Yang Unik di Kalimantan: Setop Bukan karena Kereta Lewat, tapi Mobil Tambang

Yang Unik di Kalimantan: Setop Bukan karena Kereta Lewat, tapi Mobil Tambang

Riani Rahayu - detikKalimantan
Senin, 29 Jun 2026 07:05 WIB
Kondisi jalan nasional yang membelah area konsesi milik perusahaan pertambangan PT KPC.
Mobil tambang lewat/Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Kutai Timur -

Beberapa waktu lalu viral di media sosial, pengendara mobil memperlihatkan antrean kendaraan saat melintas di jalan. Dalam video tersebut, tampak mereka berhenti karena menunggu mobil tambang melintas di depan mereka.

Dalam video yang diunggah akun TikTok @DinoRaurus tertulis 'Normal day in Kalimantan'. Lalu tag-nya menerangkan bahwa lokasinya berada di Bengalon, Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim).

Diketahui, jalan tersebut merupakan jalan poros nasional Sangatta- Bengalon. Sementara itu, mobil tambang yang lewat merupakan milik PT Kaltim Prima Coal (KPC).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Manager External Relations KPC, Nanang Supriyadi membenarkan jalan itu merupakan jalan crossing, tidak terlepas dari kondisi jalan nasional yang membelah area konsesi tambang. Namun ia memastikan keselamatan pengguna jalan tetap menjadi prioritas di titik crossing. Pihaknya sudah melakukan pengamanan agar aktivitas produksi tidak mengganggu masyarakat yang melintas.

"Yang perlu dipahami bersama, jalan nasional itu memang melintas di area konsesi tambang. Untuk memperlancar operasional tentu kami memerlukan crossing, tetapi crossing tersebut berizin karena kami mengurus perizinannya melalui Balai Jalan," ujar Nanang kepada detikKalimantan, Minggu (28/6/2026).

Menurut Nanang, aspek keselamatan menjadi perhatian utama perusahaan dalam mengoperasikan crossing tersebut. Karena itu, KPC menerapkan sejumlah prosedur agar potensi kecelakaan dapat diminimalkan.

"Yang menjadi konsen kami adalah bagaimana crossing ini tidak menimbulkan potensi kecelakaan. Keselamatan masyarakat tetap menjadi yang utama," kata Nanang.

Ia menjelaskan kendaraan masyarakat diprioritaskan melintas sebelum kendaraan tambang diberi kesempatan menyeberang. Kendaraan tambang hanya akan bergerak setelah arus lalu lintas masyarakat benar-benar kosong.

"Yang kami hentikan justru kendaraan tambangnya. Kendaraan masyarakat kami dahulukan lewat. Setelah sudah tidak ada kendaraan masyarakat yang melintas, baru kami tutup sebentar lalu kendaraan tambang melintas," jelasnya.

Untuk mendukung pengamanan di lapangan, KPC menempatkan empat personel security di setiap shift yang bertugas mengatur arus lalu lintas di titik crossing. Selain itu, perusahaan juga menyiagakan tim khusus untuk menjaga kondisi jalan tetap aman dilalui.

"Ada empat security yang berjaga di setiap shift. Kami juga punya tim pembersihan jalan yang selalu siaga apabila ada material yang tertumpah," ungkapnya.

Tak hanya membersihkan material yang tercecer, KPC juga melakukan penyiraman jalan secara berkala. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi debu sekaligus mencegah jalan menjadi licin yang dapat membahayakan pengguna jalan.

"Kami melakukan pembersihan setiap saat ketika ada material yang tertumpah. Penyiraman jalan juga dilakukan secara berkala supaya tidak berdebu dan kondisi jalan tetap aman bagi masyarakat," katanya.

Nanang menambahkan pengamanan crossing tidak dilakukan sendiri oleh perusahaan. KPC juga terus berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Satuan Lalu Lintas Polres Kutim, termasuk saat akan melakukan perubahan prosedur operasional.

"Kami selalu berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Satlantas. Kalau ada perubahan SOP pun kami diskusikan bersama. Tujuannya agar masyarakat yang melintas di jalan nasional tetap aman meski ada crossing kendaraan tambang," tuturnya.

Kondisi jalan nasional yang membelah area konsesi milik perusahaan pertambangan PT KPC.Kondisi jalan nasional yang membelah area konsesi milik perusahaan pertambangan PT KPC/ Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan

Sebagai solusi jangka panjang, KPC juga tengah menyiapkan pembangunan underpass di sekitar lokasi crossing. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat mengurangi perlintasan kendaraan tambang di jalan nasional.

"Saat ini kami sedang menyiapkan pembangunan underpass di dekat crossing. Mudah-mudahan dalam beberapa bulan ke depan sudah mulai dibangun sebagai penyesuaian terhadap rencana operasional ke depan," pungkasnya.

Terlepas dari itu, pemandangan unik tersebut menarik perhatian di media sosial. Warganet membandingkan dengan apa yang biasa terjadi di Pulau Jawa, di mana kendaraan berhenti menunggu kereta api lewat. Sementara itu, di Kalimantan, kendaraan menunggu mobil tambang lewat.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads