Realisasi investasi di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2025 melampaui target yang ditetapkan pemerintah daerah. Nilainya menembus Rp 3,08 triliun atau mencapai 123,23 persen dari target Rp 2,5 triliun.
Capaian itu juga menunjukkan pertumbuhan 13,66 persen dibanding realisasi investasi tahun sebelumnya. Di balik lonjakan tersebut, sektor industri kimia masih menjadi penopang utama investasi di Kota Taman.
Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur mengatakan capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Bontang. Menurutnya, kemudahan layanan dan kepastian berusaha menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan investasi daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Realisasi investasi tahun 2025 yang melampaui target ini menunjukkan bahwa Kota Bontang semakin dipercaya oleh investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya, melalui keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Realisasi investasi itu masih didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mencapai Rp 3,026 triliun. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp 54,11 miliar. Aktivitas investasi tersebut berasal dari 323 proyek yang dijalankan 81 pelaku usaha non-UMKM.
"Tetapi tingkat kepatuhan pelaporan kegiatan penanaman modal sepanjang 2025 baru mencapai 43,69 persen dan menjadi perhatian pemerintah daerah untuk dievaluasi," ungkapnya.
Pada sektor PMA, investasi paling banyak masuk ke bidang perumahan, kawasan industri dan perkantoran, serta hotel dan restoran. Kondisi itu disebut mulai memperlihatkan berkembangnya sektor jasa dan hospitality di tengah dominasi kawasan industri di Bontang.
"Sementara untuk PMDN, sektor industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 85,96 persen. Disusul perdagangan dan reparasi sebesar 5,18 persen, industri logam dasar dan barang logam bukan mesin 3,16 persen, usaha jasa lainnya 2,32 persen, serta hotel dan restoran 1,12 persen," terangnya.
Di sisi lain, sebaran investasi di Bontang masih terkonsentrasi di wilayah Bontang Utara. Nilainya mencapai Rp 1,17 triliun atau sekitar 98,94 persen dari total investasi daerah.
"Sedangkan Bontang Barat hanya mencatat Rp 9,36 miliar atau 0,79 persen dan Bontang Selatan Rp 3,20 miliar atau 0,27 persen," paparnya.
Kondisi itu dinilai menunjukkan masih besarnya ruang pengembangan investasi di wilayah lain. Aspian menegaskan pemerintah daerah akan mendorong pemerataan investasi sekaligus memperkuat promosi potensi wilayah dan layanan perizinan yang lebih terintegrasi.
"Kami tidak hanya fokus pada peningkatan angka investasi, tetapi juga kualitas dan pemerataan investasi," tegasnya.
Aspian menambahkan penguatan pengawasan dan peningkatan kepatuhan pelaporan kegiatan penanaman modal juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas data investasi daerah.
(des/des)