Ada sebuah masjid di Banjarmasin yang berdiri megah di atas lahan bersejarah Foort Tatas. Masjid Raya Sabilal Muhtadin namanya, beralamat di Jalan Sabilal Muhtadin, Kelurahan Antasan Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah.
Letaknya persis di tepi barat Sungai Martapura yang merupakan urat nadi Kota Seribu Sungai ini. Nama "Sabilal Muhtadin" dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada ulama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atas kitabnya berjudul Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-din.
Masjid ini bukan hanya unik dari sisi sejarah, tapi juga memiliki arsitektur yang megah di tengah komplek yang luas. Mari melihat kemegahan Masjid Raya Sabilal Muhtadin dari dekat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemegahan Arsitektur Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Suasana di dalam Masjid Raya Sabilal Muhtadin. (Dok. Masjid Raya Sabilal Muhtadin) |
Sejak pandangan pertama, Masjid Raya Sabilal Muhtadin akan langsung mencuri perhatian dengan kesannya yang kokoh dan megah.
Bangunan utamanya berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 100.000 meter persegi, dengan luas ruang utama mencapai 5.250 meter persegi. Struktur masjid dirancang dengan menggabungkan kubah besar, menara tinggi, serta dinding kokoh berlapis marmer.
Salah satu daya tarik utamanya adalah kubah besar berdiameter 38 meter yang dilapisi bahan aluminium sheet berwarna emas. Kubah ini ditopang oleh rangka baja yang kuat yang akan membuat siluet megah.
Di sekelilingnya juga dilengkapi dengan empat menara kecil setinggi 21 meter dan satu menara utama menjulang hingga 45 meter.
Seluruh bagian bangunan, mulai dari lantai, dinding, hingga area plaza dibalut dengan marmer krem muda seluas kurang lebih 14.830 meter persegi. Material mewah ini membuat suasana masjid menjadi sejuk dan menciptakan suasana khusyuk bagi jamaah.
Memasuki bagian dalam masjid, nuansa artistik semakin terasa kuat. Interior Masjid Raya Sabilal Muhtadin dirancang dengan konsep yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mampu menyentuh tiap hati umat Islam yang beribadah di dalamnya untuk mengingat keagungan Allah SWT.
Elemen utama di dalam masjid ini adalah kaligrafi Arab yang menghiasi berbagai sudut bangunan. Ayat-ayat Al-Qur'an, Asmaul Husna, serta nama-nama Khulafaur Rasyidin ditulis dengan teknik ukiran tembaga yang dihitamkan. Gaya kaligrafi yang digunakan pun beragam, mulai dari Naskhi, Tsuluts, Diwani, Riq'ah hingga Kuf.
Selain itu, lampu gantung berukuran besar juga menjadi daya tarik. Lampu gantung itu terdiri dari 17 unit dengan ribuan bola kaca yang tersusun melingkar hingga diameter 9 meter. Kesan sangat mewah akan terasa ketika memasuki area dalam masjid.
Motif tumbuh-tumbuhan juga mendominasi dekorasi. Dikutip dari laman IDR UIN Antasari, desain interior masjid ini berpijak pada tiga konsep utama, yaitu menghadirkan suasana religius, mengharmoniskan fungsi dan keindahan ornamen, serta tidak lupa menampilkan identitas budaya Kalimantan.
Dengan desain yang luas dan terbuka, Masjid Raya Sabilal Muhtadin mampu menampung hingga 15.000 jamaah, dengan rincian sekitar 7.500 orang di dalam ruangan dan 7.500 lainnya di area halaman. Karena luas dan daya tampung besar inilah yang membuat masjid ini menjadi salah satu masjid terbesar di Kalimantan Selatan.
Sejarah Berdirinya Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Kemegaham Masjid Raya Sabilal Muhtadin. (Arsip Kementerian Agama RI) |
Cikal bakal pembangunan masjid ini bermula pada tahun 1772, ketika seorang ulama asal Mekkah bernama Syekh Abdul Jalil bin Abdullah Alkaff tiba di Banjarmasin dan mendirikan sebuah surau sederhana di kawasan Martapura.
Surau tersebut kemudian berkembang pesat dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat saat itu. Pada tahun 1850, bangunan ini diperluas oleh putranya, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama besar yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.
Memasuki tahun 1960-an, masjid ini mengalami renovasi besar dan mulai dikenal dengan nama Sabilal Muhtadin, yang diambil dari karya monumental Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari berjudul Sabilal Muhtadin Fi Syarh al-Muqaddimah Al-Jazariyah.
Seiring meningkatnya kebutuhan umat Islam akan tempat ibadah, para tokoh masyarakat dan ulama Kalimantan Selatan berinisiatif membangun masjid yang lebih besar dan juga monumental. Tokoh-tokoh seperti H. Maksid (mantan Gubernur Kepala Daerah), M. Yusi (mantan Panglima Daerah Militer), dan H. Hasan Basry, bersama para ulama, bersatu mewujudkan cita-cita tersebut.
Rencana pembangunan dimulai pada tahun 1974 dengan pemancangan tiang pertama yang dilakukan oleh Gubernur Soebarjo. Proyek ini melibatkan PT. Griya Cipta Sarana sebagai perencana dan PT. Barata Metalworks sebagai pelaksana pembangunan.
Masjid ini mulai digunakan pertama kali pada 31 Oktober 1979, bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha. Akhirnya masjid ini resmi diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1981, diiringi gema takbir, beduk, dan sirine yang menggema memenuhi Banjarmasin.
Hingga saat ini, Masjid Raya Sabilal Muhtadin digunakan juga sebagai pusat kegiatan keislaman, bahkan terdapat kantor Badan Arbitrase Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (BASYARNAS-MUI) di komplek masjid ini.
(aau/aau)

