Di balik megahnya Bukit Kelam yang menjulang di tengah hutan tropis Kalimantan Barat (Kalbar), tersimpan sebuah legenda tua yang cukup terkenal, setidaknya bagi masyarakat Kelam Permai, Kabupaten Sintang. Legenda itu berkisah tentang seorang tokoh sakti bernama Bujang Beji.
Nama Bujang Beji memang tidak bisa dipisahkan dari asal-usul terbentuknya Bukit Kelam. Dalam cerita rakyat setempat, ia digambarkan sebagai sosok kuat nan sakti, tetapi juga memiliki sifat iri, dengki, dan serakah.
Kisahnya memiliki pesan moral yang kuat. Lantas, bagaimana kisah Bujang Beji dan kaitannya dengan asal usul Bukit Kelam? Simak penjelasannya berikut ini, disadur dari buku Koleksi Terbaik Cerita Rakyat Nusantara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Legenda Bujang Beji
Konon, pada zaman dahulu di wilayah Sintang hidup dua pemimpin yang sama-sama sakti, yaitu Bujang Beji dan Temenggung Marubai.
Bujang Beji dikenal sebagai pemimpin yang keras, mudah marah, dan sering iri melihat keberhasilan orang lain. Sementara itu, Temenggung Marubai justru dikenal baik hati, suka menolong, dan disukai masyarakat.
Keduanya sama-sama mencari nafkah dengan menangkap ikan di sungai serta berladang. Bujang Beji menguasai wilayah Sungai Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai wilayah Sungai Melawi. Namun, hasil tangkapan ikan Temenggung Marubai jauh lebih banyak dibandingkan Bujang Beji. Hal inilah yang membuat Bujang Beji dipenuhi rasa iri.
Rencana Membendung Sungai Melawi
Karena iri dengan hasil tangkapan Temenggung Marubai, Bujang Beji mulai memikirkan cara untuk menghentikan aliran ikan di Sungai Melawi. Ia bahkan sempat menggunakan racun untuk menangkap ikan di wilayahnya sendiri. Namun cara itu justru membuat ikan di Sungai Kapuas habis dan rusak.
Akhirnya, Bujang Beji berniat membendung Sungai Melawi menggunakan batu raksasa. Ia pergi ke daerah Nanga Silat untuk mengambil puncak bukit batu yang sangat besar. Dengan kesaktiannya, batu itu dipikul dan dibawa menuju Sungai Melawi agar aliran sungai dapat ditutup.
Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa batu raksasa itu dibawa dengan bantuan tujuh helai daun ilalang. Tetapi di tengah perjalanan, daun tersebut putus sehingga batu besar jatuh dan membentuk Bukit Kelam yang ada sekarang.
Batu Raksasa yang Jatuh Menjadi Bukit Kelam
Saat Bujang Beji sedang membawa batu besar tersebut, konon para bidadari di langit menertawakannya. Karena penasaran, ia menengadah ke atas untuk melihat siapa yang tertawa.
Pada saat itulah ia tidak sengaja menginjak duri beracun hingga kehilangan keseimbangan. Batu besar yang dipikulnya pun jatuh dan tertancap di tanah. Batu itulah yang kemudian berubah menjadi Bukit Kelam. Nama "Kelam" sendiri dikaitkan dengan warna batu yang gelap atau peristiwa jatuhnya batu raksasa tersebut.
Dalam legenda lain, Bujang Beji sempat mencoba mencongkel batu yang jatuh dengan menggunakan bukit memanjang. Bukit itu kemudian menjadi Bukit Liut.
Akhir Tragis Bujang Beji
Bujang Beji tidak terima ditertawakan para bidadari. Ia lantas berusaha membalas dendam dengan menanam pohon raksasa yang bisa menjulang hingga ke langit.
Sebelum memanjat pohon itu, Bujang Beji mengadakan upacara adat dan memberi makan semua hewan hutan agar mereka membantunya. Namun ia lupa memberi makan beruang dan rayap.
Karena marah, rayap mulai menggerogoti pohon tersebut sementara beruang ikut merobohkannya. Saat Bujang Beji sedang memanjat, pohon itu tumbang dan ia pun jatuh hingga meninggal dunia. Akhir hidupnya bisa kita petik bahwa keserakahan dan dendam tidak pernah membawa kebaikan.
Makna di Balik Legenda Bujang Beji
Legenda Bujang Beji bukan hanya menjelaskan asal-usul Bukit Kelam, tetapi juga memiliki pesan moral yang kuat. Cerita ini mengajarkan kita bahwa rasa iri, serakah, dan keinginan merugikan orang lain pada akhirnya hanya akan merusak diri sendiri.
Sebaliknya, Temenggung Marubai yang jujur, rendah hati, dan hidup tenang justru digambarkan sebagai sosok yang dihormati masyarakat. Karena itulah, legenda ini masih terus diceritakan sebagai bagian dari budaya masyarakat Sintang hingga sekarang.