui di SMAN 1 Pontianak, Selasa (12/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut mereka, polemik bermula saat peserta SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Namun jawaban itu dinyatakan salah oleh juri.

Miranda menyebut tim SMAN 1 Pontianak langsung mengajukan protes setelah keputusan tersebut diberikan. Namun, protes itu disebut tidak mendapat respons yang diharapkan.

"Peserta SMA Negeri 1 Pontianak sudah mengajukan protes kepada pihak juri. Namun respons yang mereka dapatkan malah mengatakan bahwa mereka tidak ada mengatakan jawaban yang seharusnya ada," ujarnya.

Ia juga menyoroti reaksi peserta lain yang disebut ikut membantah jawaban tim SMAN 1 Pontianak di hadapan juri. Menurutnya, upaya protes tidak mendapat dukungan dari peserta lain.

"Bisa dilihat dari cuplikan Youtube, peserta lain terutama yang berada di podium mengatakan tidak dan menunjukkan gestur bahwa SMA Negeri 1 Pontianak itu tidak menjawab jawaban yang seharusnya," katanya.

Menurut Miranda, situasi itu membuat juri semakin yakin mempertahankan keputusan penilaian.

"Pada akhirnya dewan juri menutup penilaian karena merasa ada juga yang membackup penilaian ini," ujarnya.

Miranda mengatakan penonton yang berada di lokasi sebenarnya sempat mencoba memberi tahu juri bahwa jawaban peserta SMAN 1 Pontianak terdengar jelas.

"Saya dan yang lain dari bawah podium sudah mengatakan 'ada, ada, ada'. Tapi dari pihak juri tidak mendengar atau tidak menggubris kami," tuturnya.

Ia mengaku sempat mengangkat tangan untuk menyampaikan keberatan, namun tidak direspons. Miranda kemudian mendatangi pembina SMAN 1 Pontianak sambil membawa rekaman tayangan Youtube sebagai bukti.

"Lalu pembina mencoba memprotes dengan berdiri dan mengangkat tangan. Tapi respons dari juri mengatakan bahwa yang bisa menyampaikan protes hanyalah peserta dan keputusan juri bersifat final dan mengikat," katanya.

Setelah lomba selesai dan SMAN 1 Pontianak dinyatakan sebagai juara dua, Miranda mengaku masih mencoba menemui salah satu juri untuk meminta penjelasan.

"Saya mencoba berbicara kepada salah satu juri, tapi hasilnya nihil. Saya hanya diarahkan berbicara kepada stafnya," ujarnya.

Menurutnya, pihak panitia hanya menyampaikan permintaan maaf tanpa ada tindak lanjut atas keberatan yang disampaikan.

"Yang saya dapatkan hanya permohonan maaf, tidak ada aksi nyata," pungkasnya.

Sebelumnya, polemik LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar menjadi sorotan usai video penilaian juri viral di media sosial.

Dalam video itu, peserta dari SMAN 1 Pontianak dinyatakan salah saat menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota BPK.

Padahal, sejumlah pihak menilai jawaban peserta sudah benar secara konstitusional. Polemik itu memicu berbagai respons, termasuk desakan agar MPR RI memberikan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka.

Anggota MPR RI sekaligus alumni SMAN 1 Pontianak, Rifqi Nizami Karsayuda, bahkan meminta juri yang memberi penilaian tersebut diblacklist dan siswa SMAN 1 Pontianak diberikan penghargaan.




(aau/aau)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads