Pahlawan Nasional dr Rubini merupakan sosok teladan yang tidak hanya berdedikasi di bidang medis, tetapi juga gigih dalam pergerakan politik kemerdekaan Indonesia. Kiprah dan pengorbanannya di Kalimantan Barat selama masa penjajahan Belanda hingga pendudukan Jepang meninggalkan warisan perjuangan yang sangat berharga bagi bangsa.
Berikut profil lengkap dari dr Raden Rubini Natawisastra, mulai dari kelahiran, pendidikan, pengabdian sebagai dokter, perjuangan melalui kelompok pergerakan, hingga berakhir tragis dalam Peristiwa Mandor.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Raden Rubini Natawisastra dilahirkan di Bandung pada tanggal 31 Agustus 1906 dari keluarga bangsawan etnis Menak Sunda yang terpelajar. Ayahnya bernama Raden Natawisastra yang bekerja sebagai guru Normal School, sedangkan ibunya bernama Ni Raden Endung Lengkamirah yang merupakan keturunan Keraton Sumedang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah lulus dari Hollandsch Inlandsche School (HIS) pada tahun 1919, ia melanjutkan pendidikannya di School Tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Ia berhasil menamatkan pendidikan kedokteran tersebut dan resmi meraih gelar Indische Arts (dokter bumiputera) pada tahun 1930.
Selama menjadi mahasiswa, dr Rubini sangat aktif berolahraga hingga pernah membela klub sepak bola profesional 'Oliveo' pada tahun 1927. Di masa kuliah ini pula, ia mulai bersinggungan dengan pergerakan politik nasional melalui interaksinya dengan organisasi Paguyuban Pasundan (PP).
Mengabdi di Pontianak
Pasca lulus, dr Rubini mengabdikan diri di Jakarta pada tahun 1930 hingga 1934 dengan mengawali karier di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol untuk mendalami penyakit saraf. Ia juga sempat ditugaskan meneliti wabah malaria di Pontianak pada 1932 sebelum akhirnya ditempatkan di Centrale Burgerljk Ziekenhuis (CBZ) guna mempelajari penyakit paru.
Pada tahun 1934, ia bersama istrinya, Ny Amalia, dipindahtugaskan ke Kalimantan Barat dan kelak diangkat menjadi Kepala Kesehatan Pontianak. Di wilayah tersebut, dr Rubini ditugaskan di Military Ziekenhuis (Rumah Sakit Tentara) serta ditunjuk mengepalai bagian bedah hingga menjadi kepala di Rumah Sakit Umum Sungai Jawi.
Sebagai dokter yang dekat dengan rakyat, ia rutin berkeliling memberikan pengobatan ke daerah terpencil di pedalaman tanpa membedakan status sosial masyarakatnya. Untuk menekan tingginya angka kematian ibu dan anak akibat persalinan tradisional, ia beserta sang istri membuka praktik dokter dan kebidanan berijazah di kediaman mereka.
Kiprah Pergerakan Politik Nasional
Di tengah kesibukan medisnya, dr Rubini meluangkan waktu bergabung dengan Soos Medan Sepakat dan menjadi pengurus wilayah Partai Indonesia Raya (Parindra) demi memupuk jiwa patriotisme. Melalui organisasi politik tersebut, ia berhasil mendorong berbagai program kemajuan untuk rakyat seperti pendirian sekolah, koperasi, kelompok kesenian, dan klub olahraga.
Ketika balatentara Jepang berkuasa pada 1942, dr Rubini menolak dievakuasi oleh Belanda karena memilih tetap tinggal untuk menolong korban pengeboman dan merawat wanita korban kekerasan tentara pendudukan. Untuk menyiasati pembekuan partai politik oleh Jepang, ia bersama para tokoh pergerakan membentuk organisasi Nissinkai sebagai kedok agar bisa terus berkoordinasi secara rahasia.
Setelah Nissinkwai dibubarkan Jepang, dr Rubini memimpin gerakan perlawanan bawah tanah dengan membentuk pasukan penyerbuan bersenjata yang dinamakan 'Soeka Rela' pada Juni 1943. Rencana pemberontakan yang dijadwalkan pada 8 Desember 1943 itu sayangnya tercium oleh Jepang, sehingga dr Rubini beserta rekan-rekannya tertangkap melalui sebuah jebakan pada bulan Oktober 1943.
Dokter Rubini, sang istri, dan puluhan tokoh penting lainnya dieksekusi mati oleh tentara Jepang pada 28 Juni 1944 dan jasadnya disemayamkan di kuburan massal Mandor. Gugurnya dr Rubini meninggalkan duka mendalam bagi kelima putrinya (Rubinneta, Aminetty, Marlina, Martini, dan Maryetty), sekaligus memicu perlawanan bersenjata suku Dayak di bawah pimpinan Pangsuma.
Dianugerahi Gelar Pahlawan
Untuk mengenang jasa-jasanya, masyarakat dan pemerintah meresmikan perubahan nama Rumah Sakit Umum Mempawah menjadi "Rumah Sakit Dokter Rubini" melalui SK Bupati tertanggal 6 Agustus 1984. Puncak penghormatan bagi dedikasi sang patriot ini terwujud ketika dr Rubini secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 7 November 2022.
Sumber:
- Artikel Beyond Java: dr. Rubini, Political Exile, and the Dynamics of Peripheral Nationalism in Colonial Indonesia (1920-1944) dalam Jurnal Diakronika.
- Situs RSUD dr Rubini Mempawah
