Daftar Ketua dan Kisah Runtuhnya Republik Lanfang di Kalimantan Barat

Daftar Ketua dan Kisah Runtuhnya Republik Lanfang di Kalimantan Barat

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 11 Mei 2026 11:01 WIB
Pendiri Lanfang Kongsi, Lo Fong Pak.
Pendiri Lanfang Kongsi, Lo Fong Pak. Foto: Dok. Sugiri Kustedja (
Pontianak -

Kisah Republik Lanfang Kongsi bermula pada abad ke-18, ketika ribuan perantau Tionghoa datang ke Kalimantan Barat untuk mencari emas. Mereka kebanyakan berasal dari etnis Hakka di Tiongkok Selatan yang mendengar kabar tentang melimpahnya kandungan emas di daerah Mandor yang saat itu terkenal sebagai Jinshan atau Bukit Emas.

Awalnya, para perantau ini hanya membentuk kelompok-kelompok kecil penambang untuk bertahan hidup di tanah rantau. Namun lama-kelamaan, kelompok tersebut berkembang menjadi organisasi yang jauh lebih besar dan teratur. Dari sinilah kemudian lahir Lanfang Kongsi pada tahun 1777 di Mandor, wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Penduduk Lanfang saat itu bisa dibilang seperti warga negara di dalam sebuah negara. Meski masih mengakui kekuasaan Kesultanan Sambas dan Mempawah serta membayar upeti, kehidupan sehari-hari mereka berjalan sangat mandiri. Mereka punya aturan sendiri, pemimpin sendiri, wilayah pertambangan sendiri, bahkan pasukan keamanan sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang membuat Lanfang Kongsi begitu unik adalah sistem pemerintahannya. Di saat kerajaan dan kesultanan masih memakai sistem warisan dan penerus, pemimpin Lanfang justru dipilih melalui musyawarah dan suara anggota kongsi. Karena itulah banyak peneliti menyebut Lanfang sebagai salah satu bentuk republik awal di Asia Tenggara.

Keberadaan kongsi ini juga terbilang panjang umur karena mampu bertahan lebih dari satu abad, tepatnya sekitar 107 tahun. Dalam sejarah di Nusantara, Lanfang Kongsi menjadi salah satu organisasi penambang paling kuat di Kalimantan Barat sebelum akhirnya runtuh pada 1884 akibat tekanan kolonial Belanda.

Tokoh penting di balik berdirinya Lanfang Kongsi adalah Luo Fangbo atau Lo Fong-Pak, seorang perantau Hakka asal Guangdong, Tiongkok Selatan. Ia datang ke Kalimantan Barat sekitar tahun 1772 bersama rombongan migran Tionghoa lainnya.

Pada awal kedatangannya, Luo Fangbo sempat tinggal di Pontianak dan bekerja sebagai guru. Namun situasi saat itu tidak benar-benar aman. Antarkelompok perantau Tionghoa sering terlibat persaingan dan perebutan wilayah tambang. Belum lagi konflik dengan kelompok lokal serta kondisi alam Kalimantan yang masih berat.

Dari situ, Luo Fangbo mulai mengumpulkan sekitar 108 orang Hakka untuk membentuk kelompok pertahanan dan komunitas penambang yang lebih solid. Kelompok ini kemudian menjadi Lanfang Kongsi yang berpusat di Mandor.

Karena sistemnya terorganisasi dengan baik, Lanfang Kongsi berkembang bukan hanya sebagai perkumpulan tambang, tetapi juga menjadi kekuatan politik yang cukup besar di Kalimantan Barat.

Daftar Ketua Lanfang Kongsi

Berikut ini daftar ketua Lanfang Kongsi beserta peristiwa penting pada masa kepemimpinannya berdasarkan catatan Hasan Karman yang dikutip dari publikasi Kustedja berjudul "Republik" Lanfang Kongsi di Kalimantan Barat.

1. Luo Fangbo/Lo-Fong Pak (1777-1795)

Luo Fangbo merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama Lanfang Kongsi. Ia berasal dari Guangdong, Tiongkok Selatan, dan datang ke Kalimantan Barat bersama rombongan migran Hakka.

Di bawah kepemimpinannya, Lanfang Kongsi resmi berdiri di Mandor pada 1777. Luo Fangbo berhasil membangun organisasi kongsi yang terstruktur, lengkap dengan sistem administrasi, pertahanan, pembagian kerja, hingga pengelolaan tambang emas.

2. Jiang Wubo (1795-1799)

Setelah wafatnya Luo Fangbo, kepemimpinan diteruskan oleh Jiang Wubo. Pada masa pemerintahannya terjadi konflik dengan Panembahan Mempawah.

Persaingan wilayah dan kepentingan ekonomi tambang membuat hubungan antara kongsi dan penguasa lokal sering memanas.

3. Jue Sibo (1799-1803)

Pada masa Jue Sibo, Lanfang Kongsi menghadapi konflik dengan masyarakat Dayak dari wilayah Landak. Perselisihan ini muncul akibat perebutan wilayah tambang dan pembukaan lahan baru yang dianggap memasuki kawasan masyarakat Dayak. Konflik tersebut menjadi salah satu tantangan besar bagi keberlangsungan kongsi.

4. Jiang Wubo (1803-1811)

Jiang Wubo kembali memimpin Lanfang Kongsi untuk periode kedua. Masa ini menjadi periode konsolidasi setelah berbagai konflik yang terjadi sebelumnya.

Lanfang tetap berusaha menjaga stabilitas perdagangan emas dan memperkuat jaringan kongsi di kawasan Kalimantan Barat.

5. Song Chabo (1811-1823)

Pada masa kepemimpinan Song Chabo, ekspansi tambang semakin berkembang hingga ke wilayah Landak. Periode ini juga mulai ditandai dengan meningkatnya campur tangan Belanda di Kalimantan Barat. Pemerintah kolonial mulai memperhatikan kekuatan ekonomi dan politik kongsi-kongsi penambang emas.

6. Liu Tai'er (1823-1837)

Masa Liu Tai'er adalah titik penting karena Lanfang mulai berada di bawah pengaruh kolonial Belanda. Belanda yang sebelumnya hanya berdagang mulai memperluas kontrol politik di Kalimantan Barat. Kongsi-kongsi penambang mulai ditekan agar tunduk pada administrasi kolonial dan membayar pajak.

7. Gu Liubo (1837-1842)

Pada masa Gu Liubo, Lanfang mengalami kemerosotan akibat konflik dengan Panembahan Landak. Ketegangan politik dan tekanan ekonomi membuat kekuatan kongsi mulai melemah. Selain menghadapi konflik eksternal, beberapa kongsi juga mengalami persoalan internal dan perebutan pengaruh.

8. Xie Guifang (1842-1843)

Masa kepemimpinan Xie Guifang berlangsung singkat, hanya satu tahun. Pada periode ini, kondisi Lanfang masih berada dalam tekanan politik dan ekonomi yang cukup berat.

9. Ye Tenghui (1843-1845)

Ye Tenghui memimpin Lanfang ketika pengaruh Belanda semakin kuat di Kalimantan Barat. Aktivitas kongsi mulai dibatasi dan pengawasan kolonial semakin ketat.

10. Liu Qianxing (1845-1848)

Pada masa Liu Qianxing kembali terjadi konflik dengan masyarakat Dayak Landak. Persaingan lahan tambang serta perebutan sumber daya menjadi pemicu utama ketegangan tersebut. Situasi keamanan kongsi semakin tidak stabil menjelang pertengahan abad ke-19.

11. Liu Asheng (1848-1876)

Liu Asheng menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah akhir Republik Lanfang. Ketika banyak kongsi lain mulai runtuh akibat perang dan tekanan kolonial, Liu Asheng justru berhasil membangkitkan kembali kekuatan Lanfang.

Ansheng melakukan banyak pembaruan, mulai dari memperkuat benteng pertahanan, memperbaiki gedung zongting, dan merenovasi klenteng-klenteng penting seperti Xianfeng Miao dan Fude Ci.

Liu Asheng juga memperoleh izin dari Sultan Landak untuk membuka tambang emas dan berlian baru di Bonan. Tambang tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tambang paling produktif di Kalimantan Barat dan ikut mendorong pertumbuhan wilayah Ngabang.

Sayang di balik keberhasilannya, Liu Asheng menghadapi situasi politik yang sangat rumit. Saat Belanda menyerang kongsi-kongsi lain di Montrado, Liu memilih mengakui kekuasaan Belanda secara resmi.

Ia menyadari persenjataan Belanda jauh lebih modern dan sulit dilawan secara terbuka. Karena itu, Liu menjalankan strategi politik dua muka. Di satu sisi ia bekerja sama dengan pemerintah kolonial, tetapi di sisi lain diam-diam masih membantu sesama kongsi yang melawan Belanda.

Strategi tersebut membuat Lanfang mampu bertahan lebih lama dibanding kongsi lainnya.

12. Liu Liangguan (1876-1880)

Setelah Liu Asheng berhenti sementara, kepemimpinan dilanjutkan oleh Liu Liangguan. Pada masa ini mulai terlihat perubahan dalam sistem kepemimpinan Lanfang. Jika sebelumnya ketua dipilih secara bebas oleh anggota kongsi, Liu Asheng mulai menunjuk keluarganya sendiri untuk menggantikan posisi kepemimpinan.

Perubahan ini dianggap menandai bergesernya tradisi demokratis yang sebelumnya menjadi ciri khas Lanfang Kongsi.

13. Liu Asheng (1880-1884)

Liu Asheng kembali memimpin pada periode terakhir Lanfang Kongsi. Tetapi kondisi saat itu sudah jauh melemah. Tekanan Belanda semakin besar, sementara kekuatan ekonomi kongsi mulai menurun akibat konflik berkepanjangan dan biaya pertahanan yang tinggi.

Liu bahkan menggunakan kekayaan pribadinya untuk mempertahankan keberlangsungan kongsi. Meski demikian, kondisi keuangan Lanfang terus memburuk.

Kisah Runtuhnya Republik Lanfang

Runtuhnya Lanfang Kongsi tidak terjadi secara tiba-tiba. Kemunduran kongsi berlangsung perlahan seiring semakin kuatnya kekuasaan kolonial Belanda di Kalimantan Barat.

Belanda awalnya hanya ingin mengontrol perdagangan dan menarik pajak dari aktivitas tambang emas. Namun lama-kelamaan pemerintah kolonial ingin menguasai langsung wilayah pertambangan tersebut.

Di sisi lain, Lanfang Kongsi juga terus menghadapi konflik dengan kerajaan Sambas, persaingan dengan kongsi lain, perlawanan masyarakat Dayak, serta tekanan ekonomi akibat peperangan berkepanjangan.

Dalam situasi itu, Liu Asheng mengambil strategi politik yang cukup rumit. Ia terkadang bekerja sama dengan Belanda demi mempertahankan keberadaan Lanfang Kongsi, tetapi di sisi lain juga diam-diam membantu kelompok lain yang melawan kolonial.

Setelah Liu Asheng meninggal dunia pada tahun 1884, pemerintah kolonial Belanda akhirnya membubarkan Lanfang Kongsi secara resmi. Seluruh wilayah dan anggota kongsi kemudian dimasukkan ke dalam administrasi pemerintahan kolonial Belanda. Peristiwa ini menandai berakhirnya salah satu organisasi penambang emas terbesar dan paling lama bertahan di Kalimantan Barat.

Hingga sekarang, kisah Republik Lanfang masih menjadi sejarah kekuatan Tionghoa di Kalimantan Barat. Dalam berbagai sumber juga disebutkan penduduk Lanfang bermigrasi ke Medan dan Singapura setelah bubarnya republik ini.

Halaman 2 dari 5
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads