Penelitian akar bajakah pernah mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Setelah membimbing tiga siswanya meraih medali emas di World Invention Creativity Olympic (WICO) 2019 di Korea Selatan, Guru Biologi SMA Negeri 2 Palangka Raya, Helita, mengembangkan hasil risetnya menjadi produk teh herbal berbahan dasar akar bajakah.
Produk yang diberi nama Hesabi tersebut hadir dalam bentuk teh siap minum dan teh kemasan pouch. Meski masih dipasarkan dalam jumlah terbatas, produk itu telah mengantongi izin edar dari BPOM. Ini merupakan karya bersama dalam wadah Central Borneo Scientific Organization (CBSO) atau Perkumpulan Peneliti Muda Kalimantan Tengah.
"Ini yang menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan penelitian berbasis potensi lokal. Produknya berupa teh botol siap saji dan pouch. Sudah mulai saya edarkan, tetapi masih dalam skala kecil untuk masyarakat yang mencari. Produk tersebut juga sudah memiliki izin edar dari BPOM," ujar Helita, Senin (6/7/2026) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bajakah, Rahasia Dayak yang Mendunia |
Teh bajakah karya Central Borneo Scientific Organization (CBSO) atau Perkumpulan Peneliti Muda Kalimantan Tengah/Foto: Istimewa |
Pengembangan produk tersebut merupakan kelanjutan dari penelitian yang telah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya riset lebih berfokus pada identifikasi kandungan senyawa aktif akar bajakah, kini Helita memperdalam penelitian berdasarkan pengalaman masyarakat yang telah mengonsumsi tanaman tersebut. Menurutnya, penelitian terbaru mengumpulkan data empiris dari masyarakat yang mengonsumsi bajakah selama tiga hingga enam bulan.
"Penelitian terbaru saya mengangkat data empiris selama pemakaian bajakah dalam kurun waktu tiga sampai enam bulan," katanya.
Meski telah menghadirkan produk herbal, Helita mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai berbagai klaim yang menyebut akar bajakah sebagai obat penyembuh kanker. Ia menegaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang membenarkan klaim tersebut pada manusia.
Menurutnya, setiap manfaat kesehatan harus dibuktikan melalui tahapan penelitian yang panjang, mulai dari uji laboratorium, uji praklinis hingga uji klinis sebelum dapat dinyatakan aman dan efektif.
Nama Helita dikenal luas setelah mendampingi tiga siswanya, Aysa Aurealya Maharani, Anggina Rafitri, dan Yazid Rafli Akbar, meraih medali emas dalam ajang WICO 2019 melalui penelitian tentang akar bajakah. Prestasi itu membuat tanaman hutan khas Kalimantan menjadi sorotan dunia sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut terhadap potensi kekayaan hayati daerah.
Semangat riset tersebut kini terus berlanjut melalui Central Borneo Scientific Organization (CBSO) atau Perkumpulan Peneliti Muda Kalimantan Tengah yang menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan penelitian berbasis potensi lokal.
Bagi Helita, penelitian bukan sekadar mengejar prestasi, melainkan upaya membuktikan bahwa pengetahuan tradisional masyarakat Dayak dapat dikembangkan secara ilmiah hingga menghasilkan inovasi yang bermanfaat. Dari hutan Kalimantan, riset tentang akar bajakah kini tak hanya dikenal dunia, tetapi juga hadir dalam secangkir teh herbal hasil karya anak bangsa.
(sun/des)

