Gema Musik Bangun Sahur di Tepi Kapuas, Siap Jadi Ikon Budaya Religi Pontianak

Gema Musik Bangun Sahur di Tepi Kapuas, Siap Jadi Ikon Budaya Religi Pontianak

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Senin, 23 Feb 2026 21:00 WIB
Festival Musik Bangun Sahur di tepi Sungai Kapuas, Pontianak.
Festival Musik Bangun Sahur di tepi Sungai Kapuas, Pontianak. Foto: Dok. Istimewa
Pontianak -

Malam di tepian Sungai Kapuas tak pernah sepi selama Ramadan. Festival Musik Bangun Sahur kembali digelar. Tabuhan beduk dan rebana hingga lantunan syair religi yang menggema dari halaman Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

Kegiatan ini menghidupkan tradisi lama membangunkan sahur yang dulu dilakukan berkeliling kampung dengan alat seadanya. Kini dikemas lebih modern dan atraktif, sehingga naik kelas menjadi panggung ekspresi seni. Namun esensinya tetap sama, yakni membangunkan warga dengan semangat kebersamaan Ramadan.

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak memastikan dukungan penuh agar festival ini semakin profesional, tertata, dan konsisten digelar setiap Ramadan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harapannya, Festival Musik Bangun Sahur tak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga bagian dari rebranding kawasan Masjid Jami dan Istana Kadriah sebagai pusat budaya sungai yang hidup," katanya, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, festival ini bukan sekadar ajang kreativitas anak muda memukul beduk atau memainkan musik religi. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah upaya memperkuat identitas sejarah Kota Pontianak.

"Kita tidak boleh lupa bahwa cikal bakal Kota Pontianak bermula dari kawasan Masjid Jami ini. Karena itu, penyelenggaraan festival ke depan harus mampu menonjolkan nilai historis tersebut," ujarnya.

Masjid Jami yang berdiri sejak era Kesultanan menjadi saksi lahirnya peradaban kota. Bersama kawasan Istana Kadriah, wilayah ini merupakan jantung sejarah Pontianak yang tumbuh dari budaya sungai.

Untuk memperkuat daya tarik visual dan citra kawasan, Bahasan mengusulkan agar tata panggung festival ke depan diorientasikan menghadap ke Sungai Kapuas. Konsep itu dinilai strategis karena dapat menghadirkan latar sungai sebagai panggung alami sekaligus ikon khas Pontianak, terutama bagi masyarakat dan wisatawan yang melintas melalui jalur air.

"Kalau dikemas dengan baik, ini bisa menjadi etalase budaya religi yang membanggakan, sekaligus mendukung sektor pariwisata kota," katanya.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads