Masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) sudah tidak asing dengan cerita puake, yaitu sosok misterius yang diyakini sebagai penunggu Sungai Kapuas. Konon puake berwujud naga, buaya, maupun kura-kura.
Sungai Kapuas selama ini memang bukan sekadar aliran air bagi warga Kalbar. Kapuas sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga tak heran jika muncul sosok 'penjaga' yang diceritakan turun-temurun.
Ketahui seperti apa sosok puake yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat. Simak juga legenda mengenai naga dan buaya yang berkaitan dengan cerita puake.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Puake?
Puake juga disebut dengan puaka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puaka berarti demit atau hantu penunggu. Hantu ini bisa dikaitkan keberadaannya di air, tanah, maupun hutan.
Di Kalbar, masyarakat sering mengaitkan puake dengan penunggu Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Dalam Balale': Jurnal Antropologi berjudul Legenda Puaka Dari Sanggau (Folklor Masyarakat Pesisir Sungai Kapuas), wujudnya sering dikaitkan dengan naga dan buaya.
Berwujud Naga
Di Sanggau, puake ini disebut Golang Ui. Wujudnya ular naga dengan tubuh yang sangat panjang, membentang di Sungai Kapuas. Kepalanya berada di dekat Pancur Aji yang konon juga dihuni makhluk tak kasat mata. Ekornya membentang hingga ke ujung muara sungai Sekayam.
Berwujud Buaya
Ada juga wujud buaya jadi-jadian yang ada di sekitar sungai. Diyakini kerajaannya juga ada di sekitar daerah Pancur Aji. Di daerah Bansir, Pontianak, juga dikenal buaya putih yang disebut Sarassa.
Berwujud Kura-kura
Selain dua wujud puake yang umum diceritakan, ada juga yang menyebutkan wujud kura-kura raksasa yang disebut puake biukur. Orang yang memiliki pandangan ilmiah menghubungkannya dengan keberadaan spesies nyata kura-kura gading (Orlitia borneensis) yang sudah sangat langka.
Pesan di Balik Cerita Puake
Cerita rakyat atau folklor yang terus bertahan secara turun-temurun diyakini memiliki fungsi atau pesan tersembunyi di baliknya. Berikut beberapa di antaranya:
- Alat pendidikan dan perlindungan anak. Cerita seram mengenai puake digunakan orang tua sebagai mekanisme untuk melindungi anak-anak agar tidak bermain di sungai pada waktu-waktu petang atau bermain terlalu jauh ke tengah sungai.
- Penjaga lingkungan (fungsi ekologis). Keberadaan puake dianggap sebagai penjaga kebersihan sungai. Masyarakat percaya bahwa sungai harus dijaga agar tetap bersih dan tidak kotor karena ada 'penunggunya'.
- Penjelas fenomena alam. Folklor digunakan untuk merasionalisasi kejadian alam yang sulit dipahami pada masanya. Misalnya, kemunculan pasir timbul (beting) atau banjir sering dikaitkan dengan aktivitas kerajaan buaya atau pergerakan naga di dasar sungai.
Baca juga: Kuyang, Folklor Hantu dari Kalimantan |
Legenda Terkait Puake
Tentang keberadaan puake ini, ada sejumlah cerita rakyat, legenda, atau dongeng yang berkaitan. Salah satunya adalah kisah putra raja yang kembar bernama Buaya dan Naga. Berikut ceritanya:
Naga dan Buaya: Asal Usul Penunggu Kapuas
Dahulu kala di Kerajaan Kahayan Hilir, Pulau Mintin, memerintah seorang Raja yang arif dan bijaksana. Ia memiliki dua orang putra kembar dengan watak yang bertolak belakang, yaitu Naga dan Buaya.
Buaya tumbuh menjadi pemuda yang rendah hati dan gemar menolong rakyat. Sementara Naga memiliki tabiat buruk. Dia sombong, suka berfoya-foya, dan tidak mau bergaul dengan rakyat jelata.
Sepeninggal permaisuri tercinta, Raja dirundung duka yang mendalam. Ia memutuskan untuk menenangkan diri dengan pergi bertapa ke tempat yang jauh.
Sebelum berangkat, Raja menitipkan takhta Kerajaan Kahayan Hilir kepada kedua putranya dengan pesan tegas. "Pimpinlah kerajaan ini bersama-sama, saling tolong-menolong, dan jangan menyia-nyiakan kepercayaan Ayah."
Sepeninggal Raja, Naga mengingkari janji. Dengan angkuh, ia mengklaim kekuasaan tunggal dan menolak berbagi tugas dengan Buaya. Di bawah kendali Naga, kerajaan menjadi kacau. Harta dihamburkan untuk berjudi dan rakyat hidup sengsara di bawah kekejaman.
Buaya tidak tinggal diam melihat penderitaan rakyatnya. Ia menegur saudaranya, namun Naga justru menantangnya. Pertempuran saudara pun tak terelakkan.
Pasukan Buaya yang membela rakyat bertempur melawan pasukan Naga. Pulau Mintin membara oleh api peperangan.
Dalam pertapaannya, batin Raja terusik oleh firasat buruk. Dengan kesaktiannya, ia melihat kehancuran yang terjadi di istananya. Raja segera kembali dan mendapati kedua putranya sedang saling menghunus senjata.
Murka dan kecewa melihat amanatnya dikhianati, Raja menghentikan pertarungan itu. Ia berkata, "Kalian telah menyia-nyiakan kepercayaanku dan membuat rakyat sengsara. Terimalah hukumanku!"
Langit seketika gelap gulita diiringi halilintar yang menyambar. Raja pun mengucap kutukan.
Naga, karena watak buruk dan keserakahannya, dikutuk menjadi Naga sesungguhnya. Ia diusir dan diperintahkan menetap di sepanjang Sungai Kapuas dengan tugas menjaga sungai agar tidak ditumbuhi cendawan bantiung.
Buaya, karena kesalahannya lebih ringan dan berniat membela rakyat, dikutuk menjadi Buaya sesungguhnya. Ia diperintahkan menetap di Pulau Mintin dengan tugas membendung masuknya air asin ke daerah tersebut.
Sejak saat itu, kedua bersaudara itu menjalani hukuman abadi mereka sebagai penjaga di wilayah masing-masing, menjadi legenda yang dipercaya masyarakat setempat hingga hari ini.