Beragam suku yang hidup di Pulau Kalimantan. Beberapa suku besar yang mendiami pulau ini seperti suku Banjar, Kutai, hingga yang terbesar yakni suku Dayak. Masing-masing suku memiliki tradisi, bahasa, serta warisan budaya yang unik dan berbeda satu sama lain.
Khususnya di Kalimantan Barat, keberagaman budaya terasa begitu kuat. Selain didominasi masyarakat Dayak dan Melayu, wilayah ini juga memiliki pengaruh budaya Tionghoa yang cukup besar, terutama di daerah pesisir dan perkotaan. Perpaduan berbagai budaya membuat Kalimantan Barat menjadi provinsi yang punya identitasnya tersendiri, termasuk dalam hal senjata tradisional.
Berbicara tentang senjata tradisional Kalimantan, banyak orang langsung teringat dengan mandau yang memang menjadi senjata khas suku Dayak. Namun, ada satu lagi senjata kuno yang tak kalah menarik untuk dibahas, yaitu duhung atau dohong. Senjata ini justru dipercaya sebagai salah satu cikal bakal senjata tajam di Kalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Duhung Berbeda dengan Mandau
Duhung atau yang sering juga disebut dohong, adalah senjata tradisional berbentuk belati yang berasal dari suku Dayak Ngaju. Sekilas, bentuknya menyerupai ujung mata tombak, tapi memang digunakan seperti pisau atau senjata tikam.
Dibandingkan dengan mandau yang lebih terkenal, duhung memiliki bentuk yang lebih sederhana, cerita tentang nilai sejarah yang sangat tinggi. Bukan main, menurut kepercayaan masyarakat Dayak, duhung adalah senjata tertua yang konon sudah ada sebelum manusia diciptakan.
Baca juga: Jangan Main-main dengan Mandau! |
Asal-usul dan Legenda Duhung
Dalam kepercayaan dan cerita turun-menurun yang ada di masyarakat Dayak, duhung bukan hanya dilihat sebagai senjata tajam biasa. Mereka percaya bahwa duhung merupakan pusaka suci berbilah lurus yang usianya diyakini jauh lebih tua dibandingkan mandau.
Senjata ini berasal dari kayangan yang diciptakan langsung oleh Sang Pencipta dan diturunkan kepada leluhur pertama. Konon pada awalnya hanya ada tiga tokoh penting yang berhak memegang pusaka ini, yaitu Raja Sangen, Raja Sangiang, dan Raja Bunu.
Menariknya lagi, ada perbedaan kasta material pada duhung yang mereka miliki. Duhung milik Raja Sangen dan Raja Sangiang konon ditempa dari besi yang mampu mengapung di atas air, sementara duhung milik Raja Bunu terbuat dari besi biasa yang disebut lenteng.
Perbedaan material ini punya cerita masing-masing, karena Raja Bunu dipercaya sebagai cikal bakal atau leluhur umat manusia di bumi yang terikat pada kodrat fana, yakni bisa hidup dan mati.
Ciri-ciri dan Bentuk Duhung
Secara fisik, duhung punya karakteristik yang cukup unik, di antaranya:
- Panjang sekitar 50-75 cm
- Bilah simetris dengan kedua sisi tajam
- Ujung runcing seperti mata tombak
- Bentuk agak melengkung
- Gagang biasanya berbentuk bulat
- Dilengkapi sarung dari kayu
Karena ukurannya yang tidak terlalu besar, duhung termasuk senjata jarak dekat yang digunakan untuk menusuk atau menikam. Seperti keris, biasanya senjata ini dibawa dengan cara diselipkan di pinggang.
Fungsi Duhung dari Masa ke Masa
Pada zaman dahulu, duhung memiliki banyak fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Dayak, antara lain:
- Senjata perang
- Alat berburu di hutan
- Digunakan dalam kegiatan bercocok tanam
- Memotong tali pusar bayi
- Perlengkapan dalam upacara adat
Seiring berjalannya waktu, fungsi duhung sudah banyak berubah dari senjata untuk bertahan diri menjadi sebuah alat yang digunakan saat upacara adat. Sekarang, kita bisa melihat duhung digunakan dalam upacara Tiwah, yaitu ritual kematian dalam masyarakat Dayak.
Di acara tersebut, duhung punya peran khusus sebagai alat untuk menyembelih hewan kurban seperti kerbau atau sapi. Penggunaannya pun tidak bisa asal-asalan, karena ada tata cara tertentu yang harus diikuti sebagai bentuk hormat kepada leluhur dan alam.
Selain untuk upacara adat, banyak juga yang menyimpan duhung hanya sebagai benda pusaka atau koleksi di rumah. Dari dulu sampai sekarang, tidak semua orang bisa atau boleh memiliki duhung. Senjata ini dianggap punya derajat yang tinggi, jadi biasanya hanya tokoh-tokoh penting dalam masyarakat Dayak yang berhak menyimpannya.
Mereka adalah sosok seperti Damang atau pemimpin adat tertinggi, Mantir atau pengurus atau penasihat adat, dan Basir atau biasa dikenal sebagai pemimpin ritual adat. Bagi mereka, menyimpan duhung adalah tanggung jawab besar sekaligus sebagai tanda kepemimpinan dan kehormatan.
Simak Video "Video Yaqut Tak Bisa Makan Santan, Istri Jenguk ke Rutan Bawa Tempe Goreng"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)