Lewat Bilpi dan Salupi, Wanita Asal Madiun Ini Bawa Ikan Kalimantan Naik Kelas

Lewat Bilpi dan Salupi, Wanita Asal Madiun Ini Bawa Ikan Kalimantan Naik Kelas

Sudrajat - detikKalimantan
Minggu, 26 Apr 2026 08:02 WIB
Woro Respanti Sari, pengusaha Salupi dan Bilpi.
Woro Respanti Sari, pengusaha Salupi dan Bilpi. Foto: Sudrajat/BeritaKlik
Banjarbaru -

Di tangan Woro Respanti Sari, ikan-ikan kecil dari sungai Kalimantan seperti saluang dan bilis tak lagi sekadar bahan pangan lokal. Lewat badan usaha Worokrez, Sarjana Biologi dari IKIP Madiun itu menghadirkan dua produk andalan: Salupi (saluang krispi) dan Bilpi (bilis krispi), menjadi camilan gurih renyah dengan citra yang benar-benar berbeda.

Salupi menghadirkan cita rasa khas ikan seluang yang gurih ringan, sementara Bilpi menawarkan sensasi lebih padat dari ikan bilis yang renyah dan kaya rasa. Keduanya dirancang bukan hanya sebagai lauk atau camilan rumahan, tetapi sebagai produk yang siap bersaing di pasar yang lebih luas.

"Banyak calon jemaah umrah atau haji yang pesan untuk bekal makan selama di Mekkah - Madinah. Juga mereka yang mau mudik lebaran memesan produk saya untuk oleh-oleh," kata Woro kepada para jurnalis peserta fellowship BRI di kediamannya, Selasa (214/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum dikemas secara moderen, ringkas, higienis, dan desain kekinian, setelah digoreng dan ditiriskan, Salupi dan Bilpi kembali dikeringkan menggunakan spiner selama 10-15 menit. Tujuan utamanya menghilangkan kandungan minyak goreng. Dengan kondisi yang benar-benar bersih dari minyak, Salupi dan Bilpi tak cuma lebih tahan lama tapi juga aromanya tak akan tengik.

Selain dijual secara online, kedua produk ini sudah dapat dibeli di gerai-gerai di sekitar bandara, dan toko oleh-oleh di Banjarbaru, Banjarmasin, Palangkaraya, hingga Batulicin.

Perempuan kelahiran Madiun 1971 itu hijrah ke Banjarbaru pada 1998 setelah menikah dengan drh Muhammad Taufik. Sang suami bertugas di lingkungan Pemprov Kalimantan Selatan. Bertahun kemudian karir Woro pun kian moncer dan menjabat Kepala Perwakilan Kalsel dan Kalimantan Tengah perusahaan farmasi Combhipar.

Namun pada 2010, ia memutuskan berhenti bekerja untuk membesarkan sepasang buah hatinya. Sejatinya jiwanya sebagai wanita karir tak benar-benar padam. Agar tidak gabut, ia membuka salon dan menerima jasa laundry. Pada 2106, Woro merambah ke bumbu pecel lewat badan usaha Worokrez.

"Saya jualan setiap car free day di Lapangan Murjani, ternyata warga di sini banyak yang suka," kata Woro.

Pasca pandemi, ia menekuni pengolahan ikan saluang dan bilis. Dari kajian laboratorium Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), kedua ikan ini kaya protein, kalsium, dan mengandung omega 3. Untuk bahan baku ikan bilis dan saluang, Woro membeli langsung di pasar agar bisa bebas memilih yang benar-benar masih segar.

"Kalau lewat pengepul saya khawatir ikannya sudah dicampur. Segar di atas tapi di bagian bawah tidak," ujarnya.

Untuk modal Woro mengaku mendapatkan kredit dari BRI, serta alat pengering (spiner) dan kemasan dari Unlam. Spiner dimanfaatkan untuk mengeringkan ikan yang telah digoreng dan ditiriskan. Hasilnya, ikan benar-benar krispi (renyah), bebas minyak.

"Cita rasa ikan juga lebih tahan lama dan bebas tengik," kata Woro.




(jat/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads