Berbeda dengan Natal yang selalu dirayakan setiap 25 Desember, hari raya umat Kristiani yang satu ini tidak memiliki penanggalan yang pasti tiap tahunnya. Peringatan Kebangkitan Yesus Kristus atau yang dikenal dengan Paskah justru hadir dengan tanggal yang berbeda-beda, sama seperti perayaan Idulfitri.
Kadang Paskah jatuh di akhir Maret, di tahun lain bisa bergeser hingga pertengahan atau bahkan akhir April. Mengapa demikian? Yuk, cari tau informasi lengkapnya berikut ini.
Berawal dari Perbedaan Catatan Injil
Disadur dari laman Greja Kristen Jawi Wetan (gkjw.or.id), salah satu alasan awal mengapa tanggal Paskah tidak langsung seragam berasal dari perbedaan catatan dalam Injil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas atau yang disebut Injil Sinoptik, disebutkan bahwa Yesus sempat merayakan jamuan Paskah bersama para murid sebelum disalibkan. Artinya, penyaliban terjadi setelah perayaan Paskah Yahudi, yakni sekitar tanggal 15 Nisan dalam kalender Ibrani.
Namun dalam Injil Yohanes, kronologinya justru berbeda. Yohanes mencatat bahwa penyaliban Yesus terjadi tepat pada hari Paskah Yahudi, yaitu tanggal 14 Nisan, saat anak domba Paskah disembelih.
Perbedaan ini membuat generasi awal umat Kristen memiliki pandangan yang berbeda tentang kapan seharusnya memperingati wafat dan kebangkitan Yesus, sehingga pada abad-abad pertama, perayaan Paskah memang belum memiliki tanggal tetap.
Beberapa negara seperti Asia merayakan Paskah setiap tanggal 14 Nisan mengikuti kalender Yahudi, baik jatuh pada hari minggu maupun tidak. Tradisi ini dikenal sebagai Quartodecimanisme.
Sementara itu, komunitas lain memilih merayakan Paskah pada hari Minggu, karena diyakini sebagai hari kebangkitan Yesus. Perbedaan ini sempat menimbulkan perdebatan dan perpecahan kecil dalam masa gereja awal, karena masing-masing kelompok memiliki dasar teologis yang kuat.
Konsili Nicea Tahun 325
Untuk menyatukan perbedaan tersebut, Kaisar Konstantinus Agung mengadakan Konsili Nicea pada tahun 325 Masehi. Dalam pertemuan ini, salah satu keputusan penting yang diambil adalah menetapkan cara penentuan tanggal Paskah.
Hasilnya disepakati bahwa:
- Paskah harus dirayakan pada hari Minggu
- Paskah tidak lagi mengikuti kalender Yahudi
- Paskah ditentukan sebagai hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama yang terjadi setelah ekuinoks musim semi
Ekuinoks musim semi dalam perhitungan gereja ditetapkan pada 21 Maret, walaupun secara astronomi bisa terjadi pada 19 atau 20 Maret. Metode ini dikenal sebagai computus, yaitu sistem perhitungan khusus untuk menentukan tanggal Paskah.
Mengapa Penanggalan Paskah Selalu Berubah?
Dari keputusan tadi, terlihat bahwa penentuan Paskah tidak berdasarkan kalender tetap seperti Natal, melainkan kombinasi antara kalender matahari, di mana tanggal 21 Maret sebagai patokan ekuinoks, kalender bulan bulan (purnama pertama setelah tanggal tersebut), dan hari Minggu sebagai hari kebangkitan Yesus.
Karena siklus bulan tidak selalu sejajar dengan kalender Masehi, maka tanggal Paskah pun ikut berubah setiap tahun. Dalam sistem ini, Paskah bisa jatuh paling cepat pada 22 Maret dan paling lambat pada 25 April.
Perbedaan Gereja Barat dan Ortodoks
Nah, meskipun keputusan Konsili Nicea telah diterima dan digunakan secara luas, dalam praktiknya tetap ada perbedaan hingga sekarang. Gereja Barat (Katolik dan Protestan) menggunakan kalender Gregorian, yang menjadi standar internasional saat ini. Sementara itu, Gereja Ortodoks Timur masih menggunakan kalender Julian yang lebih lama.
Perbedaan sistem kalender ini membuat Paskah Ortodoks sering jatuh pada tanggal yang berbeda dari Paskah di Gereja Barat, bahkan bisa berselisih beberapa minggu.
Cara Menghitung Paskah 2026
Untuk memahaminya, coba kita hitung dan tentukan kapan Paskah 2026. Penentuan ini selalu dimulai dari satu titik acuan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu ekuinoks musim semi. Ekuinoks ini ditetapkan secara tetap pada 21 Maret, padahal secara astronomi, peristiwa ketika siang dan malam sama panjang ini bisa terjadi pada 19, 20, atau 21 Maret.
Namun sejak keputusan Konsili Nicea tahun 325, tanggal 21 Maret dipilih sebagai patokan tetap agar perhitungan lebih sederhana dan seragam di seluruh dunia, tanpa harus bergantung pada observasi astronomi yang bisa berubah-ubah.
Setelah menetapkan 21 Maret sebagai titik awal, langkah berikutnya adalah mencari bulan purnama pertama yang terjadi setelah tanggal tersebut. Perlu dipahami di sini bahwa bulan purnama yang digunakan dalam perhitungan gereja bukan selalu berdasarkan pengamatan astronomi, melainkan menggunakan sistem kalender gerejawi yang sudah ditentukan sebelumnya. Inilah yang membuat tanggal Paskah berbeda-beda dengan perhitungan kalender biasa.
Pada tahun 2026, bulan purnama pertama setelah 21 Maret jatuh di awal bulan April. Dari titik ini, aturan berikutnya adalah menentukan hari Minggu pertama setelah bulan purnama tersebut. Karena bulan purnama terjadi sebelum akhir pekan, maka hari Minggu terdekat setelahnya jatuh pada 5 April 2026. Itulah sebabnya Paskah tahun 2026 dirayakan pada tanggal tersebut.
Dari penetapan ini, rangkaian perayaan lainnya otomatis mengikuti, seperti Jumat Agung, yang memperingati wafat Yesus Kristus, jatuh dua hari sebelumnya, yaitu pada 3 April 2026. Sementara Sabtu Suci berada di tengahnya, yakni 4 April 2026.
Meskipun tanggal Paskah terus berubah, esensi perayaannya tetap sama, yaitu memperingati kebangkitan Yesus Kristus sebagai simbol harapan, kemenangan, dan kehidupan baru.
Yang terpenting di sini bukanlah kapan Paskah dirayakan, melainkan bagaimana makna kebangkitan itu dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan detikers!
(des/des)
