Arsitektur Xiao Yi Shen Tang, Kelenteng Tengah Laut Satu-Satunya di Indonesia

Arsitektur Xiao Yi Shen Tang, Kelenteng Tengah Laut Satu-Satunya di Indonesia

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Jumat, 15 Mei 2026 06:01 WIB
Kelenteng Timbul, kelenteng unik yang berada di tengah laut Kubu Raya, menjadi destinasi wisata religi. (Ocsya Ade CP)
Foto: Kelenteng unik yang berada di tengah laut Kubu Raya, menjadi destinasi wisata religi. (Ocsya Ade CP)
Kubu Raya -

Di tengah hamparan laut Kabupaten Kubu Raya, berdiri sebuah kelenteng unik yang seolah mengapung di atas air. Namanya Xiao Yi Shen Tang atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kelenteng Timbul maupun Pekong Laut.

Lokasinya berada sekitar lima kilometer dari daratan Muara Kakap dan hanya bisa dijangkau menggunakan perahu klotok. Kelenteng ini berdiri sendiri, tidak ada bangunan lain di sekitarnya, hanya suara ombak, tiang-tiang kayu ulin, dan langit luas yang mengelilinginya.

Pekong Laut menjadi ikon budaya Kubu Raya yang sangat khas. Bahkan, Xiao Yi Shen Tang disebut sebagai satu-satunya kelenteng di Indonesia yang berdiri di tengah laut lepas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada malam hari, cahaya dari bangunan tersebut menjadi penunjuk arah bagi nelayan yang hendak memasuki muara Sungai Kakap. Lampu penerangannya dinyalakan menggunakan mesin diesel sehingga dapat terlihat dari kejauhan di tengah gelapnya laut.

Dibangun Gotong Royong di Tengah Laut

Kelenteng Xiao Yi Shen Tang atau Kelenteng Timbul di tengah laut Kubu Raya.Kelenteng Xiao Yi Shen Tang atau Kelenteng Timbul di tengah laut Kubu Raya. Foto: Dok. Istimewa (wihara.org)

Dilansir dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kubu Raya, Kelenteng Xiao Yi Shen Tang dibangun pada tahun 1969 oleh masyarakat Tionghoa di kawasan Sungai Kakap. Material bangunan seperti kayu ulin dan perlengkapan lainnya dibawa secara bergiliran menggunakan perahu.

Pembangunannya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada empat Jenderal Laut atau dewa pelindung yang dipercaya mendampingi para nelayan saat melaut dan mencari ikan.

Kawasan Sungai Kakap sendiri memang dikenal sebagai salah satu permukiman masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat. Sebagian besar penduduk keturunan Tionghoa di wilayah ini berasal dari suku Tiociu dan Hakka atau Khek.

Sejak pertama kali dibangun, kelenteng ini menjadi tempat ibadah sekaligus tempat persinggahan para nelayan. Hingga saat ini pun, Pekong Laut masih meriah dengan berbagai tradisi, terutama saat perayaan Imlek dan hari-hari besar keagamaan.

Arsitektur Khas Tionghoa

Kelenteng Timbul, kelenteng unik yang berada di tengah laut Kubu Raya, menjadi destinasi wisata religi. (Istimewa)Kelenteng Timbul atau Xiao Yi Shen Tang, kelenteng unik yang berada di tengah laut Kubu Raya, menjadi destinasi wisata religi. (Istimewa)

Dari sisi arsitektur, Xiao Yi Shen Tang memiliki bentuk yang sangat khas. Bangunan utama berukuran sekitar 20 x 20 meter dan menghadap ke arah timur.

Seluruh strukturnya dibuat menggunakan kayu belian atau kayu ulin yang terkenal sangat kuat dan tahan terhadap air laut. Karena itulah bangunan ini mampu bertahan puluhan tahun di tengah terpaan ombak dan angin laut.

Warna bangunannya juga mencolok. Atap merah dipadukan dengan dinding kayu bercat biru, warna yang kontras dan mudah dikenali dari kejauhan. Kelenteng ini terdiri atas tiga bagian bangunan dengan atap melengkung khas arsitektur Tionghoa.

Pada bagian depan terdapat ornamen sepasang burung phoenix atau fenghuang. Dalam filosofi Tionghoa, phoenix melambangkan elemen Yin, yaitu simbol kelembutan, kebajikan, kerendahan hati, dan kesopanan.

Sementara di bagian belakang terdapat sepasang naga yang mengapit mutiara. Naga di sini dipercaya melambangkan kekuatan, keberuntungan, dan energi Yang, sedangkan mutiara berarti kesehatan serta kesejahteraan.

Tidak hanya itu, pintu masuk kelenteng juga dijaga dua figur penjaga legendaris Qin Qiong dan Yuchi Gong. Di dalamnya terdapat altar utama untuk Guan Gong, dewa yang dihormati karena keberanian, kesetiaan, dan kejujurannya.

Kelenteng ini juga dilengkapi fasilitas sederhana untuk tamu dan peziarah. Di sisi kiri terdapat tempat tidur susun bagi pengunjung yang ingin menginap, sementara sisi kanan difungsikan sebagai dapur dan toilet.

Perjalanan Menuju Pekong Laut

Perjalanan menuju Xiao Yi Shen Tang menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Pengunjung biasanya menaiki perahu klotok dari Muara Kakap.

Selama perjalanan, wisatawan akan melewati kampung nelayan, rumah-rumah panggung, hingga akhirnya memasuki perairan Selat Karimata.

Pagi hari adalah waktu terbaik untuk berkunjung karena ombak relatif lebih tenang. Setelah siang, gelombang laut biasanya mulai besar sehingga perjalanan menjadi lebih menantang.

Dari kejauhan, tiga bubungan atap merah kelenteng perlahan terlihat muncul di tengah laut. Pemandangan inilah yang membuat banyak orang menyebutnya sebagai Kelenteng Timbul.

Kisah Slamet, Penjaga Muslim di Kelenteng Tengah Laut

Slamet, seorang muslim penjaga pekong di tengah laut Kubu Raya.Slamet, seorang muslim penjaga pekong di tengah laut Kubu Raya. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan

Salah satu cerita paling menarik dari Xiao Yi Shen Tang adalah sosok Slamet, pria muslim yang telah menjaga kelenteng ini selama hampir 30 tahun. Meski berbeda keyakinan, ia tetap merawat dan menjaga tempat ibadah tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Setiap pagi Slamet datang menggunakan perahu menuju kelenteng, lalu pulang menjelang sore. Ia menyambut pengunjung, menjaga kebersihan bangunan, hingga membantu wisatawan yang datang beribadah maupun sekadar berkunjung.

Hal ini yang membuat Xiao Yi Shen Tang bukan hanya menarik dari sisi arsitektur, tetapi juga punya nilai sosial dan budaya yang kuat.

Kelenteng ini menyimpan cerita bahwa keragaman dapat tumbuh harmonis, bahkan di tempat terpencil dan sederhana sekalipun.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads