Patung Penyang dalam Budaya Dayak, Penangkal Niat Jahat dari Musuh

Patung Penyang dalam Budaya Dayak, Penangkal Niat Jahat dari Musuh

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 12 Feb 2026 11:31 WIB
Patung penyang dari bambu
Patung penyang dari bambu/Foto: Istimewa (dok buku Sekilas Koleksi Hampatung di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah Balanga)
Balikpapan -

Suku Dayak memiliki budaya yang melimpah. Dari tradisi, upacara adat, sistem kepercayaan, hingga berbagai peninggalan leluhur. Semuanya diwariskan secara turun-temurun dan masih dijaga hingga masa sekarang. Setiap unsur budaya punya makna yang memengaruhi cara pandang masyarakat Dayak terhadap alam, kehidupan, dan alam roh.

Bukan cuma itu, masyarakat Dayak juga terkenal dengan berbagai bentuk seni tradisionalnya, termasuk patung-patung yang punya nilai estetika dan makna simbolik. Salah satu yang menarik untuk dikaji adalah patung penyang, sebuah benda yang dipercaya memiliki kekuatan perlindungan bagi pemiliknya.

Dalam buku Sekilas Koleksi Hampatung di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah Balanga yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah, dijelaskan bahwa penyang biasanya dihubungkan dengan kekuatan dan kekebalan seseorang dalam menangkal niat buruk dari musuh. Penjelasan ini menunjukkan bahwa patung penyang sejak lama dianggap sebagai bagian dari perlindungan spiritual dalam kehidupan masyarakat Dayak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bentuk dan Bahan Patung Penyang

Berdasarkan keterangan dalam buku tersebut, patung penyang tidak berbentuk seperti patung-patung pada umumnya yang besar dan berdiri sebagai bentuk yang tunggal. Penyang merupakan rangkaian patung-patung mini yang digabung menjadi satu kesatuan. Patung-patung kecil ini memiliki berbagai motif, sehingga membentuk susunan yang unik ketika dilihat.

Bahan pembuatannya pun berasal dari alam, antara lain kayu, bambu, dan rotan yang berfungsi sebagai tali pengikat. Selain itu, dalam beberapa koleksi penyang, juga ditemukan penggunaan bahan alami lain seperti taring beruang dan kulit kera.

Penyang berbahan taring beruang diikat dan dirangkai menjadi satu menjadi sebuah gelang. Sementara kulit kera berukuran besar dirangkai bersama taring beruang, sedangkan kulit yang lebih kecil digunakan sebagai hiasan tambahan.

Penggunaan bahan-bahan alami ini menunjukkan eratnya hubungan masyarakat Dayak dengan lingkungan sekitar, sekaligus mencerminkan keyakinan bahwa kekuatan alam dapat menjadi sumber perlindungan.

Fungsi sebagai Penangkal Niat Jahat

Salah satu ciri khas patung penyang adalah cara penggunaannya. Berbeda dengan patung lain yang biasanya ditempatkan di rumah atau area ritual, penyang digunakan di badan sebagai penangkal niat buruk atau kejahatan dari pihak musuh.

Penyang bukan hanya menjaga sebuah ruangan atau sebuah keluarga, tetapi juga dipercaya melindungi individu yang menggunakannya secara langsung. Biasanya penyang digunakan dengan cara digenggam biasa, atau dipakai sebagai gelang maupun kalung yang akan terus digunakan untuk menjaga pemakainya dari marabahaya.

Kepercayaan terhadap penyang bermula pada pandangan hidup masyarakat Dayak yang melihat bahwa ancaman tidak selalu terlihat dengan mata, tetapi juga bisa datang dari niat jahat, energi negatif, atau gangguan spiritual.

Dalam sistem kepercayaan tradisional Dayak, terutama yang dipengaruhi oleh ajaran Kaharingan, kehidupan manusia selalu berada dalam hubungan dengan roh leluhur dan kekuatan alam. Setiap benda yang digunakan dalam kehidupan adat biasanya memiliki makna khusus tersendiri yang erat dengan nilai spiritual, termasuk penyang.

Saat ini, detikers bisa melihat patung penyang di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah Balanga. Museum ini berperan penting dalam mendokumentasikan dan melestarikan artefak budaya Dayak, termasuk berbagai jenis hampatung dan benda ritual lainnya.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads