Investasi Bontang Ditarget Tembus Rp3,4 Triliun pada 2026

Investasi Bontang Ditarget Tembus Rp3,4 Triliun pada 2026

Riani Rahayu - detikKalimantan
Rabu, 13 Mei 2026 06:00 WIB
Kota Bontang, Kalimantan Timur. (Istimewa)
Foto: Kota Bontang, Kalimantan Timur. (Istimewa)
Bontang -

Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) kembali diproyeksikan menjadi salah satu daerah dengan target investasi terbesar di Benua Etam pada 2026. Tahun ini, nilai investasi Bontang ditarget menembus Rp3,42 triliun atau naik 11,24 persen dibanding realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp3,08 triliun.

Capaian awal tahun pun sudah menunjukkan tren positif. Hingga triwulan pertama 2026, realisasi investasi di Bontang tercatat mencapai Rp796,78 miliar atau sekitar 23 persen dari target tahunan yang dipatok pemerintah provinsi.

Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur, mengatakan capaian itu menunjukkan aktivitas usaha di Bontang masih bergerak cukup kuat di tengah persaingan investasi antar daerah di Kaltim. Bontang diproyeksikan menjadi salah satu kontributor kunci bagi target investasi Provinsi Kaltim yang dipatok sebesar Rp 90,17 triliun pada tahun 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awal tahun ini trennya cukup bagus. Realisasi investasi kita sudah mendekati seperempat dari target tahunan," ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Dia menjelaskan, investasi yang masuk masih didominasi penanaman modal dalam negeri atau PMDN dengan nilai Rp707,31 miliar. Sedangkan investasi asing atau PMA tercatat sebesar Rp89,46 miliar.

Menurutnya, sektor industri masih menjadi penopang utama investasi di Bontang. Terutama di kawasan Bontang Utara yang selama ini dikenal sebagai kawasan industri kimia dan pengolahan.

"Wilayah Bontang Utara masih mendominasi. Industri kimia dan pengolahan masih jadi sektor yang paling banyak menyumbang investasi," katanya.

Dia menambahkan, pertumbuhan investasi juga mulai terlihat di kawasan lain. Di Bontang Selatan misalnya, investasi mulai bergerak di sektor perumahan, kawasan usaha hingga perkantoran. Sementara di Bontang Barat lebih banyak didorong sektor perdagangan, restoran dan jasa.

"Kalau di Bontang Barat sekarang cukup banyak bergerak di usaha makanan, perdagangan dan jasa. Itu juga jadi tanda aktivitas ekonomi masyarakat tumbuh," jelasnya.

Selain nilai investasi, aktivitas usaha yang berjalan di Bontang juga disebut ikut berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Hingga awal 2026, tercatat ada 212 proyek non-UMK berjalan dengan serapan tenaga kerja mencapai 939 orang.

Dia menyebut kemudahan pengurusan izin usaha melalui sistem OSS RBA ikut mempermudah pelaku usaha untuk masuk dan mengembangkan bisnis di Bontang.

"Yang kami dorong sekarang bukan hanya investasi masuk, tapi bagaimana investasi itu juga berdampak langsung terhadap lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah," tuturnya.

Menurutnya, keberadaan industri besar seperti Pupuk Kalimantan Timur dan Badak LNG juga masih menjadi daya tarik utama bagi investor untuk masuk ke Bontang.

"Bontang ini punya potensi besar karena industrinya sudah terbentuk. Tinggal bagaimana peluang itu terus dikembangkan supaya investasi baru terus masuk," pungkasnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads