Dua bangunan di tepi Sungai Kahayan, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, ambruk ke aliran sungai. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (1/7) dini hari ini disebabkan abrasi yang menggerus tanah di tepi Sungai Kahayan hingga 8 meter ke arah daratan. Panjang area terdampak sekitar 20 meter.
Salah seorang warga terdampak, Risa Astrinopa (39), mengaku terbangun setelah mendengar suara keras dari arah sungai. Awalnya ia mengira hanya tanah yang runtuh, namun ketika keluar rumah, sebagian bangunan di dekat bantaran sudah ambruk.
"Peristiwa abrasi terjadi lada Rabu sekitar pukul 05.00 WIB. Saya mendengar suara benturan cukup keras dari arah sungai. Begitu keluar rumah, ternyata bagian bangunan yang berada paling dekat dengan tepi sungai sudah runtuh," ujar Risa, Kamis (2/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagian gudang yang digunakan menyimpan berbagai barang menjadi area yang mengalami kerusakan paling parah. Risa dan keluarga berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dipindahkan sebelum longsoran meluas.
Akibat kejadian tersebut, kerugian diperkirakan mencapai lebih dari Rp 20 juta. Sejumlah material bangunan bernilai tinggi, seperti kayu ulin dan papan, ikut hanyut terbawa longsoran.
"Kerugiannya diperkirakan lebih dari Rp20 juta. Banyak material bangunan, terutama kayu ulin, hilang terbawa longsor ke sungai," katanya.
Tak lama setelah menerima laporan warga, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya langsung melakukan asesmen di lokasi. Analis Kebencanaan BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet, mengatakan hasil pendataan sementara menunjukkan dua bangunan mengalami kerusakan akibat abrasi. Menurutnya, kawasan tersebut memang telah lama masuk dalam kategori rawan karena beberapa kali mengalami kejadian serupa.
"Ini sudah kejadian yang ketiga. Dua tahun lalu abrasi juga terjadi di lokasi yang sama, dan tahun ini kembali terjadi pengikisan tanah yang cukup besar," jelasnya.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan abrasi kali ini cukup signifikan. Selain menggerus bantaran hingga 8 meter, kondisi tanah di sekitar lokasi juga dinilai semakin labil sehingga berpotensi membahayakan bangunan lain yang berada di tepi sungai.
Balap menjelaskan pemerintah sebenarnya telah berulang kali mengingatkan masyarakat mengenai tingginya risiko abrasi di kawasan tersebut. Sosialisasi bahkan pernah dilakukan bersama Pemerintah Kota Palangka Raya agar warga selalu meningkatkan kewaspadaan.
"Kami bersama pemerintah kota sudah beberapa kali mengimbau masyarakat agar berhati-hati karena kawasan ini memang memiliki tingkat kerawanan abrasi yang tinggi," ujarnya.
BPBD juga telah mengusulkan relokasi bagi warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Kahayan. Namun, proses tersebut masih menunggu kesiapan lahan dan lokasi yang akan disediakan pemerintah.
"Sambil menunggu realisasi relokasi, BPBD meminta masyarakat lebih peka terhadap tanda-tanda awal abrasi, seperti munculnya retakan tanah, getaran, atau perubahan kondisi bantaran sungai. Warga juga diminta segera melakukan evakuasi apabila melihat gejala yang berpotensi memicu longsor," pungkasnya.
Selain itu, BPBD akan menyampaikan hasil kajian dan rekomendasi kepada pemerintah daerah serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait sebagai dasar penanganan kawasan rawan abrasi di bantaran Sungai Kahayan, sehingga risiko bencana serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
