Pawai Tatung Singkawang, Saat Dewa Tionghoa-Leluhur Dayak Bertemu

Pawai Tatung Singkawang, Saat Dewa Tionghoa-Leluhur Dayak Bertemu

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 25 Jan 2026 09:39 WIB
Seorang Tatung (dukun Tionghoa yang kerasukan arwah leluhur) menancapkan beberapa besi ke mulutnya saat beratraksi dalam pawai perayaan Cap Go Meh 2574 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Minggu (5/2/2023). Perayaan Cap Go Meh yang dimeriahkan dengan atraksi ratusan tatung dan seni budaya Tionghoa lainnya tersebut kembali digelar di Kota Singkawang setelah sebelumnya vakum selama dua tahun karena pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/tom.
Atraksi dalam Pawai Tatung di Singkawang. Foto: ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG
Singkawang -

Kota Singkawang di Kalimantan Barat (Kalbar) yang dikenal dengan julukan 'Kota Seribu Kelenteng' merupakan salah satu kota paling toleran di Indonesia. Salah satu tradisi unik yang digelar adalah Pawai Tatung ketika perayaan Cap Go Meh.

Yang paling dicari para wisatawan adalah momen atraksi para Tatung yang mengikuti pawai sambil menusukkan benda tajam menembus pipi atau tubuh mereka. Atraksi ini mungkin membuat ngilu sekaligus takjub.

Melalui pawai ini, terlihat harmoni antaretnis, terutama Tionghoa dengan Dayak. Bukan sekadar atraksi ekstrem dan toleransi antara manusia, tetapi juga alam roh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Tatung?

Dalam Tatung Sebagai Budaya Masyarakat Tionghoa (Studi Komunikasi Ritual Tatung di Singkawang) dari Universitas Tarumanegara, Tatung dalam bahasa Mandarin disebut dengan Jitong. Tatung adalah hasil kepercayaan yang berasal dari upacara agama Dao.

Secara harfiah dalam bahasa Hakka, dikutip dari Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ) berjudul Pawai Tatung: Ritual Komunikatif Perekat Budaya di Kota Singkawang Kalimantan Barat, Tatung memiliki arti orang yang dirasuki oleh roh, dewa, leluhur, ataupun kekuatan supranatural.

Istilah lain yang juga sering digunakan adalah Lauya. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, Tatung berfungsi sebagai media atau perantara komunikasi antara dunia manusia dengan dunia roh atau dewa.

Keberadaan Tatung tidak bisa dilepaskan dari perayaan Cap Go Meh di Singkawang. Pada perayaan hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek, digelar Pawai Tatung yang bertujuan membersihkan kota dari roh jahat dan kesialan.

Sejarah Tatung, Bukan Sekadar Atraksi

Jauh sebelum menjadi atraksi wisata yang kolosal, sejarah Tatung di Singkawang bermula dari kedatangan orang-orang Tionghoa sebagai penambang emas di wilayah Monterado atas undangan Sultan. Mereka terserang wabah penyakit campak atau dalam bahasa Khek disebut tienfa.

Pada masa itu, belum ada dokter atau pengobatan medis yang memadai. Karena keputusasaan, masyarakat mengadakan ritual tolak bala (Ta Ciau) dan memohon pertolongan kepada Dewa (To Pe Kong) untuk mengusir roh jahat penyebab penyakit.

Melalui ritual ini, roh dewa merasuki seseorang yang kemudian bertindak sebagai tabib untuk menyembuhkan warga. Ajaibnya, wabah tersebut mereda. Sejak itulah, Tatung dipercaya memiliki kemampuan pengobatan dan koneksi supranatural untuk menolong masyarakat, bukan hanya sekadar untuk pamer kekebalan.

Ritual Sebelum Pawai Tatung

Tidak sembarang orang bisa menjadi Tatung. Mereka adalah orang-orang terpilih yang mendapatkan 'panggilan' dari dewa atau leluhur. Sebelum turun ke jalan untuk melakukan pawai, seorang Tatung harus menjalani serangkaian ritual penyucian diri yang ketat agar pantas dirasuki oleh roh suci.

Syarat utamanya adalah melakukan puasa vegetarian (Cia Cai) yang biasanya dilakukan mulai dari tiga hari atau minimal satu hari sebelum ritual. Selain menjaga pola makan, calon Tatung juga harus menjaga perilaku, seperti tidak boleh berhubungan badan dan tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor.

Pada hari-hari menjelang perayaan, biasanya dua hari menjelang Cap Go Meh, para Tatung akan mendatangi kelenteng untuk meminta restu. Mereka melakukan ritual Lempar Pak Pwe (melempar dua bilah kayu) di depan altar dewa untuk memastikan apakah dewa berkenan merasuki mereka dan mengizinkan mereka tampil.

Menyatukan Budaya dan Alam Roh

Puncak dari ritual ini adalah proses pemanggilan roh yang dilaksanakan saat Pawai Tatung. Diiringi mantra-mantra khusus dan asap dupa, tubuh Tatung akan mulai bergetar, batuk-batuk, atau bahkan muntah sebagai tanda roh sedang masuk mengambil alih kesadaran.

Setelah dirasuki, tubuh mereka menjadi kebal terhadap benda tajam. Dalam perjalanan saat pawai, para Tatung beraksi menusukkan besi ke pipi, berdiri di atas parang, dan sebagainya, namun tak ada yang terluka.

Yang membuat Tatung Singkawang sangat unik dan berbeda dari tempat lain adalah terjadinya akulturasi di alam roh. Dalam pawai ini, tidak hanya dewa-dewa Tionghoa yang turun, tetapi juga roh-roh leluhur Suku Dayak.

Penonton akan melihat Tatung beretnis Tionghoa berpakaian adat Dayak yang dirasuki leluhur Dayak, biasanya Panglima Perang Dayak. Pertemuan dewa Tionghoa dan leluhur Dayak ini turut merekatkan budaya.

Sumber:

  • Suryadi, F. F., & Azeharie, S. S. (2020). Tatung Sebagai Budaya Masyarakat Tionghoa (Studi Komunikasi Ritual Tatung di Singkawang). Koneksi.
  • Susanto, W., & Mailani, G. S. (2025). Pawai Tatung: Ritual Komunikatif Perekat Budaya di Kota Singkawang Kalimantan Barat. Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ).
Halaman 2 dari 3
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads