Di tengah laut lepas Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), berdiri sebuah kelenteng unik yang seolah mengapung di atas air. Kelenteng bernama Xiao Yi Shen Tang atau Xuan Wu Zhen Tan ini lebih dikenal warga sebagai Kelenteng Timbul atau Pekong Laut.
Lokasinya sekitar lima kilometer dari daratan dan hanya bisa dijangkau dengan perahu klotok atau kapal wisata. Bangunan kelenteng berdiri sendirian di tengah laut, jauh dari hiruk pikuk kota.
Tak ada bangunan lain di sekitarnya, hanya hamparan laut dan suara ombak yang mengiringi perjalanan wisatawan. Pagi hari menjadi waktu terbaik untuk berkunjung, saat ombak relatif tenang sebelum kembali bergelora selepas siang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, daya tarik Kelenteng Timbul tak hanya pada bangunannya. Ada sosok sederhana yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat ini. Namanya Slamet, pria berusia 74 tahun yang telah hampir 30 tahun menjaga kelenteng. Menariknya, Slamet adalah seorang muslim.
Setiap hari Slamet datang ke kelenteng menggunakan perahu dari rumahnya di kawasan pabrik di tepi pantai. Ia tiba sekitar pukul 07.00 WIB dan pulang pada pukul 17.00 WIB. Khusus hari Minggu, ia biasanya pulang lebih malam.
"Dulu saya jaga pekong ini dengan bayaran Rp 400 ribu. Setelah itu saya berhenti karena tidak cukup," ujar Slamet, Selasa (10/2/2026).
Tak lama kemudian, Slamet kembali diminta menjaga kelenteng yang dibangun pada 1969 secara gotong royong oleh umat Tionghoa itu. Kali ini tanpa bayaran tetap. Ia mengaku lebih nyaman bekerja tanpa digaji karena merasa lebih bebas tak terikat.
"Kalau tidak digaji itu bebas, bisa ke mana-mana. Kalau digaji kan terikat," katanya.
Slamet menjaga Kelenteng Timbul di tengah laut Kubu Raya. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan |
Meski tak menerima upah, Slamet mengaku kerap mendapat uang dari pengunjung yang datang beribadah atau sekadar berwisata di kelenteng berukuran sekitar 20 x 20 meter dan menghadap ke timur tersebut.
Dengan kondisi kaki yang tidak bisa berjalan sempurna, ia tetap setia menjalani aktivitas sehari-hari di tengah laut. Selama hampir tiga dekade menjaga kelenteng, Slamet telah bertemu banyak orang dari berbagai daerah dan negara. Menjelang Imlek, pengunjung biasanya datang lebih ramai.
"Dari luar kota banyak, dari Jakarta ada. Pernah juga orang Belanda datang sama istrinya orang Indonesia," ujarnya.
Soal perbedaan keyakinan, Slamet tak pernah mempermasalahkan. Menurutnya, selama pekerjaan tidak melanggar aturan dan norma, semuanya baik-baik saja.
"Semuanya sama saja menurut saya, tidak masalah," ucapnya singkat.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata pada Disporapar Kalbar Rita Hastarita juga sempat berkunjung ke kelenteng ini. Menurutnya, kisah Slamet menjadi cerminan toleransi yang hidup dan nyata.
Di Kelenteng Timbul Xuan Wu Zhen Tan, toleransi tidak hanya menjadi cerita, tetapi hadir dalam keseharian-melalui kepercayaan, kesetiaan, dan ketulusan seorang penjaga muslim di tempat ibadah umat lain, di tengah laut Kalbar.
"Penjaga pekong merupakan warga Sungai Kakap yang beragama Islam dan telah bertugas selama kurang lebih 30 tahun. Hal tersebut mencerminkan terjaganya toleransi beragama di Sungai Kakap, sekaligus menjadi harapan agar sinergi antarumat beragama terus terjalin dengan erat," ucapnya.
