Nasib Buruh Tambang Emas: Patah Kaki di Palangka Raya, Telantar di Kobar

Nasib Buruh Tambang Emas: Patah Kaki di Palangka Raya, Telantar di Kobar

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Minggu, 14 Jun 2026 07:00 WIB
Buruh Tambang Emas Patah Kaki
Buruh tambang emas yang patah kaki/Foto: Istimewa (dok Dinsos Kobar)
Kotawaringin Barat -

Kondisi memprihatinkan dialami S (33), seorang buruh tambang asal Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dengan kaki patah akibat kecelakaan kerja, pria tersebut ditemukan telantar di wilayah Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah pada Sabtu (13/6).

Ia ditemukan tanpa dokumen identitas, tanpa telepon genggam, dan jauh dari keluarga di sekitar Kelurahan Kumai Hilir. Beruntung, laporan warga segera ditindaklanjuti Dinas Sosial (Dinsos) Kobar sehingga ia mendapatkan perawatan medis dan pendampingan dari pemerintah daerah.

Informasi mengenai keberadaan S diterima Dinsos Kobar dari Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Kumai Hilir. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim Dinsos langsung menuju lokasi untuk melakukan asesmen dan menjemput yang bersangkutan guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selanjutnya, S dibawa ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun untuk menjalani pemeriksaan medis. Selain memastikan korban mendapatkan layanan kesehatan, Dinsos Kobar juga berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) setempat untuk menelusuri identitas serta memverifikasi kepesertaan BPJS Kesehatan milik korban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal tim medis, S harus menjalani rawat inap sebagai persiapan operasi akibat patah tulang pada kakinya. Kepada petugas, S mengaku mengalami kecelakaan kerja saat bekerja di sebuah tambang emas di wilayah Palangka Raya pada Mei 2026.

"Saat bekerja, kaki saya tertimpa batu hingga mengalami patah tulang dan sempat mendapatkan perawatan di sebuah klinik di Palangka Raya. Kemudian saya dibawa menuju Kotawaringin Barat katanya mau dipulangkan ke Sambas, Kalbar. Namun justru saya ditinggal begitu saja oleh orang yang membawa saya bekerja di Kumai ini," aku S, Sabtu (13/6).

Ia mengaku sempat dijanjikan akan dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Sambas. Namun, setelah tiba di Kumai pada awal Juni 2026, ia justru ditinggalkan tanpa pendampingan dan harus menghadapi kondisinya seorang diri.

"Saya tidak lagi memegang dokumen seperti KTP, Kartu Keluarga, kartu BPJS Kesehatan, hingga telepon genggam, sehingga semakin menyulitkan saya untuk mendapatkan bantuan," ujarnya sedih.

Plt Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinsos Kobar, Saini, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi yang dialami S. Ia memastikan pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan hingga proses pengobatan dan pemulangan selesai.

"Setelah kondisi kesehatan Saudara S stabil dan dinyatakan dapat pulang oleh pihak rumah sakit, kami akan memfasilitasi pemulangannya ke Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Saat ini kami juga sedang berupaya menelusuri dan menjalin komunikasi dengan pihak keluarga untuk mempersiapkan proses pemulangan yang bersangkutan," ujarnya.

Saat ini, fokus utama adalah memastikan kondisi kesehatan S pulih pascaoperasi. "Sementara itu, Dinsos Kobar terus melakukan upaya penelusuran keluarga agar proses pemulangan ke kampung halaman dapat berjalan lancar setelah ia dinyatakan sembuh oleh tim medis," ujar Saini.




(sun/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads