Tragedi Bultiken, Runtuhnya Kesultanan Bulungan di Pusaran Fitnah Makar

Sejarah

Tragedi Bultiken, Runtuhnya Kesultanan Bulungan di Pusaran Fitnah Makar

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Selasa, 30 Jun 2026 22:01 WIB
Infografis sejarah Tragedi Bultiken: Runtuhnya Kesultanan Bulungan.
Infografis sejarah Tragedi Bultiken: Runtuhnya Kesultanan Bulungan. Foto: diolah dari NotebookLM
Bulungan -

Sejarah pembentukan negara-bangsa Indonesia menyimpan babak-babak kelam yang kerap luput dari buku pelajaran sekolah. Salah satu peristiwa paling tragis adalah 'Tragedi Bultiken' yang meletus pada 3 Juli 1964 di wilayah Kalimantan bagian utara.

Bultiken merupakan akronim dari Bulungan, Tidung, dan Kenyah yang merupakan tiga etnis di wilayah Kesultanan Bulungan. Kesultanan yang secara sukarela menyerahkan kedaulatannya kepada Republik Indonesia, malah dibumihanguskan lewat tuduhan makar.

Kesultanan Gabung NKRI

Dikutip dari Ensiklopedia kesultanan di Nusantara dari Kementerian Agama, Bulungan kini dikenal sebagai salah satu kabupaten di Kalimantan Utara. Namun dulunya di wilayah ini pernah berdiri Kesultanan Bulungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kerajaan tersebut berdiri pada abad ke-16, kemudian statusnya berubah menjadi kesultanan pada abad ke-18 setelah masuknya agama Islam. Wilayah kekuasaannya antara lain Tana Tidung, Tarakan, Tawau, Kalabakan hingga Semporna Sabah.

Di era kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan situs Pemprov Kaltara, Kesultanan Bulungan sepakat untuk bergabung dengan Indonesia di bawah kesepakatan Konvensi Malinau yang dihadiri seluruh raja-raja nusantara pada 7 Agustus 1949.

Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, wilayah Bulungan berstatus sebagai wilayah swapraja Bulungan pada tahun 1950. Sultan terakhirnya, Jalaluddin, meninggal pada 1958.

Kronologi Tragedi Bultiken

Dalam Lembaran Berdarah Sejarah Indonesia (2023) oleh Andika Surya Putra, Tragedi Bultiken berawal ketika status daerah istimewa atau swapraja dihapuskan oleh pemerintah pada 1958. Hal ini menyebabkan raja atau Sultan Kesultanan Bulungan kehilangan kekuasaannya sebagai kepala daerah.

Berlanjut pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia yang menegangkan, muncul kabar burung bahwa Kesultanan Bulungan berniat melakukan tindakan makar terhadap Republik Indonesia dan berencana bergabung dengan Malaysia.

Menanggapi isu tersebut, pemerintah mengirimkan pasukan militer yang dikomandoi oleh Letnan B Simatupang atas perintah Pangdam IX Mulawarman, Brigjen Suhario Padmodiwirio (Hario Kecik).

Penculikan dan Penangkapan Awal

Sebelum 18 Juni 1964, pasukan militer termasuk Letnan B Simatupang yang merupakan eksekutor lapangan mulai menangkap dan membunuh para petinggi Kesultanan Bulungan. Sebanyak 58 orang kerabat Kesultanan diculik dan dibunuh.

Pihak Kesultanan menduga pelaku pembantaian berafiliasi dengan kelompok komunis. Akibat tuduhan makar dari pemerintah ini, banyak kerabat kesultanan yang terpaksa melarikan diri ke Malaysia dan menjadi warga negara di sana.

Malam Menjelang Petaka

Malam sebelum 3 Juli 1964, Kapten Buntaran dan Letnan B Simatupang datang bertamu ke istana kediaman Raja Muda setelah waktu magrib. Mereka berbincang, bercanda, dan tertawa bersama Raja Muda hingga larut malam.

Namun seakan menjadi firasat buruk, dua balita anak Raja Muda (Masnun dan Kaharudin) terus-menerus menangis dan rewel dari magrib hingga malam di ruangan lain. Kapten Buntaran dan Letnan B Simatupang kemudian pamit dan diantarkan oleh Raja Muda hingga ke tangga istana.

Pengepungan dan Eksekusi di Depan Istana

Jumat, 3 Juli 1964 dini hari, pasukan tentara dari satuan tempur Brawijaya 517 yang dipimpin oleh Kapten Buntaran dan Letnan B Simatupang kembali datang untuk mengepung istana. Kedatangan mereka mengejutkan warga yang sedang bersiap mengambil air wudhu untuk salat subuh di Sungai Kayan.

Pukul 06.00, warga Tanjung Palas dikumpulkan secara paksa di depan istana Kesultanan Bulungan. Mayor Sumina Husain (Dandim 0903 Bulungan) berpidato, menuduh bahwa bangsawan Bulungan ingin memberontak.

"Para bangsawan Bulungan ingin memberontak terhadap pemerintah Republik Indonesia yang sah, dengan Gerakan subversif Bultiken," kata Mayor Sumina yang diulangi oleh Letnan Simatupang.

Seorang bangsawan bernama Datu Taruna menyanggah tuduhan tersebut dengan alasan bahwa para perwira baru saja mengobrol akrab dengan Raja Muda semalam suntuk. Letnan B Simatupang malah marah dan memerintahkan anggota polisi bernama M Ramli untuk menembak Datu Taruna hingga tewas seketika.

Penjarahan dan Penghancuran Total Kesultanan

Setelahnya, tentara menutup istana dan menjarah harta benda yang ada di sana. Para bangsawan Kesultanan Bulungan hilang tanpa jejak, dan mereka yang masih hidup ditangkap dan dibunuh. Pada tanggal 3, 4, dan 6 Juli 1964 masih kerap terjadi penculikan dan penangkapan.

Pada Sabtu, 18 Juli 1964, Istana Raja Muda dibakar dan dijarah. Seluruh harta benda di dalamnya dirampas oleh pasukan militer.

23-24 Juli 1964, aksi pembakaran berlanjut. Istana bertingkat dua milik Kesultanan dibakar selama dua hari dua malam hingga rata dengan tanah. Warga yang tidak ikut serta membakar istana dituduh sebagai loyalis pemberontak.

Tuduhan Makar yang Tak Jelas

Hingga saat ini, latar belakang pasti mengapa tuduhan makar itu dijatuhkan masih menjadi misteri. Namun, setidaknya ada empat spekulasi yang menjadi hipotesis pemicu terjadinya Tragedi Bultiken, seperti dikutip dari buku Islam Kawasan Kalimantan oleh Rahmadi dari UIN Antasari.

1. Stigma Masa Lalu (Kedekatan dengan Belanda)

Hipotesis pertama menduga bahwa citra Kesultanan Bulungan sudah lama dipersoalkan oleh beberapa pihak. Hal ini berakar dari rekam jejak kedekatan antara pihak kesultanan dengan pemerintah kolonial Belanda pada masa sebelum kemerdekaan, yang kemudian dijadikan celah untuk mempertanyakan kesetiaan mereka terhadap Republik Indonesia.

2. Imbas Konfrontasi "Ganyang Malaysia"

Faktor letak geografis dan hubungan darah juga menjadi pemicu kecurigaan. Wilayah Bulungan berbatasan sangat dekat dengan Malaysia, dan masyarakatnya memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan Kesultanan Sabah. Di tengah memanasnya konfrontasi Indonesia-Malaysia melalui kampanye "Ganyang Malaysia" saat itu, kedekatan ini memunculkan tuduhan tak berdasar bahwa Bulungan berpihak kepada Malaysia.

3. Pengaruh PKI di Tubuh Militer

Spekulasi ketiga menyebutkan bahwa tragedi ini didalangi oleh oknum TNI yang berada di bawah pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI). Brigadir Jenderal Suhario, sosok perwira yang memberikan perintah untuk menangkap para bangsawan Bulungan, dikabarkan memiliki kedekatan dengan kelompok sayap kiri atau PKI.

4. Rekayasa Perampasan Harta

Versi terakhir meyakini bahwa isu makar tidak lebih dari sebuah fitnah atau rekayasa belaka. Tuduhan tersebut sengaja diembuskan oleh sebagian oknum tentara yang memiliki niat terselubung karena tergiur dengan melimpahnya kekayaan serta harta benda milik para bangsawan Kesultanan Bulungan.

Kesultanan Bulungan Kini

Bangunan Istana Kesultanan Bulungan yang sempat hangus terbakar pada tahun 1964 kini telah dibangun kembali sebagai replika pada 1998 dan difungsikan sebagai museum oleh Pemerintah Kabupaten Bulungan. Lokasinya berada di Jalan Kasimuddin, Kecamatan Tanjung Palas.

Itulah tadi sejarah mengenai Tragedi Bultiken yang menjadi titik keruntuhan Kesultanan Bulungan. Detikers masih bisa mengunjungi replika Kesultanan Bulungan dalam wujud museum untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarahnya.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads