Cantiknya Motif Kain Sasirangan Banjar, Dibuat dengan Teknik Jahit Ikat

Cantiknya Motif Kain Sasirangan Banjar, Dibuat dengan Teknik Jahit Ikat

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Sabtu, 02 Mei 2026 11:09 WIB
Motif Kain Batik Sasirangan Banjar. (Arsip Pemkot Banjarmasin)
Foto: Motif Kain Batik Sasirangan Banjar. (Arsip Pemkot Banjarmasin)
Banjar -

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kain khas dengan motif, teknik pembuatan, dan tentunya filosofi yang berbeda-beda. Jika berbicara tentang batik, banyak yang langsung terbesit pada batik dari pulau Jawa. Padahal, di daerah lain juga punya batik khas, tidak terkecuali Kalimantan.

Di Samarinda terdapat Sarung Samarinda yang terkenal dengan motif kotak-kotaknya. Di suku Dayak, ada pula berbagai kain tenun dengan motif alam dan tumbuhan. Sementara di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar memiliki kain khas yang sangat terkenal yaitu Sasirangan.

Sasirangan juga kerap disebut batik Banjar karena memiliki motif yang indah dan berwarna-warni. Namun sebenarnya, proses pembuatannya sangat berbeda dengan batik Jawa. Jika batik dibuat menggunakan canting dan malam atau lilin panas, Sasirangan justru menggunakan teknik jahit ikat atau stitch-resist dyeing.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknik tersebut yang membuat Sasirangan memiliki garis-garis khas, efek gradasi yang unik, dan tekstur berbeda dibanding kain tradisional lainnya.

Asal Usul Sasirangan

Dari hobi jadi usaha, Acil Imas kembangkan sasirangan modern hingga buka butik dan ciptakan lapangan kerja. Yuk intip pembuatannya.Kain sasirangan modern. (Jamkrindo)

Sasirangan dibuat melalui proses pewarnaan rintang menggunakan bahan perintang seperti tali, benang, atau ikatan tertentu. Nama Sasirangan berasal dari kata sirang yang dalam bahasa Banjar berarti dijahit, dijelujur, atau diikat menggunakan tangan. Motif pada kain ini terbentuk dari proses jahitan dan ikatan benang yang kemudian dicelup ke pewarna.

Dulu, Sasirangan dikenal sebagai kain pamintan atau kain permintaan. Kain ini dibuat berdasarkan permintaan khusus, biasanya untuk ritual adat masyarakat Banjar.

Batik Sasirangan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-12 hingga abad ke-14 pada masa Kerajaan Dipa di Kalimantan Selatan. Pada masa itu, kain ini dikenal dengan nama Kain Calapan.

Menurut sejarah yang dirangkum oleh Binus University dalam publikasi berjudul Selayang Pandang Asal Usul Kain Sasirangan, kain ini pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat. Kisahnya bermula ketika ia melakukan semedi selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Saat ritual itu hampir selesai, rakit yang ditumpanginya tiba di wilayah Bagantung dan muncul sosok Putri Junjung Buih.

Sang putri bersedia muncul ke permukaan dengan syarat dibuatkan istana dalam sehari dan selembar kain yang ditenun serta diwarnai dengan motif wadi atau padiwaringin oleh empat puluh putri dalam waktu sehari pula. Dari sinilah dipercaya awal mula lahirnya kain Sasirangan.

Sasirangan bukanlah kain biasa dulunya. Kain ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan sering dipakai untuk ritual pengobatan tradisional. Karena dikenal sebagai kain pamintan, setiap warna memiliki fungsi tertentu, contohnya:

Warna kuning: Digunakan untuk mengobati penyakit kuning
Warna hijau: Dipercaya untuk membantu penyembuhan kelumpuhan atau stroke
Warna merah: Digunakan bagi penderita sakit kepala atau insomnia
Warna hitam: Dipercaya untuk mengatasi demam dan penyakit kulit

Teknik Pembuatan Sasirangan

Ada satu hal menarik dari Sasirangan. Proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama karena tekniknya yang rumit. Tahapan pembuatannya meliputi:

  • Menyungging: Pola atau motif digambar terlebih dahulu di atas kain polos, biasanya berbahan katun atau sutra
  • Menirang atau Menjelujur: Setelah pola selesai digambar, bagian tersebut dijahit menggunakan benang tebal mengikuti garis motif
  • Menyisik: Benang jahit ditarik sekuat mungkin hingga kain berkerut rapat. Bagian yang terjepit nantinya tidak terkena warna
  • Pencelupan Warna: Kain dicelup ke dalam pewarna. Area yang terikat rapat akan membentuk motif
  • Membuka Jahitan: Setelah pewarnaan selesai, benang dicabut satu per satu sehingga muncul pola khas Sasirangan yang dibuat

Keunikan lainnya ada pada bekas lubang jarum di sepanjang motif. Bekas tersebut menjadi tanda bahwa kain dibuat secara manual, bukan dicetak mesin.

Motif-motif Sasirangan dan Maknanya

Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal HAKI telah mengakui sejumlah motif Sasirangan sebagai warisan budaya Banjar. Beberapa motif yang paling terkenal antara lain:

  • Iris Pudak: Motif ini menyerupai irisan daun pandan atau pudak. Filosofinya adalah keharuman budi pekerti, kesetiaan, dan kelembutan hati
  • Kambang Raja: Motif berbentuk bunga mekar yang melambangkan kemuliaan, kebesaran, dan status sosial tinggi

Motif Kembang Raja Sasirangan. Foto: Dok. Pemkot BanjarmasinMotif Kembang Raja Sasirangan. Foto: Dok. Pemkot Banjarmasin

  • Bayam Raja: Motif ini berupa garis-garis lengkung yang menyerupai tanaman bayam. Maknanya adalah kepemimpinan yang kuat, berwibawa, dan mengayomi
  • Ombak Sinapur Karang: Motif bergelombang seperti ombak laut. Filosofinya menggambarkan ketabahan manusia dalam menghadapi berbagai ujian hidup

Motif Ombak Sinapur Karang. Foto: Dok. Arsip Pemkot BanjarmasinMotif Ombak Sinapur Karang. Foto: Dok. Arsip Pemkot Banjarmasin

  • Naga Balimbur: Motif berbentuk garis zig-zag menyerupai naga. Maknanya adalah kekuatan, keberanian, dan kelincahan dalam bekerja
  • Bintang Bahambur: Motif berbentuk taburan bintang yang melambangkan harapan dan cahaya kehidupan
  • Sari Gading: Motif ini menggambarkan keindahan dan kemurnian
  • Kulit Kayu: Terinspirasi dari pola alami pada kulit pohon yang melambangkan kedekatan masyarakat Banjar dengan alam
Motif Kulit Kayu batik Sasirangan. Foto: Dok. Arsip Pemkot BanjarmasinMotif Kulit Kayu batik Sasirangan. Foto: Dok. Arsip Pemkot Banjarmasin
  • Jajumputan: Motif ini menyerupai titik-titik hasil ikatan kecil pada kain
  • Turun Dayang: Motif ini menggambarkan kelembutan dan keanggunan perempuan Banjar
  • Kambang Tampuk Manggis: Motif yang terinspirasi dari bentuk bagian atas buah manggis
Motif Kambang Tampuk Manggis. Foto: Dok. Arsip Pemkot BanjarmasinMotif Kambang Tampuk Manggis. Foto: Dok. Arsip Pemkot Banjarmasin
  • Daun Jaruju: Motif yang diambil dari bentuk daun tanaman jaruju yang tumbuh di daerah rawa
  • Kangkung Kaombakan: Motif menyerupai tanaman kangkung yang bergerak mengikuti ombak air
  • Sisik Tanggiling: Motif yang menyerupai sisik trenggiling dan melambangkan perlindungan diri
  • Kambang Tanjung: Motif bunga tanjung yang identik dengan keindahan dan keharuman.

Itu dia berbagai motif Sasirangan atau batik Banjar yang ternyata memiliki banyak makna dan filosofinya tersendiri. Motif mana yang paling detikers suka?




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads