Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menyiapkan 24 layanan klinik baru di Gedung Pandurata. Salah satu yang menjadi perhatian ialah Klinik Memori yang disiapkan untuk menangani gangguan daya ingat hingga fungsi saraf.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr Jaya Mualimin mengatakan seluruh layanan itu merupakan bagian dari penguatan kompetensi rumah sakit sesuai standar pelayanan kesehatan nasional.
"Di Pandurata nanti kita siapkan semua layanan sesuai 24 kompetensi rumah sakit. Jadi memang bukan cuma satu layanan saja," ujarnya, Sabtu (16/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jaya menjelaskan AWS nantinya akan memiliki berbagai layanan khusus seperti Klinik Memori, Klinik Nyeri hingga Klinik Tidur. Seluruhnya masuk dalam penguatan layanan neurologi dan penyakit degeneratif yang belakangan mulai meningkat.
Menurutnya, Klinik Memori menjadi penting karena gangguan fungsi kognitif masyarakat kini mulai banyak ditemukan. Terutama yang berkaitan dengan kemampuan otak menyimpan dan memanggil kembali informasi.
"Memori itu bagian dari fungsi kognitif. Jadi bagaimana otak mengenali sesuatu, menyimpan, lalu me-recall kembali informasi yang sudah masuk," katanya.
Jaya menerangkan proses memori manusia berkaitan dengan hipokampus di otak. Karena itu, fungsi otak juga perlu terus dilatih agar kemampuan mengingat tidak menurun.
"Kalau memori enggak dipakai, ya bisa tumpul juga. Makanya orang harus aktif membaca, komunikasi, cari pengetahuan baru supaya otaknya terus bekerja," jelasnya.
Saat ini pembangunan Gedung Pandurata masih difokuskan pada tahap finishing. Setelah bangunan rampung, pemerintah akan melanjutkan pengadaan alat kesehatan untuk seluruh layanan baru tersebut.
"Tahun ini targetnya finishing dulu. Setelah itu baru pengadaan alat-alatnya," ujarnya.
Ia menyebut, sebagian layanan sebenarnya sudah berjalan di AWS dan nantinya tinggal dipindahkan ke gedung baru. Sedangkan layanan yang belum tersedia akan disiapkan sarana-prasarana serta peningkatan kompetensi tenaga medisnya.
"Kalau kliniknya sudah ada sebelumnya, tinggal dipindah. Tapi yang belum ada tentu kita siapkan sarana-prasarana dan upgrading SDM-nya," katanya.
Menurut Jaya, layanan tersebut nantinya tetap ditangani tenaga medis yang sudah ada di AWS. Namun beberapa dokter akan menjalani pelatihan lanjutan hingga fellowship sesuai kebutuhan masing-masing klinik.
"Dokter-dokternya tetap yang ada sekarang, cuma nanti ada peningkatan kemampuan sesuai bidangnya masing-masing," jelasnya.
Selain itu, layanan yang nantinya masuk dalam sistem kesehatan nasional ini juga akan didaftarkan agar dapat dijamin BPJS. Meski demikian, proses itu menyesuaikan jenis layanan dan regulasi yang berlaku.
"Kalau sudah masuk dalam sistem pelayanan kesehatan, pasti akan kita dorong masuk pembiayaannya (BPJS) juga," pungkasnya.
(sun/aau)
