Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax memicu keluhan dari kalangan pengemudi ojek online (ojol) di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. Pendapatan mereka dipastikan tergerus dengan harga Pertamax yang baru.
Sejumlah pengemudi mengaku terkejut dengan besarnya kenaikan harga Pertamax, yakni dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter. Selisih lebih dari Rp4.050 per liter dinilai bukan angka kecil bagi pekerja sektor informal yang pendapatannya bergantung pada jumlah order harian.
Salah satu pengemudi ojol di Pangkalan Bun, Ikhsan (27), mengaku sangat keberatan dengan kenaikan harga BBM tersebut. Menurutnya, kebijakan itu akan berdampak langsung terhadap pengeluaran harian para pekerja transportasi online.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya kami sehari mengisi Rp 50 ribu Pertamax sudah full, sekarang bisa Rp 65 ribu-Rp 70 ribu. Otomatis uang bersih yang kita bawa ke rumah terpotong dari beli BBM saja," ujarnya saat ditemui SPBU Jalan Diponegoro Pangkalan Bun, Rabu (10/6/2026) pagi.
Ikhsan mengatakan, bahan bakar merupakan kebutuhan utama dalam pekerjaannya. Sementara tarif layanan ojek online hingga kini belum mengalami penyesuaian.
"Sementara biaya operasional terus meningkat, tarif masih tetap, pendapatan bersih otomatis tergerus," keluhnya lagi.
Keluhan serupa juga disampaikan Bagas (34), pengemudi ojol lainnya di Pangkalan Bun. Ia mengaku kenaikan harga Pertamax kali ini menjadi salah satu yang paling memberatkan selama dirinya bekerja sebagai pengemudi online.
"Naiknya sungguh luar biasa parah. Di Pangkalan Bun ini sekarang harus antre panjang kalau mau beli Pertalite. Setiap hari kami biasanya isi Pertamax karena kendaraan lebih cocok menggunakan BBM itu," katanya.
Bagas menjelaskan, banyak pengendara kini mulai beralih ke Pertalite untuk menekan biaya pengeluaran. Akibatnya, antrean panjang mulai terlihat di sejumlah SPBU karena meningkatnya jumlah pembeli BBM bersubsidi.
Menurutnya, kondisi tersebut justru menimbulkan persoalan baru bagi para pengemudi ojol. Selain harus menghadapi kenaikan harga Pertamax, mereka juga kehilangan waktu kerja karena harus mengantre lebih lama untuk mendapatkan BBM.
"Kalau naik jadi Rp16.650 seperti sekarang, kami sudah sangat merugi kalau tetap bertahan beli Pertamax. Sementara tarif ojol belum naik. Jadi pendapatan bersih kami otomatis berkurang. Kalau antre Pertalite kita habis di waktu. Benar benar apes," ungkapnya.
Berdasarkan informasi penyesuaian harga jual BBM Khusus (BBK) di SPBU wilayah Kalimantan Tengah yang berlaku mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax ditetapkan sebesar Rp 16.650 per liter dari sebelumnya Rp 12.600. Sementara harga Pertamax Turbo tetap Rp 21.200 per liter, Dexlite Rp 23.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp 25.350 per liter.
Di sisi lain, pantauan detikKalimantan di SPBU Jalan Diponegoro, Pangkalan Bun, antrean kendaraan roda empat terlihat mengular hingga sekitar 500 meter. Puluhan kendaraan memadati jalur pengisian Pertalite sejak pagi hari setelah masyarakat mengetahui kenaikan harga Pertamax.
(bai/bai)