Prabowo Sebut 'Orang Desa Tak Pakai Dolar', Gerindra: Supaya Rakyat Tidak Panik

Nasional

Prabowo Sebut 'Orang Desa Tak Pakai Dolar', Gerindra: Supaya Rakyat Tidak Panik

Matius Alfons Hutajulu - detikKalimantan
Senin, 18 Mei 2026 18:59 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Angka tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Balikpapan -

Juru Bicara Partai Gerindra Bahtra Banong angkat bicara mengenai pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut orang desa tidak pakai dolar. Bahtra menilai pidato tersebut disalahpahami oleh publik karena hanya ditampilkan sepotong, sehingga membentuk framing seolah Prabowo tidak memahami dampak dolar terhadap ekonomi hingga ke desa.

Dilansir detikNews, Bahtra menegaskan bahwa tujuan pidato Prabowo itu sebenarnya untuk memberi kepastian pada masyarakat agar tidak panik karena kondisi rupiah yang terus melemah terhadap kurs dolar. Ia menyayangkan bagian pidato hanya ditampilkan sepotong dan terbentuk framing yang tidak sesuai dengan tujuan awal.

"Pidato Presiden dipotong hanya pada satu kalimat, lalu dibangun framing seolah Presiden tidak memahami dampak dolar terhadap ekonomi. Itu jelas keliru dan tidak fair. Kalau didengar utuh, Presiden sedang mengajak rakyat untuk tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat," kata Bahtra dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahtra menegaskan bahwa Prabowo paham dinamika ekonomi global, termasuk dampak perang dagang, ketidakpastian geopolitik, serta tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang. Namun, ia menilai Prabowo memiliki tanggung jawab untuk menjaga psikologi publik dan membangun optimisme nasional.

"Presiden tidak ingin rakyat dibebani rasa takut berlebihan. Pesan beliau sederhana yakni jangan mudah panik, jangan mudah merasa Indonesia akan kolaps hanya karena tekanan global. Kita punya kekuatan ekonomi domestik yang besar," tegasnya.

Bahtra menambahkan, Prabowo menggunakan pernyataan 'orang desa tidak pakai dolar' sebagai cara komunikasi sederhana untuk menggambarkan bahwa ekonomi di tingkat bawah tetap bergerak dan bertahan karena ditopang sektor riil domestik.

"Artinya ekonomi rakyat kita punya daya tahan karena bertumpu pada produksi dan konsumsi dalam negeri," imbuhnya.

Bahtra menegaskan pemerintahan Prabowo saat ini sedang menjalankan agenda besar kemandirian ekonomi nasional, di antaranya melalui program hilirisasi industri, swasembada pangan, ketahanan energi, penguatan koperasi desa merah putih, industrialisasi nasional, serta peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

"Justru inti pidato Presiden adalah bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kemandirian ekonomi. Kita memperkuat hilirisasi, memperbesar ekspor, mengurangi ketergantungan impor, dan membangun kekuatan produksi nasional. Banyak program prioritas pemerintah yang basisnya kekuatan domestik, bukan ketergantungan terhadap dolar," lanjutnya.

Bahtra mengajak masyarakat untuk melihat pidato Prabowo secara utuh, objektif, dan substansial, bukan melalui potongan narasi yang menyesatkan.

"Presiden Prabowo sedang menyampaikan pesan besar bahwa Indonesia harus percaya pada kekuatan sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, dan terus melangkah menuju kemandirian ekonomi nasional," tutup Bahtra.

Baca selengkapnya di detikNews.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads