Perajin 'Bunga Keberuntungan' di Pontianak Banjir Pesanan Jelang Imlek

Perajin 'Bunga Keberuntungan' di Pontianak Banjir Pesanan Jelang Imlek

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Senin, 02 Feb 2026 09:29 WIB
Kerajinan bunga Mei Hwa untuk Imlek yang dibuat Asong, perajin asal Pontianak.
Kerajinan bunga Mei Hwa untuk Imlek yang dibuat Asong, perajin asal Pontianak. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan
Pontianak -

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan bunga hias bernuansa budaya Tionghoa mulai meningkat. Di antaranya adalah bunga Mei Hwa, bunga dekoratif yang dipercaya sebagai simbol keberuntungan oleh masyarakat Tionghoa.

Salah satu perajin bunga Mei Hwa, Asong (56), membuat kerajinan ini di Jalan Sungai Raya Dalam, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Dia mengaku telah menjual puluhan bunga selama beberapa pekan ini.

"Tahun ini permintaan bunga Mei Hwa tambah ramai. Sekarang lebih dari 50 pohon sudah terjual. Kami masih bikin lagi sampai seminggu sebelum Imlek," kata Asong kepada detikKalimantan, Senin (2/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asong telah 12 tahun menekuni usaha musiman ini. Ketika menjelang Imlek, usaha pembuatan kue miliknya diserahkan ke istri, ia fokus pada bunga Mei Hwa.

Menurutnya, bunga Mei Hwa kerap disalahartikan sebagai bunga Sakura, padahal keduanya sangat berbeda tetapi masih satu jenis. Kalau Mei Hwa disebut dengan plum blossom, Sakura disebut dengan cherry blossom.

"Ini bukan Sakura, namanya bunga Mei Hwa," kata Asong sambil merapikan ranting yang terbuat dari kawat kecil.

Asong menjelaskan, bunga Mei Hwa aslinya berasal dari Tiongkok dan tidak tumbuh alami di Indonesia karena membutuhkan iklim subtropis/dingin. Jika pun ada, biasanya merupakan hasil impor.

Orang Tiongkok percaya bahwa bunga Mei Hwa adalah bunga yang ditanam oleh Dewi Kwan Im selama sebelum hari perayaan Imlek.

"Bagi masyarakat Tionghoa, bunga ini melambangkan keberuntungan, khususnya untuk perayaan Imlek," kata dia.

Bunga Mei Hwa yang Asong produksi merupakan hasil kriya dan kreativitas. Bahannya menggunakan akar pohon bakau, juga kayu dari pedalaman yang memiliki bentuk alami melengkung dan unik.

"Bahannya kayu asli dari pedalaman. Lengkungan kayu yang membuat bunga Mei Hwa jadi unik dan bernilai tinggi," katanya.

Kerajinan bunga Mei Hwa untuk Imlek yang dibuat Asong, perajin asal Pontianak.Kerajinan bunga Mei Hwa untuk Imlek yang dibuat Asong, perajin asal Pontianak. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan

Peminat dan Harga

Pembeli bunga karya tangan Asong tidak hanya berasal dari wilayah Kalbar, tetapi juga dari luar daerah seperti Pekanbaru dan Natuna. Namun, kendala biaya pengiriman yang mahal membuat pengiriman ke luar Kalbar tidak selalu bisa dipenuhi.

"Permintaan dari luar kota ada, banyak. Dari luar Kalbar juga ada. Sekarang jarang melayani dari luar Kalbar, karena biaya pengirimannya cukup mahal dan repot karena harus pakai palet kayu," jelasnya.

Untuk harga, bunga Mei Hwa buatan Asong yang kecil dibanderol mulai dari Rp 1 jutaan. Menurutnya, ukuran kecil kurang diminati pembeli.

"Kebanyakan pelanggan pilih yang besar-besar," katanya.

Harga bunga Mei Hwa ukuran besar berkisar antara Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta, tergantung ukuran, tinggi, dan tingkat kerumitan. Bahkan, saat ini Asong sedang mengerjakan pesanan khusus setinggi 2,5 meter untuk seorang pejabat daerah dari Kabupaten Sanggau.

Proses pembuatan bunga Mei Hwa dilakukan secara manual dengan penuh ketelitian. Dalam proses produksinya, Asong hanya dibantu oleh dua orang pekerja, sehingga total tenaga kerja hanya tiga orang. Untuk menyelesaikan satu rangkaian bunga Mei Hwa, dibutuhkan waktu hampir dua hari penuh.

"Mulai dari pemilihan kayu, pembakaran, penggabungan, sampai dirangkai dan digantung pernak-pernik. semuanya butuh ketelitian," jelasnya.

Meski bahan baku kayu cukup sulit didapat karena berada di wilayah pedalaman dan hutan yang semakin terbatas, Asong tetap berkomitmen menjaga kualitas karyanya.

Dengan meningkatnya minat masyarakat dan nilai budaya yang kuat, bunga Mei Hwa kini tidak hanya menjadi hiasan Imlek, tetapi juga karya seni bernilai tinggi yang membuka peluang ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Kota Pontianak.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads